Mia Carina tertegun sejenak, ia tidak bisa lngsung menjawab atau mengambil sikap dengan cepat karena hal ini terlalu mengejutkan. Celine yang saat ini berdiri di sebelahnya pun mengedipkan mata sebagai isyarat kepada Mia seolah meminta ia untuk segera mengambil keputusan yang tepat dengan mengikuti semua keingina tuan muda.
Banyak keuntungan yang akan mereka dapat dengan mendekati salah satu keluarga besar Athar, salah satunya dengan Tuan Muda Rafka yang kebetulan sangat menyukai Mia Carina yang akan membawa dampak positif bagi perusahaan mereka.
Tidak ada pilihan, Mia Carina akhirnya kembali menggendong Rafka, membuat anak kecil itu nampak bahagia, lengannya lebih erat memeluk leher Mia dan tatapannya begitu bersinar.
"Kamu suka berada di pelukanku?" tanya Mia menatap lekat-lekat wajah tampan Rafka yang memiliki daya tarik yang entah kenapa lebih kuat dari anak-anak kecil lain yang juga dekat dengannya.
Anak kecil itu mengangguk kegirangan. Mereka berjalan keluar dari gedung, lalu berhenti di depan mobil yang sudah terparkir. Mobil mewah milik orang tua Rafka, yang harganya bisa dipastikan lebih dari miliaran rupiah.
Setelah berada di luar, Mia pun mengucapkan ucapan terima kasih kepada Rafka. "Terima kasih ya, Sayang. Kamu sudah melampiaskan kemarahanku terhadap Manager Yuanita."
"Sama-sama, Tante. Orang yang ada di dalam itu sangat jahat, aku tidak terkejut dengan wanita seperti dia, karena ada banyak wanita jahat di sekitar ayahku. Bagiku itu sudah biasa," ungkap Rafka, membuat Mia menatap tidak percaya dengan kata demi kata yang diucapkan, tidak seperti anak usia lima tahun pada umumnya, dia sangat pemberani, terlihat sedikit dewasa.
Mia terkikik lucu mendengarnya. "Kamu baru berusia beberapa tahun, kamu terlalu percaya diri mengatakannya," ucap Mai seraya mencubit gemas pipi Rafka.
Rafka menghela nafas dan berkata dengan sungguh-sungguh. "Tidak. Tapi, aku cukup tau mereka, wajah ayahku terlalu tampan, wanita-wanita itu seperti lalat dan mereka terlalu menyebalkan untuk berada di sekitar ayahku sepanjang hari. Namun, kamu sangat berbeda, Tante. kamu cantik dan lembut , aku sangat menyukaimu, jadi aku berencana untuk membungkusmu."
Mendengar apa yang barusan tuan muda itu ucapkan, tiba-tiba Mia tersandung saat menuruni satu tangga di depannya, bertanya-tanya apakah dia salah dengar atau tidak.
"Bungkus!" pinta Rafka.
"Bungkus?" sambung Mia dengan dahi mengerut. Semua kata yang diucapkan anak kecil itu, membuat seorang Mia Carina tidak berhenti tertawa. "Apakah kamu tau apa arti dari bungkus? kamu akan mengemas aku seperti kamu mengemas paket?" ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menurunkan anak kecil itu, karena ia juga harus kembali bekerja.
"Entahlah. Aku tidak tahu dan sekarang aku membutuhkan jawabanmu, Tante. Kalau Tante diam, akan aku anggap Tante setuju dengan semua permintaan aku."
Mia menjawab sambil tersenyum. "Iya. Aku setuju."
Mata anak kecil itu berbinar, lalu bertanya lagi. "Benarkah? Kalau begitu Tante akan pulang denganku sekarang?" sudut bibirnya membentuk simpul, ia terlalu bahagia mendengar jawaban yang Mia berikan.
Anak kecil itu sangat menggemaskan. Membuat semua orang yang meliht pasti ingin menciumnya. Akan tetapi, Mia Carina menahan diri dan berkata sambil tersenyum. "Pulanglah! ini sudah terlalu siang. Apakah untuk hari ini sudah cukup?"
Tidak menerima lelucon. Wajah Rafka tampak serius, lalu kembali berkata, "Kamu sudah setuju denganku, aku bahkan sudah melindungimu, kenapa kamu ingin kembali bekerja dengan wanita jahat itu? Apa kamu berbohong kepadaku? Ayahku berkata bahwa jika kamu berbohong dan berbohong, hidungmu akan tumbuh lebih panjang."
Kali ini wajah menggemakan itu nampak serius, Mia yakin ini bukan sebuah lelucon seperti yang sebelum-sebelumnya. Hanya saja, bagi dirinya ini terlalu aneh. Bagaimana dia bisa mengucapkan kata-kata booking ketika dia masih sangat muda?" batin Mia.
Selama percakapan, beberapa orang sudah menuruni anak tangga, mobil mewah itu terpekir dengan sempurna di depan mereka, lalu kedua pengawal tuan muda pun membuka pintu mobil, tetapi Taun Muda Rafka masih menunggu jawaban dari Mia Carina.
Mia tidak tau harus bagaimana. Ia tidak mungkin masuk begitu saja ke dalam mobil nan mewah tersebut. Sehingga Mia harus memutar otaknya dan kembali bicara, "Sayang, bagaiman kalau kita bahas masalah ininya nanti saja? Tante harus pergi bekerja lagi, jadi untuk sekarang, kamu pulanglah dulu, kita bahas masalah booking–nya nanti saja."
“Tidak! kamu sudah berjanji padaku, kamu tidak bisa meninggalkan aku apa lagi kembali bekerja dengan wanita jahat itu," kata tuan muda Rafka dengan tegas.
Keadaan semakin sulit, kedua pengawal itu tidak berbuat apa pun, mereka hanya sebagai penonton tanpa bisa memberikan ia jalan keluar untuk Mia menolak ajakan dari tuan mudanya itu.
"Ini salahku, kenapa juga tadi aku berkata iya, aku benar-benar bodoh, aku mengiyakan semua keinginannya tanpa memikirkan dampaknya. Kalau sudah seperti ini, apa yang bisa aku lakukan?" haruskan aku membohongi anak kecil ini? Tapi, kalau seperti itu aku tidak sampai hati melakukannya," batin Mia terus bergelut dengan pikirannya sendiri.
Tepat ketika Mia dalam kesulitan, si kecil itu pun berkata lagi, "Apakah kamu tidak ingin pergi ke rumahku?"
Mia mengangguk, "Bukan tidak mau, Tante mau saja pergi ke rumahmu. Tapi, keluarga besar Athar adalah keluarga terpandang, pasti ada banyak aturan di dalamnya, lalu bagaimana jadinya kalau tiba-tiba kamu membawa tante ke rumahmu tanpa alasan, apakah mereka akan menerima kedatangan tante? orang asing yang belum mereka kenal sama sekali, apa lagi kalau keluagamu tau kalau tante hanya seorang karyawan biasa? Tante tidak yakin."
Tuan Muda Rafka memiringkan kepalanya seraya berpikir dan sepertinya apa yang Mia katakan itu ada benarnya dan masuk akal, lalu ia pun berkata, "Yah, tidak apa-apa jika Tante tidak mau pergi ke rumahku, bagaiman kalau aku yang pergi ke rumah Tante?"
"Uhuk uhuk..." Mia tersedak. Ide anak kecil itu selalu mengejutkan.
"Kenapa? Tante baik-baik saja?"
Mia masih terbatuk, Rafka merasa tersinggung atas sikapnya.
"Apakah Tante tidak menyukaiku?" Matanya berkaca-kaca, ia nampak sedih, sakit hati, air mata pun mengalir begitu saja.
"Tidak, Tuan Muda. Bagaimana mungkin tante tidak menyukaimu?"
"Tapi, tante tidak mau dekat-dekat denganku, Tante menolak semua permintaanku."
Melihat anak kecil itu menangis, sedetik kemudian Mia pun mengangguk setuju. "Oke, oke. Tante akan ajak kamu pulang ke rumah Tante. Jangan menangis lagi ya."
Setelah selesai berbicara, dia langsung membawa Rafka masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang. Anak kecil itu langsung memeluk Mia, tersenyum bahagia, akhirnya ia bisa selalu bersama Mia.
***
Kantor MZ Corporation, bertempat di dalam ruang kerja presiden direktur Azhan Zakhair Athar saat ini sedang duduk di atas kursi kebesarannya, tengah melihat laporan keuangan perusahaan MZ Corporation.
Sekretaris Naina masuk dengan membawa secangkir kopi, meletakkannya di atas meja, lalu menyampaikan laporannya. "Tuan, pengawal tuan muda baru saja menelepon dan berkata bahwa dia pergi ke perusahaan Even Organizer dan membuat kekacauan di sana."
Tuan Azdhan duduk tegak, tanpa mengangkat kepalanya dan menjawab dengan ringan, "Jika dia ingin membuat masalah, biarkan dia membuat masalah, selama dia tidak marah. Kalu perusahaan itu mengalami kerugian, segera ganti kerugiannya."
Sekretaris Nina terbatuk ringan, lalu kembali berkata. "Tidak ada kerugian, Tuan. Tapi ...." Naina tampak ragu ingin mengatakannya, tetapi hal ini harus ia sampaikan. Sehingga akhirnya Sekretaris Naina pun kembali memberikan laporan. "Yang saya dengar, Tuan Muda Rafka membawa pulang oleh seorang wanita."
"Wanita?" kejut Azdhan, akhirnya ia mengangkat kepalanya, alisnya yang tebal sedikit mengernyit, "Wanita apa maksud kamu?"
"Sepertinya dia adalah pegawai wanita di perusahaan event organizer yang sangat luar biasa. Pengawal tuan muda mengatakan kalau tuan muda sangat menyukainya sejak mereka pertama kali bertemu. Bahkan pengawal mengatakan tuan muda memerintahkan kepada mereka untuk membungkus wanita itu," ungkap Sekretaris Naina sedikit malu-malu.
Ketika Azdhan mendengar kata-kata itu, wajahnya tiba-tiba tenggelam seraya memberikan perintah kepada sekretarisnya. "Beri tahu Fairus, lain kali kalu mengajari putraku beberapa kosakata yang berantakan, aku akan dipindahkan dia ke Afrika untuk mengelola bisnis, dan aku tidak akan pernah membawa mereka untuk kembali selama-lamanya.
Sekretaris Naina mengangguk. "Baik, Tuan. Akan saya sampaikan."
Sekretaris Naina buru-buru mengambil nampan, kemudian Sekretaris Naina
bertanya dengan hati-hati, "Apakah Anda perlu mengirim seseorang untuk menjemput tuan muda kecil?"
Tuan Azdhan mencubit alisnya yang terasa pening dan berkata, "Biarkan aku yang menjemput dia. Katakan, di mana dia sekarang?"
"Rumah susun Kebun Kacang."
Azdhan hanya mengangguk tidak mengatakan apa-apa. Ia langsung mengambil kunci mobil di dalam laci, bangkit dari duduknya dan pergi tanpa sepatah kata pun.