Cuma Mau Kamu

1052 Kata
"Gila kamu, Kak!" hardik Miya sembari menyentak kasar tangan Ahmad. Ia lalu berdiri dan bergegas meninggalkan Ahmad begitu saja. Alunan lagu 'ILY 3000' milik penyanyi Stephanie Putri kembali terdengar mengiringi langkah Miya yang lebar-lebar. Miya berhenti sejenak ketika nama Gea terlihat di layar. Sebelum menarik tombol hijau ke atas, Miya menarik napas dalam sambil berharap agar suaranya bisa kembali normal. "Hallo, Ge," jawabnya sambil menyeka sudut mata dengan punggung tangan. "Mi, lo ke mana aja, sih? Langsung pulang? Kok, nggak bilang-bilang?" "Enggak, kok, Ge. Gue masih di jalan." Sekuat apapun Miya membuat suaranya agar terdengar normal, deru napasnya yang pendek-pendek tetap menandakan jika saat itu ia sedang terisak. "Eh, Mi, Mi, lo nangis? Lo kenapa, Mi? Cepet cerita sama gue! Terus sekaran lo di mana?" "Ntar gue chat, ya, Ge. Gue mau cepet-cepet pergi dulu dari sini." Miya mengakhiri panggilan begitu saja. Ia lekas menaiki angkutan umum Bus Trans Kota Tangerang yang kebetulan sedang berhenti di halte depan restoran. Ia berpikir akan terlalu lama jika harus memesan ojek online, khawatir Ahmad akan segera menyusul. Beruntung saat itu penumpang tidak terlalu ramai. Miya bisa menempati kursi di belakang yang bisa menyembunyikan wajah sedihnya dari orang banyak. "Tadi waktu gue ke toilet, gue ketemu Kak Ahmad, Ge. Dia maksa gue masuk mobil dan ngajak gue ke restoran di daerah Bintaro." Gea langsung membaca pesan yang dikirim oleh Miya. Beberapa detik kemudian datang balasan dari Gea. "Apa? Gila! Bisa-bisanya dia bersikap kayak gitu ke lo, Mi! Pantes aja tadi si Angel ngeluh katanya lakinya nggak dateng-dateng. Ditelponin juga nggak bisa." Air mata Miya meluncur lagi. Entah kenapa saat ini ia merasa menyesali keputusan yang dulu telah diambilnya saat menyerahkan lelaki yang begitu ia cintai kepada Angel sang sahabat. Ternyata keputusannya itu pun sangat menyakiti perasaan Ahmad. "Andai aja dulu gue mau mempertahankan Kak Ahmad, mungkin sekarang gue udah jadi wanita yang paling bahagia," pikirannya terus berbicara. Namun, di saat yang bersamaan, Miya diingatkan oleh nasihat sang Nenek waktu itu. "Semua peristiwa yang mendatangi kita merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah, baik yang kita suka maupun tidak. Kita tinggal melakukannya dengan ikhlas. Allah pasti sudah menyiapkan sesuatu terkait kejadian yang sedang kamu alami sekarang. Terima dan jalani! Tidak baik juga berandai-andai terhadap peristiwa yang sudah terjadi karena sama saja artinya kita meragukan ketetapan Allah." Jujur ia merasa sedikit goyah saat tadi Ahmad kembali menyatakan perasaannya. Miya bisa merasakan betapa kata-kata lelaki itu tulus dari cara ia menatap yang setenang gunung. Beruntung Miya masih bisa berpikir jernih. Ahmad bukan lagi pria bebas yang bisa kembali ia harapkan, bahkan memikirkannya saja merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dibenarkan. Sesuatu dalam d**a Miya kembali terasa pedih. Rasa cinta dan rindu yang ia miliki pada Ahmad semakin besar dan mencengkeram dirinya semakin kuat. Di restoran tempatnya dan Miya bersama tadi, Ahmad masih merenung. Saat Miya menghardiknya tadi, nyalinya sedikit ciut, tapi cintanya tidak. Memang begitulah kenyataannya. Bahkan selang beberapa menit setelah Miya pergi, Ahmad masih bermaksud untuk mengejar gadis itu yang sayangnya sudah tak tampak lagi batang hidungnya. Di atas lengangnya bus trans Kota Tangerang, Miya menghela napas panjang dan membuang napasnya keras-keras dengan harapan semua kegalauan yang menyerangnya akan sedikit berkurang. Namun, tetap saja, dadanya bahkan mulai dilingkupi sesak yang menjadi-jadi. Tak langsung pulang, Miya memutuskan untuk berkelana sebentar lagi di jalanan malam Jakarta. Dari halte bus trans Kota Tangerang, ia menyambung naik bus trans Jakarta menuju kota. Ia butuh sesuatu untuk meluapkan perasaannya dan tugu Monaslah yang kini ada dalam pikirannya. Setelah membeli tiket dan melaksanakan Salat Magrib, kaki jenjangnya melangkah menuju bangku taman yang tak jauh dari posisi air mancur. "Untung belum telat." Miya melihat tampilan jam di ponsel. Ia berencana akan menonton pertunjukan air mancur menari yang akan berlangsung sekitar tiga puluh menit ke depan. Suasana Monas di malam Senin itu tidak terlalu ramai dan tidak juga sepi. Di sana-sini masih banyak terlihat muda-mudi berkumpul untuk sekedar menikmati keindahan lampu tugu yang berubah warna tiap detik. "Mi, gue udah di Monas, lagi beli kerak telor deket pintu masuk. Lo di mana?" suara cempreng Gea terdengar di ujung telepon. Sebelum langit berubah sewarna jingga tadi, Miya memang memberi tahu kalau ia ingin ke Monas malam itu. "Beliin gue satu Ge. Laper. Gue di kursi taman sisi barat air mancur, yak. Lo jalan lurus aja dari pintu utama." Takhabis sepuluh menit, Gea muncul dengan jaket kulit kebanggaannya. Jaket yang hampir setiap hari ia bawa ke mana pun berpasangan dengan motor matic kesayangan yang langsung disambut Miya dengan lambaian tangan tinggi-tinggi. "Jadi bilang apa itu si Ahmad? Heran gue, nggak bininya nggak lakinya masih aja gangguin lo." Miya tidak menjawab. Ia asyik menikmati sajian kerak telor yang masih mengeluarkan uap panas. Aroma wangi kelapa parut yang dimasak sedemikian rupa sontak membuat cacing-cacing dalam perut Miya berjingkrak-jingkrak. Kerak telor adalah makanan khas Betawi yang terbuat dari campuran beras ketan, telur bebek, dan kelapa parut sangrai. "Lo laper apa doyan?" Miya tersenyum hingga menampakkan gigi gingsulnya. "Enak banget, ni. Baru kali ini gue nyobain makanan yang rasanya nggak kalah enak sama roti kopi favorit gue, Ge." "Lebay lo! Emang dasarnya lo lagi laper aja." Gea membulatkan mata setelah Miya menceritakan apa yang tadi ia alami bersama Ahmad. "Ahmad ngajak lo balikan? Gila! Lo pasti tolaklah. Iya, kan, Mi?" Miya mengangguk seraya mengayun-ngayunkan kakinya sambil menatap ujung sepatu. "Tapi Ge, ...." "Tapi apa? Jangan bilang kalau Lo masih cinta sama si Ahmad?" Miya mengetatkan bibir lalu membuang napas. "Nggak semudah itu membuang perasaan yang sudah terlanjur tertancap dalam, Ge. Lo tau, kan, seberapa kuat asa gue buat dia dulu. Terlebih Kak Ahmadlah satu-satunya cowok yang gue harap bisa gantiin sosok papa yang sampe sekarang gue nggak tau di mana keberadaannya, masih hidup atau udah nggak ada. Walaupun gue udah berusaha keras buat lupain, tapi berdua lagi sama dia kayak tadi, bikin sesuatu yang pengen gue kubur dalam-dalam di dalam sini jadi bangkit lagi, Ge." Miya menunjuk dadanya. "Tapi dia, kan, udah punya bini, Mi. Nggak seharusnya lo masih punya rasa ke laki orang." "Dia bilang tadi, dia bersedia ninggalin Angel asal gue mau balikan sama dia, Ge." "Apa?" tanya Gea sehingga sebagian isi mulutnya tersembur keluar. "Jujur gue seneng, Ge. Gue bahagia waktu tahu kalau Kak Ahmad pun masih punya perasaan yang sama kayak yang gue punya. Apa gue terima aja ya, Ge, tawaran dia? Gue juga berhak bahagia kan?" Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN