Berbagi Tempat Tidur

1462 Kata
"Aku tidak mau pergi!" Anak kecil itu berteriak, berontak saat ia dibawa paksa oleh ayahnya, Azdhan. Mia melambaikan tangan, ada perasaan aneh bersarang di hatinya tatkala menyaksikan kepergian Rafka bersama ayahnya. Setelah mereka pergi, Mia masuk ke dalam rumah, dalam sekejap kediaman Mia terasa sepi, kosong, hanya ada dia seorang. Selepas anak itu pergi, tidak ada lagi keseruan, dia sedikit linglung, Mia segera menyadarkan diri dengan menepuk kepalanya berusah untuk berhenti memikirkan apa yang terjadi kepadanya. Hanya seorang anak kecil. Anak yang baru bertemu dengannya kurang dari satu hari, mengapa ia begitu berat melepaskan Rafka kepada ayahnya? atau mungkin karena tuan muda kecil itu sangat menggemaskan? ** Mobil dengan logo M terletak di depan kap yang ditumpangi oleh Rafka juga sang ayahnya, Azdhan. Saat ini tengah melintasi malam yang cerah kota Jakarta dengan kecepatan sedang menuju kediamannya yang terletak di kawasan elit. Rafka yang masih marah, memalingkan wahanya ke arah lain, masih merasa malas kalau harus menatap wajah ayahnya, apa lagi untuk berbincang dengannya. Sikap Rafka hari ini membuat kepala Azdhan terasa pening. Ia mencubit dahinya, tidak berencana untuk membujuk. Dia terlalu dimanjakan oleh anggota keluarga, sehingga untuk mengatasi kemarahan anak kecil itu harus melibatkan banyak orang, harus selalu mereka yang menyesuaikan keiginan Rafka. Larut dalam suasana hening perjalanan, mobil yang mereka tumpangi tidak terasa sampai di tempat tujuan. Pintu gerbang dibuka lebar-lebar, mobil melaju perlaha memasuki rumah mewah dan berhenti di depan pintu utama. Begitu pintu mobil dibuka oleh seseorang di luar, tuan muda kecil itu turun dari mobil langsung berlari masuk ke dalam rumah dengan perasaan marah. Para pelayan dan pembantu rumah tangga di sepanjang jalan menyambutnya dengan hormat, tetapi Rafka tidak perduli, dia tidak menanggapi dan memilih terus berlari menuju kamar, menguncinya dari dalam. Setelah beberapa saat, terdengar suara berderak, benda-benda dilemparkan ke lantai, bahkan ada suara kaca pecah yang dilemparkan ke dinding. Pengurus rumah tangga ketakutan ketika ia mendengar dari luar pintu. Dia buru-buru pergi menemui Tuan Azdhan di lantai bawah, hendak melaporkan kejadian yang mengerikan terjadi di dalam kamar Rafka. "Tuan, apa yang terjadi dengan tuan muda kecil?" tanya salah satu pengurus rumah tangga. "Dia mengunci diri di kamarnya, tuan muda kecil melempar semua benda yang ada di sana, saya khawatir terjadi sesuatu dengannya, Tuan. Saya takut tuan muda Rafka melukai dirinya." Azdhan yang saat ini tengah duduk bersandar di atas sofa merasa enggan untuk membuka mata, lalu memerintahkan pengurus rumah tangga itu untuk tidak terlalu diperdulikan. "Abaikan saja dia!" Bagaimana bisa kepala pelayan mengabaikan tanggung jawabnya? Tuan Azdhan tidak perduli dengan tuan muda kecil, tidak perdulu dengan rasa kesal yang tengah dirasakan putranya, jika terjadi hal buruk kepada taun muda kecil, maka dia sendiri yang akan kerepotan, bahkan seluruh keluarga akan merasa pusing. "Tuan Azdhan. Ikutlah denganku untuk melihat tuan muda kecil. Bagaimanapun taun muda Rafka masih berusia lima tahun, dia belum mengerti apa-apa, jadi wajar kalau anak seusia dia suka marah-marah. Jika Anda mau membujuknya dengan lembut, saya yakin tuan muda Rafka mau mendengarkan Anda." Azdhan memijat pangkal hidungnya yang terasa pening, lalu ia pun berdiri sambil mendengus ia berkata. "Kapan anak itu tidak membuat aku marah?" Pria yang memiliki tubuh tinggi kekar itu berjalan cepat menaiki anak tangga menuju kamar putranya. Begitu sampai di depan kamar, Azdhan pun mengetuk pintu seraya berkata, "Rafka Rafardhan Athar. Kapan kamu akan berhenti berbuat masalah?" Tidak ada respon. Hanya terdengar suara benda jatuh, juga ada suara dengungan ringan di ujungnya, membuat Hati dan pikiran Tuan Azdhan juga kepala pelayan rumah tangga, merasakan perasaan gusar. Tuan Muda mulai takut sesuatu hal buruk terjadi kepada sang putra, hingga akhirnya ia pun mengangkat satu kali, lalu menendang pintu kamar hingga terbuka. Begitu pintu terbuka, mereka dibuat terkejut saat melihat Rafka duduk di lantai, dengan keadaan luka di jari dan mengelurkan cukup banyak darah. Dengan sigap kepala pelayan itu memanggil pelayan lainnya seraya memberikan perintah. "Cepat ambilkan kotak obat di atas meja!" Tuan Azdhan melangkah maju. Berjalan dengan sangat hati-hati melewati puing-puing hendak menghampiri Rafka dengan wajah marah, kesal. Setelahnya ia pun mengangkat tubuh mungil itu sambil berkata, "Apakah kamu bahagia setelah berbuat kekacauan?" Anak kecil itu mengangkat kepalanya, lalu berkata, "Aku ingin bertemu dengan Tante Mia." Dengan tegas sang ayah menolak. "Tidak akan pernah ayah izinkan!" Tuan muda kecil mulai berontak, ia berteriak sambil melontarkan sebuah ancaman. "Kalau begitu aku tidak mau mengobati luka, aku tidak mau membalut tanganku. Aku hanya ingin Tante Mia, biarkan aku pergi, aku sangat membenci ayah!" "Mengapa kamu begitu menyukai wanita itu?" Suara Azdhan berteriak. Telah habis kesabaran ia menghadapi keinginan putranya. "Kamu belum mengenal jauh wanita itu. Kamu baru bertemu dengannya satu kali, bahkan tidak lebih dari dua belas jam!" "Tapi aku hanya menginginkan Tante Mia! Dia seperti ibu bagiku." Rafka mengatakan dengan perasaan sedih, matanya berkaca-kaca, membuat emosi Tuan Azdhan tiba-tiba menghilang. "Aku hampir lupa kalau Rafka berbeda dengan anak-anak lain. Dia tidak memiliki ibu, dia bahkan belum pernah melihat wajah ibunya seperti apa," batin Azdhan bergumam. Di masa lalu, Azdhan sempat dekat dengan seorang wanita yang juga memiliki seorang anak perempuan. Dia berencana ingin menikahi wanita tersebut, ingin memiliki keluarga yang lengkap. Akan tetapi, Rafka tidak menyukainya. Rafka malah lebih mudah tertarik kepada Mia, wanita yang ia temui tidak lebih dari dua belas jam. Perasan Azdhan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Dia merasa ragu kalau harus mempertemukan mereka lagi. Wanita yang ia sendiri tidak tahu bagaimana identitas aslinya seperti apa. Dengan sangat terpaksa, ia pun harus kembali bicara, "Kita bicarakan hal ini nanti, ya!" "Tidak mau. Aku hanya ingin pergi menemui Tante Mia setelah membalut luka!" kekeh Rafka. “Ini sudah sangat larut." Tuan Azdhan coba membujuk. Anak kecil yang paling berharga itu pun mulai menangisi, air matanya mengalir deras membasahi pipinya seraya berteriak, "Aku tidak menginginkan Ayah lagi! Pergilah!" Kepala pengurus rumah tangga bernama bibi Lasmini merasa khawatir, ia kasihan melihat Rafka menangis, lalu ia pun mulai membujuk. "Tuan muda Rafka. Anda boleh marah. Tapi, luka di tangan Anda harus segera diobati. Kalau tidak, maka darahnya akan mengalir terus." Mungkin agak sedikit berlebihan. Tapi, bagaimanpun juga luka harus segera diobati. Azdhan menggerakkan giginya beberapa saat. Lalu, ia pun dengan sangat terpaksa mengalah demi kebaikan, lalu mulai berkompromi. "Jangan menangis, aku akan membawamu ke sana setelah membalut lukanya." Ketika Rafka mendengar kata-kata itu, dia segera berhenti menangis, lalu ia mengangkat tinggi-tinggi tangannya ke udara, merasakan senang. Ketika perban berhasil membalut luka pada jari Rafka, Tuan Azdhan tidak mengatakan apa-apa, ia langsung memeluk putranya, lalu meninggalkan rumah lagi, demi mengikuti apa yang putranya inginkan. *** Saat itu, Mia baru saja selesai mandi, lalu mendengar bel pintu berbunyi. Ia yang baru saja mengenakan pakaian, berjalan menuju pintu sambil mengeringkan rambut yang masih basah dengan handuk kecil. Ketika ia membuka pintu, ia terkejut saat melihat seorang pria bertubuh besar, juga seorang anak kecil yang begitu menggemakan berdiri di depan pintu rumahnya. "Tante Mia!" teriak anak kecil itu sangat antusias. Azdhan memeluk Rafka, lalu Mia meminta mereka untuk masuk. Setelah berada di dalam rumah, Azdhan yang sebetulnya tidak enak hati itu pun langsung berkata pada intinya. "Nona Mia. Jika Anda tidak keberatan, kami mungkin akan mengganggu anda sepanjang malam, karena Rafka tidak berhenti berteriak ingin bertemu dengan Anda." Dengan gembira, Mia melambaikan tangan seraya berkata, "Tidak masalah, tidak masalah." Ia meraih tangan Rafka, lalu membawa mereka masuk ke dalam rumahnya yang sempit. Tuan Azdhan mengangkat bibirnya sedikit, lalu ia pun duduk di atas sofa, tepat di sebelahnya. Setelah Tuan Azdhan duduk, Mia dibuat kebingungan. Dalam hati ia berkata, "Kenapa dia masih di sini? bukankah yang akan menginap itu hanya tuan muda kecil?" "Tuan Azdhan, Anda ...." "Kenapa?" sahut Azdhan. Tidak memberikan kesempatan kepada Mia, ia pun kembali bicara, "Karena Anda tidak memiliki kamar lain, saya bisa tidur di sofa," ujarnya. Mia tercengang, dalam hati ia berkata, "Apa artinya tidur di sofa? Apakah dia benar-benar akan ikut menginap?" Adzan dengan jelas melihat perubahan pada wajah Mia. Melihat ekspresi ini, sepertinya Azdhan akan merasa enggan? Kamu harus tau, bahwa di kota Jakarta ini banyak wanita yang ingin tidur bersama dengannya dan berapa banyak wanita yang berusah untuk masuk menjadi keluarga besar Athar. "Haruskan aku bangga dengan kedatangan orang special seperti mereka? Rasanya ini terlalu berlebihan," batin Mia. "Apakah ada masalah?" tanya Azdhan saat melihat raut wajah Mia yang terlihat kebingungan. Dengan cepat Mia menjawab, "Tidak, Tuan. Saya hanya sedang berpikir. Bagaimana anda bisa tidur di atas sofa? sofa milik saya sangat kecil, tidak empuk sama sekali. Jadi, bagaimana kalau Anda percayakan tuan muda Rafka kepada saya dan Anda bisa kembali lagi besok untuk menjemputnya." Mia tidak bisa membiarkan Tuan Azdhan tinggal di rumahnya. "Aku seorang wanita lajang yang miskin, kalau semua orang tau aku menghabiskan satu malam dengan pria asing, bagaiman masa depanku?" batin Mia bergumam. Tuan Azdhan terkekeh lalu berkata, "Tidak masalah saya tidur di sini. Tetapi, kalau Nona Mia memberikan setengah tempat tidur Anda, saya bersedia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN