Naya menyerahkan beda persegi panjang itu, mengulurkannya ke arah sang Ayah untuk beliau terima. Tak ada sepatah katapun yang Naya keluarkan sebelumnya, setelah mereka duduk di salah satu warung makan di pinggir jalan yang tidak jauh dari lokasi proyek. Sebenarnya Krist tentu ingin membawa calon mertuanya itu bicara di tempat yang lebih baik. Sayangnya Alan menolak, pria itu beralasan ia tidak ingin pergi terlalu jauh dari sana karena ini masih jam kerja, dan meski Krist bilang dirinya sudah dibebaskan dengan pekerjaan selama satu jam pun pria itu tetap merasa tidak enak meninggalkan pekerjaannya. “Naya ini…” “Surat undangan, pernikahanku dengan Mas Krist seminggu lagi.” Pria di hadapannya itu menatap Naya dengan sorot terkejut, lagi, bukan hanya ketika melihat putrinya ada di hadapann

