Kecurigaan Gea (2)

274 Kata
“Itu, katanya ada yang mau dia tanyain terkait jasa iklan di kantor kakek. Yuk, masuk, Ge. Tuh, Kak Ahmad ada di dalam. Lo duduk dulu, ya. Gue mau ke dapur dulu. Oh iya, lo mau minum apa? Dingin atau panas? Sirup mau? Atau teh aja? Kopi?” “Mi, terserah, lo. Nanti kalau haus gue bisa ambil sendiri kayak biasa." “Oh, oke, oke, yuk masuk.” Sorot mata Gea seakan menelanjangi sosok lelaki di hadapan. “Hai Ge,” sapa Ahmad. Ia berdiri lalu menjabat tangan Gea. “Hai, udah lama?” “Udah,” “Belum," Jawab Ahmad dan Miya berbarengan yang langsung membuat Gea memicingkan mata. “Eh, maksud gue udah. Udah dari jam berapa tadi, Kak? Jam tiga ya?" “Iya jam tiga. Gue ke sini ada perlu sama Miya, mau nanya tentang kerjaan. Gue butuh saran tentang jasa periklanan yang bagus kayak apa,” jelas Ahmad tanpa ditanya. “Oh, kenapa lo gak dateng langsung ke kantor Kakek? Bukannya kalau ke sana lebih deket ya dari kantor lo? Dibandingkan kalau lo harus ke sini?” “Ya, gak masalah, dong, kalau gue mau nanya-nanyanya sama Miya. Biar lebih bebas aja kalau sama orang yang udah dikenal. Lagian tadi gue udah telepon juga ke sana. Katanya Miya hari ini cuti, jadi gue langsung ke sini aja." Mulut Gea membulat. Ia mencium gelagat yang aneh dari kedua sosok manusia di hadapan, terutama Miya. Ia terlihat sangat gugup. Sedari tadi ia selalu menunduk dan menghindari kontak mata dengan Gea. Ia juga selalu memainkan ujung kuku. Gea yang sangat mengenal sosok Miya seratus persen yakin kalau sahabatnya itu pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN