"Jadi, di antara kita berlima cuma lo aja nih, yang belom nikah, Mi?" tanya Angel disambung dengan tawa mengejek. Bola matanya memutar ke segala arah seraya tersenyum sumir. Tak dihiraukannya kode mata dari Citra yang duduk di sebelah kirinya untuk melarangnya bicara, sedangkan Fitri memilih diam. Sebenarnya dalam hati mereka pun ikut menyayangkan sikap Angel pada Miya. Terlebih setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
Miya yang duduk tepat di depan Angel terlihat menarik napas dalam. Alih-alih menangis, Miya memilih menarik bibir mungilnya ke atas, kemudian memamerkan senyuman termanis yang ia miliki.
"Jel, udahlah. Lagian kita semua juga tahu Miya dulu hampir menikah. Yah, hanya karena tipu daya dari seseorang aja jadi semuanya gagal." Gea sahabat Miya yang lain mencoba membelanya tepat di saat Miya akan membuka mulut.
"Tipu daya seseorang? Maksud lo, Gue?"
"Heh, Gue nggak sebut nama, ya, tapi kalau lo ngerasa ... ya, syukur, deh!"
"Gea!" Angel berdiri seraya memukul keras meja berbentuk oval itu. Membuat mereka yang duduk di sekelilingnya terkena cipratan air minum yang tumpah.
"Kenapa? Lo mau nyangkal?" tantang Gea takmau kalah. Sambil melipat tangan, ia menatap tajam ke bola mata hitam milik Angel.
"Ge, Jel, udah-udah, nggak enak dilihat orang banyak. Kalian nggak malu apa?" Miya berusaha menenangkan kedua sahabatnya dibantu Citra dan Fitri yang memaksa keduanya untuk kembali duduk.
"Denger, ya, Ge. Gue itu nanya baik-baik sama Miya. Kenapa lo yang sewot? Miyanya juga nggak kenapa-napa! Lagian kalau soal pasangan, dari dulu gue itu emang lebih unggul ke mana-mana, kok, dibanding Miya! Buktinya cowok terpopuler di fakultas kita aja jadi suami gue!"
"Iya, karena lo rebut dia dari Miya!"
"Sia**n lo! Apa jangan-jangan lo masih mengharapkan Mas Ahmad, ya, Mi?"
Miya menggeleng kuat-kuat.
"Gea, Angel, cukup!" Miya kembali menarik napas sedalam-dalamnya. Ia kemudian dengan sigap merangkul bahu Gea yang duduk di sisi kirinya sebelum gadis itu kembali menjawab Angel.
"Gue nggak pa-pa, Ge."
Gea menurut dan menurunkan tingkat emosinya. Ia memang termasuk orang yang gampang emosi, tapi mudah juga untuk kembali baik seperti biasa, terlebih terhadap Angel.
"Iya, nih, Jel. Gue belom nikah, belom ada yang ngelamar," jawab Miya disambung tawa hambar.
"Udah-udah, nggak usah dibahas lagilah yang udah lewat. Mending kita ngegosip. Bisa bikin awet muda, iya nggak?" Citra kembali mengambil alih suasana. Salah satu andalan gadis itu jika di antara sahabatnya ada yang tidak akur. Hampir bisa dipastikan ia selalu berhasil.
"Gibah mulu emang lu orang ye! Nambah masalah hidup itu namanya, awet muda enggak, dosa iya."
"Ya elah, Fit, becanda Gue."
Fitri yang dipanggil Bu Ustazah sontak tertawa diikuti yang lainnya. Beberapa menit ke depan, mereka hanyut dalam pembicaraan mengenai berita artis yang sedang viral dan pada akhirnya menyebut nama Stefan Wiguna, si selebgram yang sedang naik daun dan kini merambah ke dunia seni peran.
"Katanya si Stefan sekarang lagi deket sama Verni Ismail, ya. Ih, mau-maunya. Cakepan juga gue daripada Verni. Belom kenal gue aja, tuh, si Stefan," oceh Angel.
"Mulai, deh, mulai. Tapi gue lihat-lihat, emang cakepan lo, si, Jel."
"Tuh, kan, Citra aja mengakui."
"Cakepan lo dikiiiit, banyakan Verni," sambung Citra disambung tawa dari yang lain.
"Asem, lo, Cit! Coba aja si Stefan ketemu gue, pasti dia langsung nembak."
"Woi, mimpi siang hari bolong. Kak Ahmad mau lo kemanain!"
Serempak mereka berempat melempari Angel dengan serpihan roti yang sedang mereka nikmati.
Miya membatin
"Gimana reaksi Angel kalau tahu gue bakal dijodohin kakek sama si Stefan, ya?"
Angel Carlita. Di antara mereka berlima dialah yang paling cantik, manja, kekanakan, egois, dan mau menang sendiri. Karena itu, ia paling sering bersitegang dengan Gea Yulita yang memiliki sifat sebelas-dua belas dengan Angel. Namun, walaupun Gea keras kepala dan egois ia selalu terdepan dalam membela sahabatnya yang sedang kesusahan. Gealah yang paling geram saat tahu kalau Miya malah merelakan Ahmad menikah dengan Angel.
Si mungil Citra Adinda adalah yang paling ceria, Fitri Khairana si bijak bestari dan Rhamiya si anak baik karena selalu legowo dalam menghadapi semua kelakuan minus sahabatnya. Sifat Miya yang sabar dan tak tegaanlah yang sering kali dimanfaatkan oleh Angel untuk mendapatkan keinginannya.
Miya memang tak secantik Angel, tapi Miyalah yang lebih mendapatkan perhatian di kampus. Karena selain nilai-nilainya yang unggul di hampir semua mata kuliah, ia juga baik, ramah dan tidak neko-neko dalam bersikap. Hampir semua mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Jayabaya ingin menjadi teman dekat seorang Miya, dan di antara semua kenalan Miya, ada satu orang cowok yang tampak berbeda di mata Miya. Ahmad Fitra. Laki-laki yang menarik perhatiannya sejak ia mencalonkan diri sebagai ketua BEM di Fakultas Hukum. Saat itu Miya yang bertindak sebagai panitia bendahara bahkan memberikan suaranya pada Ahmad karena terpesona saat pemuda itu sedang memaparkan visi misinya.
"Miya, nanti beres kuliah, aku tunggu di sekretariat, ya."
Pagi itu, satu hari setelah panitia pemilihan ketua BEM menetapkannya sebagai pemenang, Ahmad mendekati Miya. Tak upa ia memberi Miya sebuah roti beraroma kopi yang memang dijual di kantin kampus.
"Eh, mau ngapain, Kak? Mau ntraktir?" jawab Miya yang disambung tawa singkat hingga membuat gingsulnya terlihat. Salah satu hal yang juga menjadi daya tarik Miya.
"Bukan, aku mau ngelamar."
Mata Miya membulat.
"Ealah, pake melotot. Ngelamar jadi bendahara aku di BEM. Mau, kan?"
"Oh, kirain mau ngelamar jadi yang lain," batin Miya sambil menunduk malu atas lintasan pikiran yang lewat tanpa permisi di kepalanya.
"Umm, aku tanya sama temen-temenku dulu, ya. Kalau mereka kasih izin, si, aku mau aja."
"Aku ngelamarnya jadi bendahara di BEM dulu, nanti kalau skripsiku udah beres, udah lulus dan dapet kerja, aku naikkin posisi kamu jadi menteri keuangan."
"Kok, menteri keuangan?"
"Iyalah, kan, nanti gajiku buat kamu semua. Kamu atur, deh, buat kebutuhan rumah tangga kita."
Miya kembali tersenyum saat mengingat kejadian waktu ia dan Ahmad masih sama-sama kuliah. Tak dipungkirinya, saat mendengar nama Ahmad disebut oleh Angel tadi masih membuat hatinya menghangat. Degup jantungnya meningkat dan pipinya memerah. Ia masih begitu merindukan sosok lelaki itu. Namun, kini rindunya hanya mampu ia lampiaskan ke udara hingga terbang terbawa angin. Ahmad kini sudah menjadi milik orang lain yang juga sahabat baiknya sendiri.
"Miya!"
Saat Miya baru keluar dari toilet, seorang pria tiba-tiba menarik tangannya.
"Kak Ahmad? Kok, bisa di sini?"
Miya cepat meralat ucapannya.
"B*go!" Miya cepat menepuk-nepuk mulutnya.
"Ya, jelas aja mau jemput Angel," omel Miya dalam hati.
"Ikut aku!"
Tanpa menjawab pertanyaan Miya, Ahmad menarik paksa tangan Miya dan memaksanya masuk ke mobil. Setelahnya ia langsung tancap gas.
Bersambung.