Rencana Miya

1055 Kata
Mata Miya yang belum terbuka sempurna makin menyempit. "Calon Suami? Siapa yang Bibik maksud? Saya, kan, belum punya calon suami." "Itu, lho, Non, Mas Ahmad yang dulu sempat mau menikah sama Non Miya." Miya langsung menegakkan tubuh. Rasa kantuknya akibat baru saja mengkonsumsi obat penghilang sakit kepala, mendadak lenyap. Ia langsung memeriksa ponsel dan benar saja ada puluhan panggilan tak terjawab dari Ahmad. Terakhir Ahmad juga mengirim pesan yang intinya meminta agar Miya bersedia untuk menemuinya. Baru saja Miya akan menyuruh Bik Minah untuk mengusir tamunya yang datang tanpa diundang, ponsel Miya kembali berdering. Miya menghela napas dalam baru menarik tombol hijau ke atas saat mengetahui nomor Ahmad kembali terlihat di layar. "Hallo." Miya menjawab malas. "Mi, aku sekarang di bawah. Bisa kita ketemu?" "Mau apa lagi, si, Kak? Udah, gak, ada lagi yang perlu kita omongin!" Nada pendek-pendek langsung terdengar saat Miya memutus panggilan. "Non, jadi gimana? Bibik suruh pulang aja?" "Iya, Bik. Tolong suruh mantan calon suami saya pulang, ya. Saya masih perlu istirahat." Gadis itu menekankan kata mantan dalam kalimatnya. "Oke, Non. Siap." "Kamu yang keluar atau aku yang masuk?" ujar Ahmad yang tiba-tiba sudah berada di depan kamar Miya. Lelaki yang masih mengingat jelas letak kamar Miya itu, berinisiatif untuk menyusul ke kamar Miya. Miya yang baru akan berbaring lagi, refleks terduduk. Dengan gerakan cepat, ia mengambil bantal untuk menutupi bagian d**a. Penampilannya saat itu hanya menggunakan baju babydoll tipis tanpa lengan. Mata almondnya melebar sempurna. Tanpa disadari kedua pipinya pelan-pelan menyerupai warna buah cherry yang masih muda. "Tunggu di bawah. Sebentar lagi aku turun," ujar Miya dengan suara yang melembut. Ia berbicara pelan sambil menunduk, tak mampu beradu tatap dengan sosok yang membuat frekuensi detak jantungnya meningkat dua kali lipat. Setelah meminta Bik Minah ke dapur, Miya akhirnya turun dan menemui Ahmad. "Tadi aku lagi makan siang bareng teman waktu gak sengaja ngeliat kamu sama kakek." Ahmad berbasa-basi untuk mencairkan suasana. "Sebenarnya apa lagi yang mau Kak Ahmad omongin?" Pertanyaan itu meloncat begitu saja, keluar dari leher Miya yang terasa tercekik. Tatapannya selalu bergerak, sesekali menabrak bola mata Ahmad, sesekali menunduk dan mengamati lamat-lamat jemarinya menari di antara keringat dingin. Sesekali pandang mata Miya juga menyapu liar ke arah dinding-dinding ruang tamu yang didominasi warna putih gading. "Masih sama seperti yang tempo hari kutawarkan. Aku menginginkanmu kembali ke sisiku, Miya." Miya mengangkat wajahnya. Ia lagi-lagi terperanjat. Tarikan napasnya memanjang dan beberapa jenak tak bisa ia hempaskan. Kalau saja lelaki di depannya ini bukan berstatus sebagai suami orang lain, sudah pasti gadis itu akan langsung menjawab iya tanpa ragu. Namun, kenyataan berkata lain. Miya menggeleng kuat-kuat seiring dengan Ahmad yang kini berpindah duduk tepat di sebelahnya. Lelaki itu memberanikan diri mengenggam tangan mungil yang masih bertaut satu sama lain. "Miya, aku tau perasaanmu untukku masih sekuat seperti dulu. Begitupun perasaanku padamu. Itulah yang membuatku berani melakukan hal sejauh ini." "Lepasin, Kak!" Miya berusaha menarik tangannya, tapi Ahmad semakin mengikat kuat. "Sekarang lihat aku! Bilang kalau kamu udah gak mencintaiku lagi. Jujurlah Miya!" Tatapan Miya berpindah arah. Kini pandangannya menancap tepat ke kedalaman telaga milik Ahmad. "Rasa cintaku ... untuk Kak Ahmad udah gak ada, bahkan gak bersisa walau sedikit! Sekarang lepasin dan jangan ganggu aku lagi!" ujar Miya penuh penekanan. Di tengah kalimat, pandangannya lagi-lagi beralih. Bulir hangat perlahan membasahi kedua pipinya. Dadanya mulai naik-turun. "Kamu bohong, Miya. Aku sudah bilang, kan, jangan bohong." Ahmad merengkuh Miya ke d**a bidangnya kemudian berkata dengan penuh perasaan. Ia berharap kalimat yang dibisikkan di telinga Miya bisa merasuk kembali ke alam bawah sadar gadis itu. Miya masih berontak, berusaha untuk melepaskan pelukan Ahmad yang kian erat. "Menikahlah denganku, Miya. Aku janji akan membuatmu menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Aku mencintaimu." Beberapa menit kemudian, tangisan Miya kembali pecah. Ia membenamkan wajah di d**a lelaki yang masih sangat dicintainya itu dan tak lagi melawan. Pelukan seorang Ahmad pelan-pelan telah mampu memunculkan rasa hangat dan nyaman yang mulai menjalari seluruh tubuhnya. Setan yang kini nampak seperti malaikat di matanya membisikinya sehingga kepalanya bergerak ke atas-bawah berkali-kali. Miya tak lagi ingat kalau Ahmad sudah bersuamikan seorang Angel, sahabat baiknya sendiri. Ulangan kalimat Ahmad yang mengatakan jika lelaki itu tidak bahagia di sisi Angel sudah memporak-porandakan benteng pertahanan yang susah payah ia jaga. Miya merasa sudah sangat lelah, sudah cukup selama ini ia selalu mengalah dan memilih memikul luka sendiri. "Kali ini saja, izinkan aku berbahagia Tuhan. Lagi pula sejak awal Kak Ahmad memang milikku. Angellah yang sudah merebutnya," ucap Miya lirih mencari pembenaran yang hanya bisa didengar oleh telinganya sendiri. Saat itu Miya merasa bahagia yang ingin ia raih, tak mengapa meski harus menari di atas luka orang lain. Ahmad melepas pelukan seraya tersenyum membalas wajah Miya yang kini memberinya senyuman sehangat mentari. Tangan mereka masih saling bertaut. "Lusa, aku dinas ke Bali. Kamu siap-siap. Ambilah cuti selama satu minggu. Kita akan menikah di sana." Lagi-lagi Miya mengangguk patuh. Ahmad melangkah pergi meninggalkan Miya yang kini seakan tak rela untuk melepasnya. Cinta terlarang yang kini gadis itu rasakan menakdirkannya untuk berdiri di persimpangan. Ia ingin berlari ke arah kanan, tapi cinta Ahmad sama sekali belum mampu ia tinggalkan begitu saja. Keping hati tiada cinta yang tadi ia gaungkan, kini didesaki rencana untuk segera diperistri Ahmad, walaupun hanya yang kedua. Ya, Miya mudah sekali terombang-ambing. Ia seakan terbakar saat Ahmad menyatakan cintanya secara berapi-api. Namun, juga dipermainkan bimbang saat mengingat status lelaki itu dan wajah Angel, sahabatnya. Di dalam kamar tanpa setitik pun cahaya berukuran 3x3 meter persegi, Miya membaringkan tubuh seraya menatap langit-langit kamar yang berhiaskan hiasan yang menyala dalam gelap. Bayangan Ahmad terus menemaninya hingga ia terlelap. "Kek, Miya boleh ambil cuti? Gak lama, kok, cuma sekitar satu minggu." Keesokan paginya, Miya mulai menjalankan rencananya. Ia meminta izin cuti di tengah sarapan paginya bersama kakek dan neneknya. "Memangnya kamu mau ke mana? Kenapa lama sekali?" "Um, Miya mau ke Bali, Kek. Kebetulan ada seminar di sana. Miya mau ikut," ujar Miya berbohong. Hasan mengangguk-anggukkan kepala. "Pada dasarnya, si, kakek gak keberatan, Miya. Tapi kemarin, kakek dan Pak Bahtiar sudah berencana akan segera meresmikan hubunganmu dan Stefan. Esok lusa keluarga mereka akan datang untuk melamarmu." "A-apa, Kek?" tanya Miya terkejut hingga menumpahkan sebagian isi mulutnya keluar. "Miya, sebaiknya kau tunda kepergianmu ke Bali setelah acara lamaran Stefan. Siapa tahu Stefan mau ikut ke sana menemanimu." Kali ini nenek yang bicara. "Nenekmu benar, Miya. Bisakan?" Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN