Selamat Membaca. Semoga suka.
Embusan angin yang menyeruak dari alat pendingin mobil, kembali mengangkat memori masa lalu Miya ke permukaan. Andai saja dulu, waktu Angel mengaku telah dihamili oleh Ahmad Miya bersikap egois dan menampik semua pengakuan Angel, mungkin saat ini cerita hidupnya akan berubah. Setelah bersahabat selama kurang lebih sepuluh tahun, ia merasa amat mengenal luar dalam sosok Angel. Sahabat yang telah dikenalnya sejak masih sama-sama duduk di bangku SMU itu memang terkadang tidak enggan melakukan apapun demi mencapai keinginannya. Lagi pula, ia pun yakin sudah cukup mengenal siapa sosok Ahmad Fitra.
Sejak menjalin persahabatan dengan Miya, Angel selalu saja menginginkan apa yang hampir menjadi milik Miya. Tidak terkecuali calon kekasih. Dari kabar terakhir yang Miya dengar, ternyata kabar kehamilan Angel pun hanyalah tipu daya sang sahabat untuk menggagalkan pernikahan Miya dan Ahmad. Termasuk bukti foto saat mereka berdua sedang berada di atas ranjang, itu semua hanyalah rekayasa Angel semata. Karena tanpa setahu Miya, Angel juga mencintai Ahmad. Namun, semua sudah menjadi bubur. Miya sudah terlanjur sakit hati. Ia memutuskan untuk merelakan lelaki itu bersanding dengan Angel walaupun hatinya didera luka yang teramat dalam. Ahmad pun bersedia menikahi Angel dengan sukarela. Meski pada akhirnya hati Miya tak sekuat perkiraannya, saat memutuskan hubungan dengan Ahmad, ia memilih untuk meninggalkan Indonesia.
Air muka Ahmad tampak tegang. Rahangnya terlihat kaku. Matanya sedari tadi fokus ke satu titik sembari memutar kemudi kendaraan roda empat yang ia bawa di atas kecepatan 60 km/jam. Di tengah kota, tentu saja kecepatan seperti itu sudah termasuk sangat cepat.
"Kak Ahmad, kita mau ke mana?"
Sudah kesekian kalinya Miya bertanya, tapi si pemilik jawaban masih enggan membuka mulut. Ia hanya mengatup bibirnya rapat-rapat.
Miya hanya bisa pasrah. Tidak ada gunanya juga ia terus memaksa. Di dalam mobil sedan hitam produksi Negara Jepang keluaran tahun 2020 itu, ia memegang erat pegangan di atas kepala. Deru mesin yang terdengar menggerung terus menghiasi pendengaran gadis itu. Kulitnya semakin mengkerut akibat suhu pendingin mobil yang diputar maksimal.
Setelah kurang lebih satu jam dalam perjalanan, Ahmad menepikan mobil di sebuah rumah makan yang terletak di pinggir kota. Rumah makan yang menyajikan masakan Sunda favorit Miya.
"Yuk, turun, kita udah sampai," ujar Ahmad setelah sekian lama dia membisu.
Miya bergeming. Pandangannya memindai sekitar dengan curiga.
"Tenang, aku cuma mau bicara penting sama kamu. Lagi pula aku bukan penculik."
Ahmad sudah membukakan pintu sisi kiri.
"Kamu mau aku gendong atau mau jalan sendiri?" tanya Ahmad ketika sama sekali tidak melihat pergerakan dari gadis di depannya.
"Eh iya, aku bisa jalan sendiri!" Secepat kilat Miya melepas seatbelt lalu membuka pintu lebih lebar. Ia lalu berlari meninggalkan Ahmad yang masih berdiri di sisi kiri mobil.
Restoran yang disambangi Ahmad merupakan rumah makan khas Sunda bernuansa alam yang sangat nyaman. Saat makan di tempat itu kita serasa tidak sedang berada di kota besar. Kolam ikan super besar dan pohon-pohon rindangnya membuat suasananya makin asri.
Ahmad memilih tempat makan di saung tepi danau yang lebih terkesan pribadi. Pemandangan yang langsung mengarah ke kolam mampu menambah nafsu makan para pengunjung. Berbagai masakan lezat seperti sayur asem, lalapan, ataupun tumis beraneka sayuran hijau, bisa dirasakan di sana. Selain itu ada juga pelayanan khusus. Pelanggan boleh memilih ikan jenis apa yang akan dijadikan santapan langsung dari kolamnya.
"Kamu mau pesan apa, Mi?" tanya Ahmad setelah mereka berdua telah duduk dengan mapan di atas lantai kayu.
"Aku gak laper. Kak. Sebenarnya ngapain Kak Ahmad bawa aku ke sini?" tanya Miya ketus.
Ahmad menghempas napas, berat, keras dan panjang.
"Aku laper, mau makan dulu."
Ia kembali menghiraukan pertanyaan Miya. Tangannya melambai ke arah salah seorang pelayan berseragam hitam putih. Setelah menyebutkan makanan yang dipesan, Ahmad memanjangkan kaki lalu bersandar di salah satu tiang kayu seraya memejamkan mata.
"Kalau nggak ada yang mau dibicarakan, aku pergi!" tukas Miya tidak sabar.
"Kebiasaanmu yang suka pergi tanpa izin belum hilang juga."
Ahmad menarik tangan Miya saat ia baru akan berdiri.
"Seperti dulu waktu seenaknya saja kamu meninggalkanku dan memaksaku menikah dengan Angel." Ahmad menegakkan tubuh. Kini ia duduk berhadapan dengan Miya.
"Kak, kita semua tahu jelas apa yang terjadi saat itu. Kalau Kakak ada di posisiku, apa kakak akan tetap dengan keputusan semula? Menikah dengan seseorang yang sudah menghamili sahabatnya?" jawab Miya takkalah keras dari suara Ahmad. Riak air danau yang menampar-nampar sisi saung seakan ikut menampar keras hingga ke dalam hati. Embusan angin yang bertiup lembut ikut memeluk Miya menyalurkan kesejukan nan menenangkan yang sedang gadis itu butuhkan.
"Tapi itu semua, kan, nggak bener, Mi? Itu cuma fitnah."
"Iya aku tahu, dan aku juga tahu setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya pun, Kak Ahmad masih tetap bersedia menikah dengan Angel," tanggap Miya.
"Itu karena aku sudah terlanjur sakit hati sama kamu, Mi, yang dengan seenaknya aja membatalkan pernikahan kita yang hanya tinggal selangkah lagi. Kamu itu menganggap aku bak sebuah barang yang bisa dialihkan kepemilikannya sesuka hati, tanpa sedikit pun memikirkan perasaanku. Lagi pula saat itu keluargaku juga sudah bersiap akan mengadakan pesta dan sudah mengundang keluarga besar. Apa pernah kamu pikirkan soal itu, Mi?" balas Ahmad tak mau kalah.
Miya menyusut kasar air mata yang sudah turun satu-persatu membentuk parit kecil di wajah putihnya. Jujur sebenarnya ia tidak ingin mengingat kembali peristiwa itu.
"Sebaiknya kita cukupkan sampai sini, Kak. Semua sudah berlalu, tidak ada lagi yang perlu kita bahas. Kak Ahmad kini sudah menikah dengan Angel. Aku mohon, bahagiakan dia dan lupakan semua yang terjadi di antara kita dulu."
Miya kembali bangkit dan bersiap untuk pergi.
"Sampai detik ini, rasa itu masih ada, Mi. Detak jantungku hanya melaju cepat saat aku sedang mengingatmu dan berdekatan denganmu seperti saat ini. Saat mendengar kalau kamu sudah kembali ke Indonesia, hal pertama yang kupikirkan adalah mendapatkanmu kembali seperti dulu."
Leher Miya serasa tercekik. Udara di sekitarnya begitu sulit masuk ke dalam paru-parunya. Seandainya Ahmad tahu, detak jantung Miya pun sudah berfrekuensi tinggi sejak tadi Ahmad menariknya masuk ke dalam mobil. Namun, Miya berusaha bersikap biasa agar Ahmad tidak mengetahuinya.
Tangan Ahmad kembali menahan Miya.
"Miya, kembalilah padaku," tukas Ahmad sehingga membuat bola mata dan mulut gadis itu serupa bentuk.
Bersambung.