Aksi Ahmad

1102 Kata
Bergegas Miya mematikan sambungan telepon. Bukan hanya itu, Miya bahkan menon-aktifkan ponselnya. "Miya! Miya! Ih, kok dimatiin, sih!" Di seberang sana Angel nampak kesal. Berkali ia mencoba untuk menghubungi Miya kembali, tapi tak ada hasil. Sedangkan setelah menutup telepon dari Angel, Miya membenamkan wajah di atas bantal. Tubuhnya gemetaran. Jantungnya kembali berdentum seperti baru saja selesai berlari. Napasnya pendek-pendek. Di pikirannya terlintas pikiran yang tidak-tidak mengenai kelanjutan hubungannya dengan Ahmad. "Apa yang akan Angel lakukan kalau dia sampai tau aku akan menikah dengan Kak Ahmad? Dan apa yang akan dikatakan oleh Gea, Citra dan Fitri kalau mereka tau aku berencana merebut suami sahabatku sendiri? Ya Tuhan, kenapa mencintainya harus merasa setakut ini? Sesulit ini? Aku hanya ingin bahagia Tuhan. Salahkah?" Miya tergugu. Air matanya turun deras sehingga membasahi kain yang melapisi bantal tidurnya. Setelah puas menangis dan merasa agak lebih tenang, Miya mencoba menghubungi Ahmad melalui ponselnya yang lain. Ia hafal nomor lelaki itu di luar kepala. "Hallo." Ahmad langsung mengangkat di nada sambung yang ke tiga. "Kak Ahmad, bisa kita ketemu sekarang?" "Miya? Kamu nangis? Oke, oke, sekarang juga aku ke sana." Setelah menerima telepon dari Miya, Ahmad memilih untuk memesan ojek online. Kondisi jalanan Jakarta yang selalu padat hampir di setiap jam, membuatnya tidak bisa segera menemui sang pujaan hati jika menggunakan kendaraan roda empat. Hanya menunggu sekitar lima menit, pengendara motor dengan helm hijau dan jaket hijau sudah tiba di kantor Ahmad. Namun, baru saja motor yang Ahmad tumpangi akan berjalan, ponselnya lagi-lagi berbunyi. "Hallo Sayang, kamu tenang, ya. Ini aku udah di jalan," jawab Ahmad tanpa melihat siapa yang menelepon. "Mas, aku gak pa-pa, kok. Emang kenapa? Kok kedengerannya Mas panik gitu? Dan tumben-tumbenan Mas panggil aku sayang." Ahmad menjauhkan ponsel dari telinga, nampak nama Angel di layar. "Aduh, mati gue!" umpat Ahmad tanpa suara sambil menepuk dahi. "Mas, Mas Ahmad!" Ahmad berpikir cepat. "Eh, enggak, enggak, kok, bukan apa-apa. Oh iya, aku lega kalau kamu gak kenapa-napa. Soalnya tadi aku sempet terima telepon, dia bilang kalau kamu kecelakaan. Makanya ini aku mau cepetan pulang naik ojek online," kilah Ahmad berusaha agar Angel tidak curiga. "Udah dulu ya, Jel. Suara kamu mulai gak jelas. Aku mau balik kantor lagi." Ahmad memutus sambungan di tengah kebingungan Angel yang semakin besar. "Kenapa, si, ni, orang-orang pada hobi banget mutusin telepon gitu aja. Tadi Miya, sekarang Mas Ahmad," gerutu Angel. "Eh, tapi tadi Mas Ahmad bilang kalau dia baru dapet kabar kalau gue kecelakaan, dan sikap Mas Ahmad sepanik itu?" Angel kembali melebarkan senyuman. Di sisi lain, Angel merasa sangat bahagia karena Ahmad masih begitu mengkhawatirkannya. "Itu berarti Mas Ahmad sudah mulai benar-benar peduli padaku. Bisa jadi dia udah jatuh cinta sama seorang Angel." Angel bermonolog sambil tersenyum puas. "Akhirnya usahaku selama ini berhasil juga." Wanita itu merasa kalau sampai detik ini, hati Ahmad belum berhasil ia raih. Ia menduga kalau suaminya itu masih memendam perasaan cinta yang sangat besar untuk sahabatnya, Miya. Apalagi semenjak Miya kembali dari Jepang, Ahmad semakin bertingkah aneh. Angel seringkali memergoki Ahmad tengah senyum-senyum sendiri. Entah apa yang ada dalam pikirannya waktu itu. Namun, Angel tidak mau menduga-duga. Ia berpikir tidak mungkin suaminya akan kembali kepada Miya, apalagi kini Ahmad telah menikah dengannya. Satu-satunya hal yang bisa membuat Angel merasa jauh lebih unggul dibandingkan dengan Miya. Tak sampai satu jam, Ahmad sudah tiba di kediaman Miya. Setelah Bik Minah membukakan pintu, Ahmad bergegas masuk dan bermaksud langsung menuju kamar Miya di lantai dua. "Eh, Mas, Mas tunggu di sini aja, biar Bik Minah panggilkan Non Miyanya. Gak baik kalau lelaki langsung masuk ke kamar seorang gadis." Ahmad menghentikan langkah. "Baik, Bik. Maafin sikap saya tadi. Tolong sampaikan ke Miya kalau saya menunggu di bawah, ya." Tak lama kemudian, Miya turun. Wajahnya kelihatan kacau. Matanya bengkak karena cukup lama memproduksi air mata. Ahmad langsung mendekat dan merengkuh tubuh Miya ke d**a. Di pelukan Ahmad, Miya kembali lemah dan terisak. Gadis itu tau benar kalau apa yang sedang ia lakukan ini sangat keliru, tapi hatinya tidak kuasa menolak. Berada dalam dekapan Ahmad adalah hal yang benar-benar sedang ia butuhkan saat itu. Orang lain bisa saja dengan mudah menyebut kata mantan, tapi buat Miya menggaungkan kata itu seperti membuka paksa perban jahitan yang belum sepenuhnya tertutup sempurna. Apalagi saat ia mendengar kalau Ahmad jadi menikahi Angel, perih di hatinya tak pernah ada habisnya. Selain itu di hati Miya juga acap kali timbul penyesalan. Apakah benar keputusannya waktu itu? Bahagiakah dia dengan Angel? Atau sebaliknya malah menderita? Dulu dia memilih mundur dan merelakan Ahmad untuk menikahi sahabatnya, karena Miya merasa itulah jalan terbaik untuk membuat semuanya bahagia. Namun, ternyata Miya keliru. Sangat keliru. Di antara mereka bertiga tidak ada seorang pun yang merasa bahagia, termasuk Angel, karena sikap Ahmad yang cenderung datar saat berada bersamanya. Ingin kembali ke masa lalu pun sudah tak mungkin lagi. "Jadi kamu takut kalau Angel, Gea dan sahabatmu yang lain tahu tentang hubungan kita?" Sambil bersandar di d**a Ahmad, Miya menganggukkan kepala. "Miya, Miya, aku kira kenapa. Aku sampai panik tahu, gak?" Miya menegakkan tubuh. "Tapi, Kak, aku beneran takut. Apa ... kita batalin aja rencana pernikahan kita?" "Enggak, enggak, enggak, aku gak setuju! Kita masih punya jalan lain, Sayang. Please jangan setega itu sama aku. Aku udah gak sabar mau menjadikanmu istriku, bahkan penantianku sudah tiga tahun lebih." Ahmad kembali merengkuh Miya seakan-akan tidak mau kalau Miya sampai berubah pikiran lagi. "Aku janji semuanya akan baik-baik aja. Angel dan yang lain gak akan ada yang tahu dan gak akan pernah tau. Aku janji. Kamu percaya, kan, sama kakak?" Miya mengangguk. Rasa takut yang semula mencengkram dirinya perlahan mengendur. Ahmad pun kembali bernapas lega. "Jadi, rencana kepergian kita ke Bali besok, gimana, Kak?" Ahmad menarik ketat bibirnya seraya memikirkan jawaban atas pertanyaan Miya. "Gini aja, Sayang. Kalau aku, kan, memang sekalian dinas luar ke sana. Besok kamu tetap berangkat sesuai jadwal, tapi ganti tujuan ke pulau seribu. Kebetulan aku ada kenalan seorang ustaz di Pulau Pari. Nanti aku minta tolong beliau untuk menikahkan kita. Kamu duluan ke sana, yang penting kamu siapin aja semua keperluan pribadi kamu dan juga surat-surat yang dibutuhkan. Nanti selesai dinas aku akan nyusul kamu ke sana." Miya kembali patuh. Dalam relung hati yang paling dalam ia berharap agar rencana pernikahannya kali ini tidak lagi gagal untuk yang kedua kali. "Aku akan serahkan pada takdir, seandainya rencana besok gagal lagi, aku gak akan lagi meneruskan rencana pernikahan ini," janji Miya dalam hati. Miya kembali memberikan senyum termanisnya pada sang kumbang. Ahmad yang tengah dimabuk cinta pada sosok gadis di hadapan, perlahan melipat jarak. Kedua tangannya menangkup wajah mungil Miya bersamaan dengan sepeda motor Gea yang baru memasuki halaman rumah Miya. Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN