24. Bambu Berasap

2334 Kata

 Cuaca cerah dan burung berkicau riang. Ingin sekali melihat ikan melompat-lompat. Yaya tidak bisa melihat satu ikan pun. Masih lama untuk sampai ke desa seberang. Perahunya berjalan sangat lambat.  "Tuan, tolong dipercepat. Kami ingin segera makan di sana. Perutku lapar sekali." kata Ian memukul perutnya.  "Minum saja air sungai nanti kenyang sendiri, haha," canda Yaya.  Ian menghampiri Yaya, "Kemarin malam kau hilang kemana? Kenapa tiba-tiba bersama Zhani? Kami lelah mencarimu."  Yaya meringis, "Lupakan saja. Yang penting kita bebas sekarang. Selama Yang Mulia tau kebenarannya, kita tidak perlu lagi memikirkan penjualan anak-anak itu. Pasti dia akan mengusut tuntas."  Ian mengangguk, "Benar. Kita bisa melanjutkan perjalanan."  Yaya tersenyum manis kembali menatap air sungai ya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN