Zian berkernyit saat melihat barang bawaan Elara yang sangat banyak untuk ikut bersamanya bekerja. Ada bekal makan, snack, buah-buahan, obat-obatan, selimut, boneka kesayangannya serta baju ganti. Tidak seperti mendiang istrinya dulu saat hamil hanya membawa tas kecil serta berpakaian daster saja. Elara justru seperti akan berbulan madu lagi saja. "Sayang, kita bukan ingin rekreasi. Mas kerja dan perkiraan sampai rumah petang nanti." "Aku gak mau kelaparan saat perjalanan. Mas ingin bayi kita kelaparan?" Zian menghela nafas panjang, jika ia melanjutkan perdebatan dengan Elara maka ia akan semakin membuang waktu untuk berangkat bekerja. "Yasudah, ayo kita berangkat!" Elara masuk ke dalam mobil sambil memeluk boneka beruangnya. Zian sangat tidak enak hati jika menegur ibu hamil yang

