Farel keluar dari ruangan dokter Hana dengan langkah berat. Ya, informasi yang ia terima membuatnya semakin merasa kalau kehamilan Andine tetap dilanjutkan, justru malah membuat istrinya itu seolah tak aman. Langkahnya ia tujukan kembali ke ruangan Andine. Berharap sang istri akan mendengar apa perkataannya kali ini. Sampai di pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti saat mendengar sebuah panggilan. “Ma, Pa.” Mendapati kedua orang tuanya datang. “Andine gimana?” tanya Melda pada sang putra. Farel tak langsung menjawab, ia seolah bingung harus menjelaskan seperti apa. “Aku bingung harus gimana,” ujarnya. “Maksud kamu?” “Tadi dia mengalami pendarahan, Ma.” Melda dan Rayn tersentak mendengar itu. “Tapi nggak sampai keguguran, kan? Calon cucu mama masih bertahan, kan?” Lih

