Ia sampai geregetan sendiri saat Andine belum menampakkan diri hingga beberapa saat. Tak tahukah istrinya itu, kalau dirinya kini berasa menunggu sebuah kepastian yang tak pasti. Kini ia kembali menghampiri dokter yang juga menunggu hasil yang akan diberikan Andine. “Dokter, kenapa harus menunggu selama ini?” Dokter malah tersenyum mendengar pertanyaan yang diajukan Farel padanya. “Memang begitu, Pak. Karena hasilnya nggak akan langsung muncul seketika itu juga.” “Ck ...” Farel berdecak mendapat jawaban dokter dan memilih kembali menunggu di depan pintu kamar mandi. Berniat kembali mengetuk pintu, tapi terhenti saat pintu jutru dibuka dari arah dalam. Ia dapati wajah dan kedua mata Andine memerah, menjelaskan kalau dia habis menangis. Tentu saja hatinya makin tak tenang. “Ada apa?”

