“Apa lagi?” Naya memasang wajah risih—yang sebenarnya hanya kedok untuk menutupi rasa malunya karena sudah melakukan tindak tidak senonoh di wilayah publik seperti barusan. Ada apa dengannya? Hantu macam apa yang merasukinya tadi sampai berani melakukan hal semacam itu? Ya Tuhan… Naya meringis, mengutuki dirinya dalam hati. “Apa itu?” “Huh?” “Yang barusan itu apa?” Dahi Naya berkerut, Krist memang menatapnya, tapi entah mengapa pandangannya terasa kosong dan pikirannya entah melayang ke mana. “Apa… apa?” “Itu yang barusan, kamu ngapain?” “Eh?” Apa pria ini memang bermaksud mempermalukan Naya? Bagaimana bisa Krist mempertanyakan apa yang baru saja Naya lakukan beberapa saat lalu. “Kalau cuma segitu doang nggak berasa lah, kalau mau yang serius—” Krist menaruh satu telapak tangannya

