BAB 5

741 Kata
“Bangun,” Luna menyibak tirai jendela, sinar matahari tembus ke kamar melalui jendela membuat Shawn—mau tidak mau silau dan mengucek matanya. Wajahnya bercahaya karena terpaan sinar matahari. Dia mengerang kesal.             “Bangun, Tuan Muda. Sudah pagi, lho.” Luna menyilangkan kedua tangannya di atas perut seraya menggeleng kesal.             Shawn menyahut dengan mengerang dan kembali memejamkan matanya. Kantor Shawn dan kantor Luna berbeda. Kantor Shawn adalah induk dari kantor Luna. Luna bekerja di lini perusahaan Shawn. Dan pria itu tidak selayaknya mendapatkan perlakuan yang seakan-akan dia bukan seorang bos.             Luna merasa usahanya membangunkan Shawn sia-sia. “Presdir macam apa dia?” gerutunya seraya melangkah keluar.             “Shawn belum bangun ya?” Kathleen menguap lebar sembari mendekati Luna.             Luna memutar bola mata jengah. “Dia itu pangeran salju. Dia akan bangun kalau ada seorang putri yang menciumnya.” Mata Kathleen berkilat-kilat riang. “Kau menciumnya? Mencium bibirnya?” tanyanya berbinar. Yup, Luna sekarang benar-benar meyakini bahwa sahabatnya adalah alumni rumah sakit jiwa akibat overdosis ciuman. “Aku bisa sinting tinggal bersama kau dan Shawn.” Katanya sebal. “Ya ampun, kau sudah sinting sejak bertemu denganku.” Kemudian Kathleen tertawa terbahak. “Ngomong-ngomong Shawn tadi malam sudah menceritakan banyak hal.” Kathleen mengambil sebuah apel dan menggigitnya riang. Sebelah alis Luna terangkat. “Cerita apa?” tatapan interogasi Luna yang tajam membuat Kathleen bergidik ngeri. “Tentang kau.” Seketika Shawn yang berdiri dengan wajah kusut khas pria yang baru bangun menjadi pusat perhatian dua wanita itu. Luna menatapnya sinis sekaligus tajam. Di antara semua wanita yang pernah Shawn kencani tidak ada yang pernah menatapnya seperti tatapan Luna. Tatapan yang seperti berasal dari dasar lautan. Tatapan gelap namun indah. Sangat indah dengan semua makhluk di dalamnya. Shawn berjalan mendekati Luna dan secara tiba-tiba dia mencium bibir Luna begitu saja. Luna terperangah oleh ciuma itu. Dia menahan napas. Kathleen melongo takjub. Shawn tersenyum riang. Okay, Shawn memang terbiasa mencium wanita, tapi Luna jelas tidak menyukai itu meski dadanya berdesir saat merasakan ciuman singkat itu. “Apa yang kau lakukan?” tanya Luna tak percaya dengan—bibir Shawn telah menyentuh bibirnya. “Menciummu.” Shawn tampak santai dan seulas senyum menyebalkan menghiasi wajah tampannya. Ralat. Itu bukan senyuman itu seringai kemenangan. Luna salah tingkah. Wajahnya merona seperti remaja yang baru merasakan ciuman pertama. “Tidak salah kan Kath kalau aku mencium calon istriku?” Shawn menatap Kathleen. Senyum Kath mengembang lebar. Mengangguk-ngagguk setuju. Aneh, Luna yang dicium tapi Kath yang tampak bersemangat dan senang seolah dia baru saja memenangkan tiket undian menonton konser Justin Bieber. “Ciuman di pagi hari itu sama dengan suntikan 1000 mg vitamin C.” Ujar Kath lalu terkekeh. Luna menatap Kath tajam dan sekilas dia menatap pria paling aneh dan paling pecaya diri akan kedashyatan ciumannya sebelum dia melesat ke dapur. “Pagi yang cerah, Shawn.” Kata Kath dengan cengiran tidak jelas. “Dia tidak menanggapi ciumanku.” Shawn tampak sedikit kecewa. “Walaupun Bradd Pitt yang menciumnya, dia tetap tidak akan membalas ciuman Bradd karena dia adalah Luna Smith. Dia besar di Indonesia dan memilih menetap di kampung halaman ayahnya setelah ayah dan ibunya bercerai.” “Dia sok jual mahal seperti kebanyakan wanita asia lainnya. Tapi, aku suka.” Dia menoleh santai pada Kathleen. “Ya, itu tantangan baru. Dia tidak sepenuhnya Asia, Shawn. Setengahnya adalah Inggris. Oh ya, kenapa Luna menyetujui pernikahan denganmu? Mom dan Dad-nya bercerai dan Luna trauma untuk menjalin hubungan berkomitmen seperti menikah.” Dahi Shawn mnegernyit. Dia mencoba mencerna, berpikir dan membayangkan diri menjadi Luna. Orang tua bercerai dan trauma. Apakah itu tidak berlebihan untuk takut menikah karena orang tuanya yang bercerai. Bukankah perpisahan adalah hal yang identik dengan pertemuan? “Bukan masalah karena perceraiannya, Shawn.” Ucap Kath seakan membaca isi pikiran Shawn. Shawn terkesiap. Kathleen menghela napas. “Tapi karena penyebab perceraian orang tuanya. Sebelum dia pindah ke London, dia mengalami masa-masa buruk di Indonesia dan dengan tekadnya dia memilih tinggal di London bersama ayahnya.” Shawn memandang Kath dengan ekspresi tegang yang dicampuri kengerian. “Apa penyebabnya?” “Aku tidak berani mengatakannya. Ini rahasia Luna.” Kata Kath seraya mengedipkan sebelah matanya. “Sarapan sudah jadi... yang belum mandi dipersilakan mandi!” teriak Luna dari dalam dapur. “Cepat sekali.” Shawn terlihat heran. “Dia sudah masak sebelum kau bangun, Shawn.”                                                                                                       Shawn tersenyum dan dengan gerakan jaring-jaring spiderman Shawn melesat ke kamar mandi. Mandi adalah peraturan dari Luna jika seseorang ingin merasakan masakannya. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN