"Kak, itu Gea, Kak! Gimana ni?" Miya langsung menepis kasar kedua tangan Ahmad. Rasa takutnya kembali muncul.
"Tenang, Mi, tenang. Gea gak akan curiga kalau kita bersikap biasa. Aku akan bilang kalau alasanku ke sini cuma mau ngomongin soal kerjaan sama kamu. Sekarang kamu tenangin diri dulu, tarik napas dalam terus temuin Gea." Ahmad menggenggam tangan Miya dan berusaha menenangkan gadis itu.
Miya menarik napas dalam berkali-kali lalu membuangnya perlahan.
“Hai, Ge. Tumben, lo, ke sini gak telepon dulu,” sambut Miya di teras depan sambil mencium kedua pipi Gea.
“Wangi badan Miya, kok, gak kayak biasanya? Ini tu kayak bau parfum cowok,” batin Gea setelah tadi mereka sempat berpelukan.
Gugup masih menyertai aneka kalimat yang berusaha Miya keluarkan dan Gea langsung menyadarinya.
“Ya gimana mau telepon, orang nomor lo mati. Abis kita ngobrol di group, nomor lo langsung gak bisa dihubungin. Gue khawatir, makanya langsung ke sini. Ada apa, si, Mi?”
“Eng-gak, enggak ada apa-apa, kok. Itu tadi … ponsel gue habis baterai terus belom sempet gue charge. Gak tau tu charger gue ngumpet di mana,” jawab Miya disambung tawa hambar. Sambil menjawab tadi tanpa sadar mata Miya melihat ke arah kiri atas.
Gea menatap lekat ke bola mata hitam milik Miya, mencoba mencari kejujuran yang tidak ia temukan di sana.
“Mi, lo lagi ada tamu? Sepatu siapa, tu?”
“Eh, iya, ada Kak Ahmad di dalem.” Miya lagi-lagi gugup.
Mata Gea membelalak.
“Ahmad? Ngapain dia ke sini, Mi?”