Biarkan Aku Mencoba

1313 Kata
Taun Muda Rafka pergi bersama Mia Carina ke kediamannya yang berada di Kebun Kacang. Rumah susun sederhana tempat di mana Mia tinggal dengan segala kesederhanaannya. Di sana, saat ini Mia tengah berada di dapur, sedang memasak makanan untuk makan malam. Sedangkan Tuan Muda Rafka sedang berjalan-jalan sambil memegang segelas s**u, memandang lingkungan sekitarnya dengan rasa ingin tahu, "Apakah di sini benar tempat tinggalmu, Tante?" Mia mengangguk sambil berkata, "Iya. Ruangannya sangat sempit, bukan? jauh berbeda dengan tempat tinggal kamu yang mewah, rumah bak istana." Mia menjawab dengan santai, dan meletakkan potongan sayuran di piring untuk persiapan. Rafka mengangkat kepalanya dan bertanya, "Apakah Tante tinggal sendiri di sini?" "Ya," Mia menjwab singkat. "Apakah Tante tidak punya keluarga?" "Ada. Tapi, tidak tinggal di sini. Kita tinggal berjauhan dan di sini tante hanya tinggal sendirian." Untuk sejenak Rafka terdiam. Ia takut Mia merasa sedih atas pertanyaan yang ia lontarkan, lalu dengan lembut Rafka menepuk menepuk punggung Mia seraya menghibur. "Jangan takut, jika Tante mau, Tante bisa menganggap aku sebagai keluarga Tante," ungkap Rafka dengan tulus. Mia tersenyum haru sekaligus lucu. Anak kecil ini pemikirannya sangat dewasa. Semakin banyak berinteraksi dengannya, Mia semakin menyukainya. "Oke. Biarkan Tante memasak, Tuan Muda bisa tunggu Tante di ruang tengah. Di sini banyak asap, banyak minyak berceceran di mana-mana. Kalau noda ini mengenai baju kamu, bagaiman? nanti kotor, orangtuamu akan marah," ujar Kinan membujuk, agar Rafka tidak berada di dapur yang penuh dengan noda. Tuan Muda Rafka patuh, ia pun mengangguk. "Baiklah." lalu i pergi dari dapur menuju ruang tengah, menunggu di sana sambil berkeliling ruangan yang ukuranya tidak lebih besar dari kamar mandinya. Mia mulai sibuk dengan kegiatannya. Hal yang biasa Mia lakukan setiap hari. Dia tidak pernah makan di luar demi menghemat pengeluaran, karena pendapatan bulanan Mia tidak terlalu besar. Tiga hidangan dan satu sup disajikan dalam waktu kurang dari satu jam. Ada seafood, iga, dan sayuran hijau. Daging dan sayurannya perpduan yang sangat serasi, warna dan rasanya lengkap. Sangat menarik untuk dilihat. Namun, Mia masih sedikit merasa khawatir. Rafka adalah tuan muda dari kelurga ternama MZ Corporation. Dia pasti terbisa makan makanan lezat dengan kualitas terjamin, diolah oleh chef pilihan. "Aku tidak tahu, apakah kamu akan menyukai masakan sederhana yang aku buat?" batin Mia. Mia memberikan Tuan Muda Rafka semangkuk nasi dan berkata, "coba dulu. Jika tidak sesuai dengan seleramu, beri tahu tante dan tante akan mengajakmu makan di luar." Rafka mengangguk, mengambil sendok kecil, menyendok seteguk nasi dan memasukkannya ke dalam mulutnya, mengunyah dengan keras, pipinya melotot, sangat imut. Melihat ekspresi wajah Tuan Muda Rafka, Mia tersenyum seraya mendudukan diri di samping Rafka, hendak makan bersamanya. Namun, baru saja ia duduk, bel pintu unit berbunyi berulang-ulang kali. Ia sedikit merasa aneh, tidak biasanya ada orang yang datang mengunjungi dirinya. Dalam benak ia bertanya, "Siapa?" Begitu pintu dibuka, Mia dibuat terkejut saat melihat sosok tinggi putih dengan wajah tampan berdiri tegak di depan unitnya. Wajahnya setampan dewa, ciptaan Tuhan yang begitu sempurna dengan bibir tipis yang indah, mengerut rapat menjadi garis lurus, fitur wajah sangat halus, kedua alis yang tebal hampir menyatu, terlihat hampir tidak ada kekurangan pada diri pria tersebut. Ditambah lagi pria itu Mengenakan setelan jas yang rapi dan gagah, tubuhnya yang tinggi juga postur badan yang kekar, mampu membuat wanita mana pun akan tergila-gila kepadanya. "Seumur hidup, baru pertama kali ini aku melihat pria setampan dia," batin Mia. Saking terkesimanya melihat ketampanan pria tersebut, membuat Mia lupa mempertanyakan identitasnya. Ketika Mia hendak menanyakan identitas pria tersebut, terdengar suara dentang di belakang yang entah itu suara apa. Mia buru-buru menoleh ke belakang dan melihat Tuan Muda Rafka melemparkan sendok ke atas meja, tanpa berkata kemudian bergegas ke kamar dengan berlari, lalu menutup pintu kamarnya. "Saya Azdhan Zakhair Athar." "Saya Mia Carina." Mereka saling memperkenalkan diri tanpa berjabatan tangan. Dalam benaknya Mia merasa ada yang aneh. "Apa yang terjadi? Tidak ingin terlalu berbasa-basi, Azdhan pun akhirnya memperkenalkan siap dia. "Saya adalah ayah dari Rafka Zakhair Athar." Mia tertegun sejenak, menatap tidak percaya akan berhadapan langsung dengan orang terkaya yang paling berpengaruh di Indonesia. Sebelumnya Mia juga sudah berpikir kalau keluarga Athar akan datang menemui dirinya, karena cucu kesayangan mereka ada bersama dengannya, tetapi Mia tidak tidak menyangka keluarga Athar akan menemuinya secepat ini. Menurut kabar yang beredar, seseorang yang ada di hadapannya ini memiliki karakter rendah hati, tegas, juga merupakan orang yang paling disegani di dunia bisnis. Bukan hanya Azdhan, beliau memiliki adik seorang pria bernama Chris Daniel Athar yang juga memiliki sifat ramah tamah, juga tidak kalah terkenalnya dengan sang kakak di dunia bisnis. Entah apa yang ada di dalam pikiran Azdhan. Ia nampak bengong sejenak, sebelum akhirnya Mia pun membuka suara. "Halo, kedatangan anda ke sini untuk menjemput Tuan Muda?" Tuan Azdhan mengangguk, sambil melirik ke dalam, dan bertanya, “Bisakah aku masuk?” “Tentu saja bisa.” Dengan cepat Mia mempersilahkan Tuan Azdhan untuk masuk. Setelah mendapatkan izin, Adzhan melangkah masuk. Dengan postur tubuhnya yang tinggi besar, membuat ruangan kecil itu semakin sempit. Azdhan tidak perduli, tetapi tanpa disadari dalam benak ia berkata. "Meskipun rumahnya kecil, dengan ruangan yang sempit, tetapi di dalamnya didekorasi sedemikian rupa, hingga menjadi ruangan yang nampak sangat indah." Bukan hanya itu, saat ia melangkah menuju di mana kursi berada, Adzhan melihat ada beberapa makanan yang tersaji di atas meja makan, terlihat asap panasnya masih mengepul ke udara. Entah kenapa tiba-tiba terlintas dalam benaknya, berada di dalam unit rumah susun ini, ia dapat merasakan kehangatan keluarga. "Tidak jauh berbeda dengan informasi yang ia dapat." Pasalnya, sebelum ia melakukan perjalana menemui Mia, Azdhan sudah disuguhi identitas Mia yang ia dapat dari sekretarisnya, Naina. Demi keamanan juga kenyamanan tuannya. Setelah tidak ada masalah dengan informasi yang ia dapat, barulah Azdhan melakukan perjalanan. Saat sekretarisnya mengatakan kalau putranya sedang dekat dengan seorang wanit, Azdhan sempat berpikir kalau wanita itu pasti memiliki tujuan lain dengan cara mendekati Rafka. Dia lebih tau bagaimana karakter putranya. Anak kecil itu jarang sekali dekat dengan wanita dan Rafka tidak pernah suka kalau ada wanita yang coba mendekatinya. Mia berdiri di belakang tuan muda tanpa tahu apa yang ada di dalam pikiran pria itu, dia hanya melihat Azdhan sedang memperhatikan makanan di atas meja dan hal itu membuat Mia merasa malu. "Hanya itu yang saya miliki, mungkin tuan muda Rafka tidak terbiasa memakannya." Ketika Azdhan mendengar kata-kata itu, dia berkata dengan ringan, "Rafka tidak memiliki kesulitan dalam memilih makanan, dia bisa makan apa saja." Pria itu menoleh ke belakang, lalu berterima kasih. "Terima kasih Anda sudah merawat putra saya dengan baik. Maaf kalau dia sudah merepotkan Anda." Mia dengan cepat melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak, Tuan Azdhan. Putra anda sangat baik, dia bahkan ...." Kalimatnya menggantung di udara saat Azdhan memotong kalimat yang belum terucap sempurna. "Aku akan memanggil putraku, Anda bisa tunggu di sini." Sambil berbicara, Tuan Azdhan berjalan ke arah pintu kamar, mengetuk pintu tersebut seraya manggil, "Rafka. Saatnya kita pulang, keluarlah!" Dia berteriak dari luar, tetapi anak kecil itu tidak sedikitpun merespon panggilannya. Rafka tidak mengatakan sepatah kata pun. Anak kecil itu sepertinya berharap kalau sang ayah akan marah, tetapi dengan sabar ia berkata, "Sudah waktunya untuk berhenti marah selama tiga hari. Kamu bukan lagi anak berusia tiga tahun, Rafka." Ketika Mia mendengar ini di belakangnya, dia ingin tertawa tanpa alasan. Sedangkan tuan muda Rafka maasih acuh tak acuh menanggapi panggilan ayahnya. Tuan Azdhan mengerutkan kening, dan nadanya menjadi dingin, "Rafka dengarkan ayah. Cepat keluar sekarang, atau ayah yang akan masuk dengan mendobrak pintu ini!" Sepertinya ada sedikit pergerakan dari dalam, akan tetapi tuan muda kecil itu masih enggan untuk keluar. Sebuah ancaman yang Tuan Azdhan katakan akan mendobrak pintu, cukup membuat Mia merasa takut, hingga akhirnya ia pun melangkah maju, menghampiri ayah dari anak yang saat ini sedang mengurung diri di dalam kamarnya. "Tuan Azdhan, tuan muda kecil belum mau membuka pintunya, di belum mau keluar menemui anda. Bagaimana kalau saya yang coba merayu, mungkin tuan muda Rafka bersedia keluar," tawar Mia, menawarkan bantuan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN