"Ya udah, Mi, Aku balik dulu, ya. Nanti kalau jadi pake jasa perusahaan Kakek Hasan, aku hubungi kamu lagi.”
Miya mengiyakan sambil menunduk. Ia tidak punya keberanian untuk menatap langsung ke mata Ahmad, terlebih di depan Gea. Dari pancaran matanya, sudah pasti Gea akan tau kalau antara ia dan Ahmad baru saja terjadi sesuatu.
“O-oke, Kak, siap.”
“Ge, gue duluan,” pamit Ahmad yang hanya ditanggapi anggukan kecil oleh Gea.
“Mi, cerita sama gue. Ada apa si sebenarnya?” Gea langsung menginterogasi Miya sepeninggal Ahmad. Gea tidak sabar jika harus menunggu lebih lama lagi. Karena jka sahabatnya itu memang sudah melakukan sesuatu yang salah, ia akan menjadi orang nomor satu yang mengingatkan dan mencegah agar hal itu tidak sampai terjadi.
“Apa, Ge? Gak ada masalah apa-apa, kok, beneran.”
“Jujur? Lo gak lagi nyembunyiin sesuatu?"
Miya menggeleng pelan.
“Maafin gue terpaksa bohong, Ge," batin Miya.
“Oke. Cuma … kalau nanti lo butuh temen curhat, Gue akan selalu ada buat, lo, anytime, 24 jam, ya?”
Miya mengangguk sambil merangkul bahu Gea.
“Makasi, ya, Ge.”
Aroma parfum lelaki kembali merasuk ke penciuman Gea. Tidak salah lagi, ini adalah wangi yang sama kayak aroma yang tadi dia sempat hidu saat Ahmad tengah berpamitan dengannya.
"Kalau Miya juga mempunyai wangi serupa, itu artinya tadi mereka sempat berpelukan cukup lama. Sebenarnya apa yang sudah mereka lakukan? Mi, lo gak mungkin ngelakuin hal buruk yang ada di pikiran gue, kan?" Gea terus bicara dalam hati sambil menatap nanar ke arah Miya yang sedang menghabiskan minuman dinginnya.