Kenzo membuka mata perlahan. Dia merasa telah lama tak sadarkan diri. Ada denyut yang terasa di belakang kepalanya. Kenzo memercing dan mencoba untuk memutar kembali ingatannya. Dilihatnya langit-langit, tak sama seperti tempat terakhirnya menghabiskan wantu bersama Zahra. Zahra, di mana dia? Kenzo berusaha menegakkan punggungnya perlahan. Sangat tidak nyaman. Terlalu lama dia terbaring di atas ranjang. Netranya menelusur ruang yang tampak asing. Ruang sempit berukuran 3 x 3 meter dengan jendela kecil berdaun kayu. Sebuah almari usang berada di sudut ruang. Pintu kayu di sisi ranjang pun tampak tak semewah miliknya. "Ah, di mana ini?" Lirih terdengar lantunan ayat suci mengalun merdu berbarengan. Suara laki-laki. Kenzo melangkah perlahan menuju pintu. Berusaha untuk membuka,

