Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Hasan dan Halimah menuruti permintaan Miya. Mereka akan menunda acara lamaran oleh keluarga Stefan dan menunggu kepulangan Miya dari Bali.
Jauh di palung hatinya, sebenarnya Miya tak sampai hati harus menolak permintaan kedua orang tua yang sudah banyak menyelamatkan hidupnya itu, tapi cintanya terhadap Ahmad telah membuatnya buta.
Setibanya di kamar, bukannya lega karena telah mendapat izin dari Hasan dan Halimah, Miya malah diliputi rasa bimbang. Dadanya seperti baru tertimpa beban yang sangat berat. Tiba-tiba petuah sang nenek saat dulu ia akan menikah kembali terngiang.
"Miya, kalau memang dia jodoh yang Allah pilihkan untukmu, maka jalan kalian ke depannya akan lancar. Semua alam semesta dan seisinya seakan mendukung cinta kalian, karena Allah yang memudahkan. Dan sebaliknya, jika ia tidak baik untukmu, maka Allah punya banyak cara untuk menjauhkanmu darinya."
Sembari melipat pakaian yang akan ia bawa ke Bali, Miya terduduk lesu. Ini kali kedua ia akan menjadi calon istri seorang Ahmad Fitra. Namun, mengapa prosesnya lagi-lagi terasa sulit, tak jauh berbeda seperti yang pertama dulu. "Apa benar yang dikatakan Nenek? Kak Ahmad memang bukan jodoh yang tepat untukku?"
Hati Miya perlahan gamam lagi.
"Apa gue batalin aja rencana ini?"
Jika Miya mau mengikuti kata hati, sebenarnya ia sudah tau jawaban akan pertanyaan itu, tapi lagi-lagi suatu bisikan menutupi semuanya.
"Kalian berdua, kan, saling mencintai, tidak ada yang salah dengan rencana untuk segera menikah," ucap bisikan itu yang membuat tangan Miya pelan-pelan kembali melanjutkan memasukkan baju-baju ke dalam koper.
"Apakah pada akhirnya nanti, aku bisa memakai ini di pernikahanku dengan Kak Ahmad?"
Dengan mata sayunya, bibir Miya melengkung ke atas sembari membentangkan sebuah kebaya modern berwarna putih gading berhiaskan kristal swarovski di beberapa permukaannya. Kebaya cantik yang tiga tahun lalu sempat ia pesan ke seorang designer ternama khusus untuk akad nikahnya. Karena takdir Allah, acara sakral itu tidak jadi dilaksanakan.
"Hallo, calon istriku. Lagi ngapain?"
Suara bariton Ahmad terdengar di ujung telepon. Hingga detik itu, terhitung sudah ketiga kalinya Ahmad menghubungi Miya. Padahal hari pun belum habis seperempatnya.
"Lagi packing, Kak. Nyiapin buat ke Bali besok."
"Umm, terus ngapain lagi?" ujar Ahmad dengan nada yang begitu ceria. Jika saja Miya bisa melihatnya, di seberang sana senyuman seakan enggan turun dari wajahnya.
"Udah, si, itu aja. Apalagi ya, lagi telponan sama ... Kak Ahmad."
Saat mengucap nama sang pujaan hati tadi, suara Miya begitu lembut dan hampir tak terdengar.
"Kamu tau, gak, sekarang aku lagi ngapain?"
Miya menggeleng pelan.
"Memang lagi ngapain, Kak?"
"Lagi memandangi ciptaan-Nya yang begitu indah, nan sesaat lagi akan jadi milikku, milikku seorang." Kali ini suara Ahmad terdengar begitu mesra sampai menggetarkan hati gadis yang menjadi lawan bicaranya itu.
"Aku lagi mandangin foto kamu ... Sayang."
Darah Miya kembali berdesir. Organ kecil dalam dadanya berdentum-dentum. Pipinya merona dan mengubah warna putihnya menjadi merah muda. Baru kali itu Ahmad memanggilnya sayang. Perlahan ia menunduk malu.
"Udah dulu, ya, Sayang. Kakak mau mandi. Ini sengaja telpon kamu di kamar mandi biar gak ketahuan Angel."
Ketika nama Angel disebut, Miya kembali diliputi rasa ragu. Aktifitasnya semula lagi-lagi terhenti. Bahkan kebayanya ia kembalikan ke lemari.
"Mas! Ngapain si di kamar mandi lama banget? Buruan! Nanti Mas terlambat!" suara Angel membahana bertepatan dengan Ahmad memutus panggilan telepon.
"Iya, Jel, ini juga udah selesai, kok."
Ahmad membuka pintu lalu menjawil hidung bangir Angel dengan telunjuk. Ia lalu beranjak dan meninggalkan wangi shampo lidah buaya yang terasa menyegarkan sehingga membuat Angel hening seketika. Pelan-pelan langkahnya mengekori Ahmad.
"Mas, besok, Mas jadi dinas ke Bali?"
tanya Angel dengan suara yang dimanja-manjakan.
"Jadi dong."
"Berapa lama, Mas?"
"Yah, kira-kira satu mingguan, lah, gak lama, kan? Memang kenapa?"
Angel mengerutkan dahi, memunculkan beberapa garis halus di atas sana.
"Satu minggu itu, mah, lama banget, Mas. Ngapain si di Bali selama itu?"
"Kerja, dong, Jel. Kemarin, kan, udah aku bilang. Kantorku lagi ada proyek penting di sana. Aku yang ditunjuk jadi penanggung jawab harus fokus supaya proyek ini sukses."
"Umm, aku boleh ikut, gak? Janji, deh, gak bakal ganggu. Nanti aku tinggal di hotel aja, sekalian jalan-jalan. Udah lama juga, ni, gak ke Bali."
Jemari lentik Angel menelusuri d**a Ahmad. Ciri khas wanita itu jika ia sedang menginginkan sesuatu. Saking fokusnya pada tubuh Ahmad, Angel sampai tidak sadar jika permintaannya tadi membuat Ahmad seketika dilanda rasa gugup yang luar biasa. Gerakannya yang sedang mengancingkan kemeja seketika terhenti.
"Eh, ja-ngan, jangan, dong. Kamu gak usah ikut."
"Loh, kenapa, Mas?"
"Gak enaklah, Jel. Masa yang lain berangkat sendiri, aku ngajak istri. Memangnya acara piknik. Lagi pula nanti kamu capek lagi kalau ikut aku kerja," jawab Ahmad seraya berpikir cepat.
"Oh, iya, Jel, tolong kamu masakin cah kangkung seafood, ya. Mau aku bawa ke kantor buat makan siang nanti."
"Yah, Mas. Aku, kan, udah siapin semur jengkol kesukaan kamu tadi. Lagian tumben, kamu, kan, biasanya gak suka makan sayur?"
"Gak tau, ni. Tiba-tiba pengen. Tolong, ya. Masih ada waktu setengah jam lagi, kok."
Angel melirik ke jam dinding.
"Ya udah tunggu sebentar, ya."
Setelah berhasil mengalihkan topik pembicaraan dan menyuruh Angel ke dapur, Ahmad menghempas napas lega. Rencananya bersama Miya masih terbilang sangat lancar.
"Angel, Angel, mana boleh kamu ikut. Bisa kacau rencanaku nanti," gumam Ahmad yang kembali tersenyum saat membayangkan apa yang akan ia lakukan bersama Miya di Bali nanti.
"Gaes, besok suami gue dines ke Bali. Kalian nginep sini, dong, temenin gue. Yah, yah, ya?" Setelah Ahmad berangkat ke kantor, Angel mengirim pesan ke group yang berisikan empat sahabatnya.
"Gue kesepian, ni, ntar di rumah. Bosen juga kalau tiap hari cuma nonton drakor."
Tidak seperti keempat sahabatnya yang lain, Angel memang hanya seorang ibu rumah tangga. Karena memang itulah yang ia inginkan sejak awal menikah dengan Ahmad. Ia tidak ingin dibebani dengan pekerjaan yang membuat keningnya berkerut setiap saat.
"Sorry, Jel, kebetulan besok gue juga mau ke luar kota."
Gea yang paling pertama membalas, sedangkan Miya masih mencoba berusaha menenangkan hatinya yang lagi-lagi dilanda kecemasan.
"Berarti Kak Ahmad udah bilang ke Angel," gumamnya. Jemarinya saling bertaut seiring dengan keluarnya satu-persatu bulir peluh di atas dahinya.
"Fitri, Citra? Kalian bisa gak?"
"Besok, ya? Bisa, deh. Sesekali gak ada salahnya gue nginep tempat, Lo," balas Citra.
"Gue juga kayaknya bisa."
"Siip, Fitri dan Citra bisa. Miya, lo, bisa kan? Sejak lo pulang dari luar negeri, kita, kan belum sempat ngobrol banyak."
Miya hening sesaat. Ia masih tidak tahu kalimat apa yang harus ia ketikkan untuk menjawab pertanyaan Angel.
"Mi, jangan pura-pura belom baca, deh. Gue tau lo lagi online, kan?"
"Maaf, Jel, besok gue juga harus pergi ke luar kota. Ada seminar."
"Seminar di mana, Mi? Kok, lo, gak kasi tau gue?" Kali ini Gea yang bertanya.
Miya hening lagi. Namun, tanpa sadar jemarinya mengetikkan kata,
"Bali."
Baru Miya akan menghapus, Gea sudah membalas.
"Loh, gue juga mau ke Bali."
"Suami gue juga. Eh, eh, gue jadi ada ide deh. Gimana kalau gue ikut lo Mi, ke Bali? Gue mau kasih kejutan sama Mas Ahmad. Pasti dia seneng banget. Cit, Fit, gue gak jadi, deh, ngundang nginep kalian di rumah. Gue mau ikut Gea sama Miya aja ke Bali. Kalian sekalian ikut aja, biar ramean kita."
Miya membelalak tajam.
Belum sempat Miya berpikir untuk menjawab, ponselnya berdering. Terlihat nama Angel di layarnya. Lagi-lagi tanpa sadar jemarinya menarik tombol hijau ke atas.
"Miya, boleh, kan, gue ikut? Lo berangkat jam berapa? Naik maskapai apa? Biar gue pesen tiket sekarang," cecar Angel tanpa memberi Miya kesempatan untuk bicara. Angel sangat tahu jika Miya tak akan tega berkata tidak.
Bersambung.