“Mas, pelan-pelan!” Zian dan Kakek Adhiatma mengernyitkan dahi saat Elara terbangun lalu mengucapkan hal itu. Elara mengusap matanya lalu mengatakan hal yang sama lagi. “Mas, pelan!” teriak Elara. “Pelan apanya, Sayang?” tanya Zian. “Laju mobilnya pelanin! Aku ingin muntah.” Zian menjelaskan jika mereka sedang ada di jalan tol dan tidak mungkin melajukan mobil dengan pelan. Elara terus saja mengomel membuat Zian tidak enak sendiri dengan sang tuan. Sang tuan tertawa melihat Zian yang kewalahan menghadapi sang istri yang tengah hamil muda. Tangan Zian meraih kantong plastik yang sudah ia siapkan lalu menyerahkannya pada Elara. Elara melemparnya dengan kesal membuat Zian semakin bingung. “Cari rest area, Zi! Kasian istrimu.” “Anda akan terlambat, tuan.” “Tak apa, kasian istrimu.” Z

