Gea bersiap membantah semua niatan Miya. Namun, kalimatnya tertahan di tenggorokan seiring dengan terdengarnya alunan musik piano tanda pertunjukan akan segera dimulai. Pada akhirnya ia hanya menghela napas dan merangkul bahu sang sahabat serta mendekatkannya ke d**a.
Tembang 'Tanah Airku' menjadi yang pertama mengalun bersama air mancur menari malam itu. Bingar tepuk tangan pengunjung ikut mengiringi sejak Monas Jakarta Fountain mulai bergerak-gerak. Bak menari, air melenggak-lenggokan tubuh mengikuti alunan musik. Warna warninya menarik dipandang mata.
Lagu selanjutnya yaitu 'Keroncong Kemayoran', 'Si Jali-jali', hingga 'Manuk dadali'. Dengan kendali dari sebuah piano, air mancur pun menari lagi ke sana-kemari, mengikuti detak musik pengiringnya.
Pandang mata Miya terus terpaku pada pemandangan indah di depan, embusan angin yang bertiup lembut malam itu sengaja ia manfaatkan untuk membasuh jejak air mata yang sudah menganak sungai.
Setelah peristiwa kemarin, Miya kembali merasakan yang namanya jatuh cinta. Setiap saat bayangan Ahmad selalu menyertai kapan dan ke mana pun ia melangkah. Bahkan kesibukannya di kantor sebagai konsultan hukum di perusahaan sang kakek pun tak mampu membuatnya menghilangkan sosok lelaki yang kini telah menjadi suami orang itu.
Terlebih hampir setiap hari Ahmad selalu mengirimnya pesan yang hingga kini masih tersimpan di ponselnya.
"Jangan lupa makan, ya, Mi."
"Selamat tidur Miya."
"Jaga kesehatan Miya."
Berkali-kali ia blokir, nomor lain selalu muncul dan menghujaninya kalimat yang sama. Ahmad juga kerap mengiriminya makanan favorit, roti kopi, beserta setangkai bunga yang ia kirimkan ke rumah.
"Enggak, gue nggak boleh kayak gini terus! Dia itu udah milik orang!" Miya menggeleng kuat-kuat.
"Tapi gue nggak bisa!" rengek Miya seraya meletakkan kacamata dan merebahkan kepala di atas tumpukan kertas yang tengah ia baca. Konsentrasinya meluap. Di kepalanya hanya berisikan Ahmad yang sedang tersenyum hangat.
"Kalau kayak gini, apa bedanya gue sama wanita yang dulu udah merenggut papa dari mama!" geram Miya yang hingga kini masih menyimpan dendam pada wanita itu.
Ingatan gadis itu membawanya kembali ke peristiwa tujuh belas tahun silam. Ketika itu di hari ulang tahunnya yang ke tujuh tahun, ia dan mamanya malah terusir dari rumah karena kehadiran seseorang yang juga telah menjadi istri papanya yang lain. Saat itu Miya tak mengerti, tapi kini ia mengetahui alasan mengapa sang mama memutuskan untuk pergi. Beruntung mereka yang waktu itu tidak punya arah tujuan segera dipertemukan dengan pasangan suami istri yang kebetulan sedang makan di restoran tempat Indah bekerja. Pada pandangan pertama mereka sudah terkesan akan sikap sang mama dan akhirnya memintanya untuk bekerja di rumah mereka sebagai pelayan.
Seiring waktu berjalan, ternyata mereka kian sayang pada Indah dan Miya, sehingga mereka yang memang tidak dikaruniai anak memutuskan untuk mengadopsi Indah sebagai putri sekaligus Miya sebagai cucu. Sehingga saat ini Miya sudah tercatat sebagai cucu salah satu pemilik perusahaan periklanan yang cukup besar di Jakarta.
Selama ia tinggal di rumah Kakek Hasan, Indah pernah mengajaknya untuk mengunjungi rumah lama mereka, tapi rumah itu ternyata sudah berganti pemilik. Keberadaan sang papa tidak diketahui hingga saat ini.
"Miya, nanti siang kita mau ada tamu. Kamu siap-siap, ya," ujar Kakek saat baru tiba di kantor.
"Siapa, Kek?"
"Stefan dan papanya."
Mulut Miya membulat. "Jangan-jangan Kakek mau ngomongin soal perjodohan yang tempo hari," batin Miya.
Mentari sudah sempurna berada di singgasananya. Suhu udara menunjukkan angka 33 derajat celcius. Cukup untuk membuat pori-pori kulit memproduksi peluh lebih banyak dari biasanya. Bising klakson kendaraan menyapa pendengaran. Di dalam kantornya nan sejuk yang terletak di lantai lima di bilangan Jakarta Pusat, Miya bergegas mengekori kakeknya yang telah lebih dulu menaiki lift menuju restoran di lantai bawah, tempat di mana pertemuan akan dilangsungkan.
"Hallo, Miya. Apa kabar?" ujar Bahtiar seraya menjabat erat tangan Miya.
"Baik, Om. Om apa kabar?"
Miya masih mengingat dengan baik sosok Bahtiar. Pria yang kini usianya hampir menginjak kepala lima itu tak banyak berubah sejak mereka bertemu terakhir kali, sekitar tujuh belas tahun lalu.
"Yah, seperti yang kamu lihat."
"Lo masih suka nyamar?" Pandangan Miya beralih pada sosok pemuda yang berdiri di sisi Bahtiar.
"Ya, kalau nggak gitu, acara makan kita siang ini bisa berubah jadi acara jumpa fans," jawab Stefan sekenanya hingga membuat yang lainnya tertawa.
Setelah mereka memesan makanan pembicaraan dimulai lagi.
"Om tidak mengira kita bisa bertemu di sini. Dunia ternyata sesempit itu, ya. Om sempat kaget waktu melihat fotomu dan mamamu di rumah Pak Hasan waktu itu. Takdir membuatmu menjadi cucu angkat Pak Hasan, salah satu klien perusahaan Om," sambung Bahtiar.
"O ya, bagaimana kabar mamamu? Om mendengar peristiwa yang dulu sempat kalian alami dari mamanya Stefan, Om turut prihatin."
"Mama sudah pergi sejak lima tahun lalu, Om."
Siapa pun yang mendengar jelas tau kalau Miya menyertakan luka dan kesedihan yang mendalam dalam kalimatnya tadi.
Bahtiar mengangguk-angguk, pandangannya terus tertuju ke wajah Miya. Mata tuanya menyiratkan rasa kasih yang begitu besar. Tak berbeda dengan sosok pemuda yang berada di sebelahnya. Dalam hati, Stefan tidak pernah menyangka jika Miya akan mengalami hal seberat itu setelah kepindahannya dari Semarang dulu.
Pembicaraan berlanjut hingga menyebut nama Indra yang membuat air muka Miya langsung berubah muram. Ia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Bahtiar mengenai keberadaan papanya itu.
"Ini makanannya sudah datang, dilanjutkan nanti lagi bicaranya." Hasan memutus tanya yang siap keluar dari mulut Bahtiar.
Layar ponsel Miya menyala, menampilkan notifikasi pesan masuk.
"Baju merah memang selalu cocok sama kamu. Bikin kamu semakin kelihatan cantik."
Chat dari nomor yang belum Miya simpan. Lekas ia membuka foto profil dan terlihat sosok lelaki yang belakangan ini selalu mengganggu pikiran.
Sontak kepalanya memutar 180 derajat. Di salah satu meja di sudut restoran, tepat di pinggir jendela, Ahmad yang sedang makan bersama seseorang, tengah memandang tepat ke arahnya. Kedua bibirnya melengkung ke atas saat tatap mereka bertemu. Senyuman khas yang selalu mampu membuat darah gadis itu berdesir. Tak hanya itu, Ahmad bahkan mengedipkan sebelah matanya yang langsung membuat Miya segera memutus kontak.
Bola mata Miya seakan ingin keluar dari liangnya. "Kak Ahmad? Kenapa dia bisa ada di sini?" batin Miya, tapi kemudian ia teringat kalau kemarin Angel bercerita kalau kantor suaminya berada di sekitar kantor Hasan.
"Miya, kamu kenapa?" tanya Hasan saat mendapati wajah Miya yang terlihat pucat.
"Nggak pa-pa, Kek. Cuma mendadak kepala Miya agak sakit."
"Tadi baik-baik aja, kenapa tiba-tiba sakit?"
Miya makin salah tingkah. Tubuhnya gemetaran. Tatapan tajam Ahmad yang tertangkap di sudut matanya mendadak membuat dadanya terasa panas. Degup jantungnya pun langsung meningkat. Bahkan pandangan penuh kekhawatiran yang berasal dari bola mata coklat milik Stefan tak terlihat oleh Miya.
"Gue anter pulang, yuk."
"Iya, Stefan benar, kamu sebaiknya istirahat. Biar Kakek dan Pak Bahtiar yang melanjutkan pertemuan kita hari ini. Tolong ya Stefan."
"Siap, Kek."
"Kek, Om, maaf Miya duluan."
Setelah mendapat anggukan dari Hasan dan Bahtiar, Stefan lekas berdiri dan menuntun Miya berjalan menuju basement tempat di mana mobil Stefan berada. Keberadaan Stefan di sisinya sedikit banyak membuat Miya sedikit terlindungi.
"Mau gue anter ke rumah sakit?"
tanya Stefan sambil fokus menyetir.
"Enggak perlu, tolong anter gue pulang aja."
Stefan menarik ketat bibirnya.
"Akhirnya sampai juga. Sorry, kalau kelamaan di jalan. Gue belom ngerti jalan tikus di Jakarta." Stefan melihat arloji di tangan kanan lalu menggaruk tengkuknya dengan ibu jari.
Jalanan yang ramai membuat perjalanan dari kantor ke rumah Miya meningkat dua kali lipat. Jarum pendek jam sudah merangkak ke angka tiga.
"Enggak pa-pa, Stef. Gue malah sempet-sempetnya ketiduran. Makasi, ya. Sampein juga maaf gue ke Om Bahtiar karena gak bisa lama-lama tadi."
"Oke, gue pulang, ya. Lo jangan lupa istirahat," ucap Stefan yang langsung diiyakan oleh Miya.
Tak lama kemudian, ponsel Miya kembali berdering. Terlihat nomor dan gambar Ahmad di sana. Miya bergegas menuju kamar dan tak berniat sama sekali untuk berurusan lagi dengan lelaki itu.
"Non, Non Miya. Ada tamu, Non."
Rasanya baru sekejap Miya memejamkan mata saat Bik Minah mengetuk pintu kamar.
"Masuk aja, Bik. Pintunya nggak saya kunci."
"Non, ada tamu di bawah. Non mau nemuin atau gak? Kalau gak, biar bibik suruh pulang," lapor Bik Minah seraya melongokkan kepala
"Siapa, Bik? Gea?"
"Bukan, Non. Tamunya laki-laki. Dia calon suami Non Miya."
Bersambung.