Farel baru keluar dari ruang meeting, kemudian mengecek ponsel yang selama dua jam belakangan sengaja ia silent. Beberapa panggilan dan pesan masuk. Langkahnya terhenti saat ada beberapa pesan Andine di antara sederetan pesan. Tak membalas, justru Farel langsung menelepon sang istri. Kesalnya, panggilan teleponnya sama sekali tak dijawab. Kemana dia? Rasanya tak mungkin kalau dia tak mendengar dering ponsel. “Kenapa, Pak?” tanya sekretarisnya yang melihat raut khawatir di wajah si bos. “Semua sudah selesai, kan?” “Sudah, Pak,” jawabnya. “Kamu bereskan masalah tadi, saya ada urusan penting,” ujarnya berlalu pergi begitu saja dengan langkah cepat. Bukan apa-apa, hanya saja ia terlalu mengenal istrinya itu hingga detail. Dia terlalu nekat dalam melakukan sesuatu hingga kadang tak memik

