MASIH KECIL SUDAH JATUH CINTA.

1385 Kata
Icha yang sedang serius membaca dikejutkan oleh suara ponselnya. Icha meraih ponselnya lalu melihat pesan dari Andi. Kalau pelajaran Biologi sudah tidak kosong lagi. Icha mendengus kesal.   “Kenapa kamu mendengus kesal?” tanya Rani yang serius.   “Kamu tahu guru biologi kita namanya Mr. Bayu,” jawab Icha.   “Berarti pria,” celetuk Rani.   “Kalau pria kita enggak bisa ajak diskusi tentang alat reproduksi wanita dan juga pria,” kesal Icha.   “Apakah itu benar?” tanya Erlan.   “Ya itu benar,” jawab Icha.   Rani menggelengkan kepalanya dan terdiam. Yang dikatakan Icha benar. Meskipun kelas 2 IPA 3 anak-anaknya rusuh. Namun mereka mengetahui secara mendetail soal reproduksi manusia. Dan Mrs. Amel sangat sabar meladeni pertanyaan-pertanyaan mereka yang sangat aneh itu.   Bagaimana dengan Bayu yang menjadi guru dadakan? Apakah Bayu akan menjelaskan semuanya tentang reproduksi. Entahlah kita lihat nanti. Seorang pembisnis yang tahunya tentang ilmu perekonomian mendadak mengajar biologi.   Tap... Tap.... Tap...   Terdengar suara sepatu yang bertabrakan dengan marmer. Semakin lama suara sepatu itu semakin mendekat. Perlahan Bayu mulai mendekat dan semakin mendekat. Akhirnya Bayu memegang knop pintu.   Ceklek.   Pintu terbuka.   Bayu melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Sedangkan para murid yang sudah duduk masing-masing hanya tertegun. Kecuali Rani dan Icha yang sedang asyik membaca buku biologi.   “Apakah dia guruku?” tanya mereka serempak.   Bayu yang mendengar apa kata mereka langsung menaruh buku dengan keras. Bayu sangat emosi terhadap mereka yang tidak menghormati sang guru.   “Siapakah ketua kelas di sini?” tanya Bayu.   Mereka serempak menunjuk Rani. Lia yang tepat berada di samping Rani menepuk pundaknya hingga kedengaran...   Bough......   Rani yang sedang membaca buku terkejut. Lalu Rani melihat Lia dengan aneh, “Ada apa?”   “Ada mister,” jawab Lia.   Rani yang baru sadar berdiri dan berteriak.   “Attention, please. Before entering the lesson everyone stood up. Say hello to Mr. Xxx. Good morning.”   “Good Morning!!!” jawab mereka serempak.   “Good Morning to you too,” sahut Bayu.   “Prayer begins. Prayer finished. Please sit back,” perintah Rani.   Rani dan Icha tak sengaja melihat Bayu yang sedang berdiri sambil membawa spidol. Bayu meminta mereka mengenalkan diri satu-satu mulai dari belakang. Murid di kelas itu hanya berjumlah 24 orang. Sehingga bisa mengenali wajah badung mereka. Setelah mengenalkan diri satu-satu Bayu mulai melakukan pengenalan diri.   Sementara Icha mendongakkan kepalanya lalu melihat Bayu. Icha terkejut sekali mengapa sang kakak bisa berada di depannya saat ini. Rani yang sedang mempelajari sistem peredaran darah manusia tidak mempedulikannya.   “Ran,” panggil Icha.   “Apa sih?” lirih Rani.   “Coba dech kamu lihat guru biologi kita yang baru,” pinta Icha.   Lalu Rani melihat Bayu yang berdiri di depan papan tulis. Tak sengaja netra mereka bertemu. Entah kenapa jantungnya berdetak kencang.   “Meskipun Rani tidak memakai make up. Wajahnya lembut bagai sutra,” batin Bayu.   Plakkkkk.   Sebuah tangan mendarat di pundak Rani. Sontak saja Rani kaget karena yang memukul adalah Icha.   “Apaan sih?” tanya Rani yang kesal.   “Enggak apa-apa,” lirih Icha.   Setelah itu Bayu mulai menjelaskan semuanya tentang sistem peredaran darah secara jelas. Selama pelajaran berlangsung seluruh murid dibuat terpukau oleh Bayu. Terkadang mereka juga berdebat apa yang menurut mereka benar.   Tet.... Tet... Tet...   Suara bel istirahat berbunyi. Sebelum mereka keluar Bayu memberikan tugas untuk mencatat semua organ tubuh manusia dan fungsinya. Bayu akhirnya pergi dari kelas.   “Bagaimana?” tanya Icha.   “Apanya yang bagaimana?” tanya Rani balik.   “Dia kakakku,” jawab Icha.   “Apa!!!” pekik Rani. “Dia kakakmu?”   “Ya dia kakakku,” jawab Icha yang mengangguk.   Memori Rani berputar pada hari Sabtu kemarin. Rani teringat akan ulahnya yang berlari agar sampai rumah. Bukannya sampai ke rumah malah terjadi tabrakan maut antara dirinya dan juga Bayu.   “Kemarin aku menabrak kakakmu. Kakakmu sangat ketus sekali. Aku tidak sengaja menabraknya lalu dia sangat marah sekali,” imbuh Rani.   “Terus... Bagaimana endingnya?” tanya Icha.   “Aku kasih bunga biar tidak marah,” jawab Rani.   “Apakah dia marah lagi sama kamu?” tanya Icha.   “Enggak tahu. Setelah aku ngasih bunga. Aku langsung pulang,” jawab Rani.   “Kamu tahu yang kamu tabrak adalah seorang ketua mafia. Syukurlah kak Bayu bisa menahan emosinya,” batin Rani.   “Semoga Daffa melupakan janjinya,” ucap Icha.   “Semoga saja,” sahut Rani.   Beberapa saat kemudian Daffa datang dengan membawa coklat. Namun di belakang Daffa ada Andi. Saat ingin memasuki ruangan, Andi dengan cepat menghempaskan Daffa karena ada pemberitahuan yang penting buat Rani dan Icha.   Wussshhhh!!!   Seperti itulah Andi masuk. Terkadang seperti angin yang tidak kelihatan. Entah Andi memakai ilmu apa? Ilmu Futon-Rassen Shuriken milik Naruto, atau angin p****g beliung, atau angin apalah. Itulah Andi Sebastian. Memang pria itu sangat unik sekali.   Daffa yang hampir masuk sangat terkejut ketika terkena hempasan. Daffa hampir saja terjatuh ke lantai karena tidak bisa menahan lajunya angin yang kencang.   “Mr. Andi... Kalau berlari sudah kaya angin. Enggak bisa ditebak sama sekali. Pak Andi memang cocok jadi seorang anggota ninja,” gerutu Daffa.   Daffa belum mengetahui kalau Andi ternyata seorang ninja yang terbaik di White Eragon. Dibalik diamnya itu Andi mempunyai jiwa psycho. Bagi siapa saja yang sudah mengganggu dirinya. Mau tidak mau pisau Andi yang berbicara. Tapi Andi masih mempunyai sifat yang sangat baik sekali. Andi masih bisa memperhitungkan semua kesalahan. Jika ringan Andi bisa memaafkannya. Jika berat jangan harap bisa lolos dari sini.   Melihat Daffa yang hampir jatuh, Icha dan Rani yang menggelengkan kepalanya. Rani langsung memandang wajah tampan Andi, “Ada apa mister?”   “Kita ke lab,” ajak Andi.   Rani mengangguk tanda setuju. Andi baru sadar kalau ada Daffa yang masih berada di pintu. Daffa mematung dengan sempurna.   “Eh... Daffa... Ada apa ya?” tanya Andi.   “Enggak ada apa-apa. Aku mau ngasih coklat ke Rani,” jawab Daffa yang wajahnya bersemu merah.   Andi yang melihat wajah Daffa bersemu kemerahan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa seorang bocah yang umumnya belum menginjak usia tujuh belas tahun sudah merasakan jatuh cinta.   “Masih kecil sudah merasakan jatuh cinta,” rutuk Andi dalam hati.   “Enggak boleh!!!” ketus Icha ke Daffa.   “Bawa semua tasnya. Nanti kalian harus berada di lab sampai sore hari!” titah Andi.   “Siap mister,” jawab mereka serempak.   “Rani,” panggil Daffa.   Lalu Rani menoleh dan melihat Daffa, “Ada apa?”   “Ini coklat buat kamu,” jawab Daffa yang menyodorkan coklatnya.   Rani yang tidak ingin mengecewakan Daffa segera meraih coklatnya, “Terima kasih.”   “Apakah kamu tidak ingin beristirahat bersamaku?” tanya Daffa yang memelas.   “Maaf. Aku harus pergi ke lab,” jawab Rani. “Lain kali saja.”   “Baiklah,” ucap Daffa yang segera meninggalkan mereka.   Andi dan Icha merasa curiga terhadap Daffa. Andi tahu siapa itu Daffa. Dibalik sifat tampannya Daffa adalah seorang yang berkepribadian ganda. Terkadang baik sama orang. Namun dibalik kebaikannya ada yang disembunyikan.   Sesampainya di lab ada sekumpulan para guru yang sudah berkumpul di sana termasuk yang punya juga. Rani terkejut sekali karena melihat ada dua Bayu. Jujur saja Rani belum paham kalau Bayu mempunyai kembaran yang sama persis. Seluruh teman-temannya tidak bisa membedakan mana Bayu dan mana Fendy.   “Kok Mr. Bayu ada dua ya?” tanya Rani yang terkejut.   “Ya itu benar. Mereka adalah kakakku. Yang satu berambut gondrong itu namanya Mr. Fendy,” jelas Icha.   Rani hanya mengangguk saja. Rani tidak begitu paham dengan kakak kandungnya Icha. Sementara itu Fendy juga jarang muncul di hadapan mereka. Karena kesibukan yang sangat kuat biasa.   “Apakah mereka berdua bisa menciptakan sebuah robot?” tanya Fendy.   “Jangankan robot. Anak saja kami bisa buat,” celetuk Icha.   Bayu hanya menggelengkan kepalanya mendengar celetukan Icha. Sementara Fendy mau bagaimana lagi? Fendy memang sudah tahu kalau Icha ngomong asal nyeplos. Akhirnya Fendy mendekati Rani dan Icha. Dengan sorot mata yang tajam Fendy segera mendekati Icha sambil berbisik, “Awas saja kamu melakukannya. Kalau sampai terjadi kakak akan gantung kamu di gedung Asco!!!”   Meskipun Fendy suka mengancam Icha. Tapi Fendy sangat menyayangi Icha. Sangking sayangnya Icha tidak pernah kekurangan uang. Fendy sangat loyal sekali terhadap Icha.   “Baik kak,” jawab Icha yang ketakutan mendapat bisikan dari Fendy.   “Aku memang sudah mengajak mereka. Mereka mempunyai bakat yang sangat ruaarrr biasa. Bisa membuat robot,” sahut Andi.   “Apakah kita akan membuat robot lagi?” tanya Rani.        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN