“Oh, iya, Mi, besok lo berangkat jam berapa? Naik pesawat apa? Siapa tau kita bisa berangkat sama-sama ke bandara. Gue mau nebeng maksudnya. He-he.”
Gea berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia akan mencari tau hal yang sebenarnya dengan cara lain.
“Oh, besok gue gak jadi ke Bali, Ge. Acaranya mendadak dibatalin.”
"Yah, kenapa?"
Miya mengangkat bahu.
“Padahal kalau jadi, gue udah berencana mau ngajakin lo nginep di hotel yang sama.”
Miya menarik singkat kedua sudut bibir.
"Jadinya besok lo di Jakarta aja, ni?”
“Iya, gue di Jakarta, gak kemana-mana. Oh ya, Ge, tolong lo bilangin ke Angel juga, ya, kalau gue gak jadi berangkat. Btw, lo di Bali berapa lama?"
“Cuma dua hari. Minggu gue udah balik.”
“Beliin gue roti kopi yang ada di bandara, ya, Ge.”
Gea menegakkan ibu jari. "Oke.”
Keesokan harinya, sesuai dengan apa yang telah disepakatinya bersama Ahmad, Miya bersiap pergi ke Pulau Pari, salah satu pulau terbesar yang ada di gugusan kepulauan seribu di utara Provinsi DKI Jakarta. Untuk menuju ke sana, mereka akan menyewa kapal motor dari Pelabuhan Muara Baru. Ahmad sengaja menjadwal ulang jam penerbangannya untuk menemani Miya pergi ke sana.
Setelah memastikan Miya mendapatkan penginapan yang layak, ia segera menitipkan Miya pada salah seorang kenalannya.
"Pak, saya titip calon istri saya di sini dulu, ya. Kebetulan saya ada dinas ke Bali selama tiga hari. Setelah dari sana saya akan ke sini lagi dan kami akan menikah."
"Baik, Pak Ahmad. Nanti akan saya suruh anak saya, Heni, untuk menemani Bu Miya selama Pak Ahmad pergi, sekaligus bantu-bantu barangkali ada sesuatu yang Bu Miya butuhkan."
Miya mengantar Ahmad kembali ke darmaga. Dari sana lelaki itu akan kembali ke pelabuhan Muara Baru untuk selanjutnya menuju bandara dan terbang ke Bali.
"Sayang, aku tinggal dulu, ya. Kamu gak pa-pa, kan, tunggu aku sebentar lagi? Sebenarnya aku udah gak sabar ingin segera menghalalkanmu, tapi ada pekerjaan yang gak bisa ditinggal." Ahmad merajuk seperti anak kecil sehingga membuat senyum Miya kembali terbit.
"Nah, gitu, dong. Kalau senyum, kan, makin cantik. Masa sejak dari Jakarta cemberut terus."
"Aku cuma takut, Kak, jika yang akan kita lakukan ini bisa menyakiti orang lain. Kalau sampai ada orang yang tau gimana?"
"Sayang, dengerin aku. Di sini gak ada seorang pun yang kenal kita, jadi gak akan ada yang tahu. Aku jamin pernikahan kita akan berjalan lancar. Kalaupun memang ada yang harus tersakiti dengan pernikahan ini, ya paling cuma Angel. Tapi aku rasa ini adalah balasan yang cukup pantas atas perbuatannya pada kita dulu. Dulu aja dia tega berbohong demi untuk memisahkan kita."
Ahmad kembali menenangkan Miya. Perasaan Miya memang sedikit lebih tenang, tapi itu tidak berlangsung lama. Bayangan Kakek Hasan, Nenek Halimah, Angel, Gea dan sahabatnya yang lain seperti mengikuti Miya ke mana pun ia melangkahkan kaki. Miya terus dilanda rasa bimbang. Namun, lagi-lagi hatinya dibutakan oleh rasa cintanya terhadap Ahmad.
Sepeninggal Ahmad, Miya memilih menghabiskan waktu sore sambil berjalan di atas jembatan di pinggir pantai.
"Miya!"
Bersambung.