Riuh tepuk tangan menggaung dalam ballroom. Air mata kebahagiaan terlihat di sudut mata Zahra saat melakukan prosesi sungkeman, begitu pun wanita berdarah timur tengah itu. Dia tak bisa membendung tangis saat mengelus kepala gadisnya, yang kini menjadi milik orang lain. "Zahra, berbaktilah kepada suamimu. Hormati dia! Surgamu sekarang ada di bawah telapak kakinya, Nak." "Iya, Ummi. Insya Allah." "Nak, Kenzo. Aku titipkan Zahra kepadamu. Jagalah dia! Jadilah imam dan menuntun jalannya menuju surganya Allah. Bahagiakanlah istrimu! Karena kebahagiaannya adalah surgamu." Omong kosong! batin Kenzo. Pria tak punya hati itu, bisakah dia mengerti arti menjaga dan membahagiakan? Sementara yang dia tahu hanya bagaimana cara menggores lara dan mencabut nyawa. Tak ada cinta di tangannya

