Farel hanya duduk di kursi sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Bagaimana tidak, harusnya saat ini ia menikmati malam penuh keromantisan di kamar, tapi malah berdingin ria di atas puncak kantornya. “Di sini menyenangkan, bukan?” tanya Andine. “Tempat yang paling menyenangkan adalah di kamar. Lebih tepatnya, di ranjang. Paham.” Andine memanyunkan bibirnya mendengar balasan Farel. Ngomong sama suaminya memang begitu, kan ... apalagi kalau sedang kesal. “Bentar doang, kan?” “Baru juga nyampe.” “Jangan bilang kalau kamu berniat menginap di sini. No, Sayang.” Andine duduk di samping Farel. “Nanti kita bikin rumah kayak gini, ya? Biar bisa duduk sambil rebahan,” pinta Andine. Farel mengarahkan pandangan pada Andine. “Itu yang kamu mau?” Andine mengangguk cepat. “Oke, besok k

