Raut wajah Lucie tampak puas. Dia menjawab dengan santai. "Bukan apa-apa. Sebenarnya di masa lalu Mia pernah ..." Meski kata-kata Lucie belum sepenuhnya terucap, Mia tahu persis kalimat apa selanjutkan yang akan wanita itu ucapkan. Untuk sesaat suasana hati Mia tenggelam, dia merasa saraf di kepalanya sudah putus. Mia mengepalkan jari-jarinya sangat erat, dalam benak dia bertanya, "Kenapa? Kenapa mereka ingin sekali mempermalukan aku di hadapan dunia? kenapa mereka masih saja mengganggu kehidupanku? kenapa mereka tidak membiarkan aku pergi dan hidup dengan tenang?" Melihat Lucie akan melanjutkan ucapannya, pupil mata Mia berkerut, lalu di detik berikutnya Mia bangkit dari duduknya, tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menampar Lucie. Setelah menampar Lucie, raut wajah Mia menjadi s

