Sepulang dari mengantarkan Miya ke rumah setelah pertemuan mereka di restoran tempo hari, Stefan belum menemui gadis berambut panjang itu lagi. Menurutnya Miya butuh istirahat dan tidak ingin diganggu. Meskipun sebenarnya Stefan ingin menanyakan sesuatu, kenapa saat di restoran kemarin wajah Miya tiba-tiba berubah pucat. Selain itu, Stefan juga melihat pandangan Miya selalu tertuju ke seorang lelaki yang duduk tak jauh dari tempat mereka, yang juga tengah memandang Miya.
"Siapa lelaki itu? Kenapa ngeliatin Miya terus? Kenapa Miya jadi ketakutan kayak gitu?" batin Stefan.
"Stef, sebenarnya kemarin waktu di restoran papa dan Pak Hasan memutuskan besok malam kita akan ke rumah Pak Hasan, sekalian melamar Miya. Yah, awalan aja sebelum acara resminya nanti," ucap Bahtiar di tengah aktivitas makan malam keluarga Stefan.
"Lho, Pa, kok, mendadak banget? Miyanya gimana? Udah tau?"
"Pak Hasan bilang, si, belum. Mungkin beliau nunggu sakit kepalanya Miya pulih dulu. Untuk kepastiannya besok pagi Pak Hasan bakal info lagi. Yah, kita siap-siap aja dulu. Kamu tolong kosongkan jadwal, ya. Bisa, kan?"
"Umm, lusa sebenarnya, si, aku ada syuting, Pa. Tapi deket, kok, masih di sekitaran Jakarta. Kayaknya bisa, lah, kalau malam udah di rumah. Aku usahain."
"Oke."
"O ya, Stef, mama dengar, dulu Miya sempat batal menikah. Kamu udah tau?" tanya Lily, mama Stefan.
"Oh ya?" Garis-garis halus di dahi Stefan serentak merapat. "Gak, Stefan gak tau. Kenapa, Ma? Mama tau dari siapa?"
"Temen satu sanggar senam mama kebetulan tetangganya Pak Hasan dan Bu Halimah. Kemarin waktu kita lagi ngobrol, dia cerita. Katanya si karena calonnya udah ngehamilin sahabatnya. Parahnya, itu seminggu menjelang hari pernikahan, lho. Kasian Miya, makanya dia sampai ke Jepang untuk memulihkan diri."
Tanpa sadar Stefan meletakkan sendok dengan kasar di atas piring sehingga menimbulkan denting yang cukup keras.
"Kurang ajar! Bisa-bisanya dia kayak gitu sama Miya!" geram Stefan yang hanya didengar oleh telinganya sendiri.