Tangan Naya rasanya dingin, tapi anehnya sejak tadi tak henti mengeluarkan keringat yang membuat beberapa kali Naya harus menyekanya dengan tissue sebelum seseorang mengulurkan sapu tangannya untuk Naya. “Jangan seka keringatnya dengan gaun pengantin yang kamu pakai. Walau itu sudah dibayar cash sama Krist, tetap aja sayang dan jangan merusaknya.” Naya mendongakan kepalanya dari objek sapu tangan yang lebih dulu ditangkapnya beberapa detik lalu. “Mbak Lia.” “Nggak lucu kalau gaunnya basah di satu sisi karena keringat yang kamu seka di bagian tertentu itu, kan?” Meski terdengar seperti sebuah sindiran atau kalimat sinis, tapi yang Lia katakan suatu hal yang benar, jadi Naya tidak bisa menolak atau membantah ucapannya. Lagipula, sebagai sosok yang menciptakan gaun itu, meski seperti yang

