Mia sedikit tercengang tatkal mendengar apa yang Azdhan katakan. Dalam hati ia berkata, "Berbagi tempat tidur? apa aku tidak salah dengar? atau dia yang salah mengucap? atau jangan-jangan dia ini bukan Tuan Azdhan yang banyak dibicarakan banyak orang yang katanya memiliki sifat dingin dan tegas. Kalau dia benar-benar Tuan Azdhan, bagaimana mungkin dia berkata seperti itu?"
Melihat raut wajah keraguan yang terpancar, Azdhan segera menyadari kalau dia sudah mengatakan apa yang seharusnya tidak ia katakan.
Ia terbatuk ringan, kemudian kembali dengan ekspresi dinginnya seraya berkata, "Putra saya Rafka belum mandi, sepertinya saya akan merepotkan Anda lagi. Rafkan akan memakai kamar mandinya."
Mia mengangguk. "Tidak masalah, Tuan. Silahkan," Tunjuk Mia ke arah sebelah kiri dekat dapur. Menunjuk di mana letak kamar mandi berada. Rumah sempit, begitupun dengan kamar mandi yang sempit berukuran kecil, bahkan mungkin sangat kecil.
Setelahnya ia pun masuk ke dalam kamar mandi, sementara Mia menyiapkan pakaian untuk anak kecil itu.
Ia membuka pintu lemari, seketika hatinya terasa perih saat melihat semua pakaian yang ada di dalam sana tersusun dengan rapi, pakaian anak yang ia beli setiap empat kali dalam satu tahun, ia menyimpannya penuh harap, walaupun ia sendiri menyadari tidak akan ada harapan untuk bertemu lagi dengan bayi yang sudah ia lahirkan yang sudah ia tukar dengan selembar cek.
Air mata mengalir begitu saja tatkala mengingat kejadian di masa lalu, masa yang tidak akan pernah bisa diulang kembali untuk ia perbaiki.
"Sungguh aku ibu yang jahat. Maafkan ibu, Nak," gumamnya dalam hati.
Segera ia menyadarkan diri, lalu mencari baju untuk Rafka. Kebetulan usia Rafka sama seperti usia putranya, Mia mengambil satu set piyama berwarna biru dengan gambar seekor sapi, terlihat sangat pas untuk anak kecil itu.
"Sangat lucu," ucapnya pelan sambil menatap baju tersebut. "Aku harap dia menyukai baju ini. Kalau tidak, baju mana lagi yang akan ia pakai?" Mia terkekeh sendiri.
Sekitar dua puluh menit tuan muda kecil itu berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri, akhirnya ia pun keluar dengan aroma wangi yang bersumber dari tubuhnya setelah memakai sabuk milik Mia.
Mia menghampiri anak kecil itu, lalu memakaikan baju yang sudah disiapkan. Tidak menyangka, baju yang Mia pakaikan ternyata sangat pas di tubuh mungil Rafka, membuat Mia cukup terkejut, seakan baju itu sudah ia siapkan untuknya.
Azdhan terkejut saat melihat Mia membawa Rafka keluar sudah dengan keadaan bersi, rapi, bahkan wangi yang bersumber dari tubuh putranya mampu terendus dari kejauhan. Matanya menatap penuh tanya. Tetapi, dengan segera Azdhan bersikap biasa saja.
Bukan tidak ingin menyapa, atau sekedar basa-basi. Mia memilih langsung masuk ke dalam kamar, karena tidak ingin terlalu dekat dengan Tuan Azdhan, ia khawatir saat begitu dekat, Tuan Azdhan akan mengetahui masa lalunya.
Untuk itu, setelah Rafka selesai mandi, Mia langsung membawa anak kecil itu ke dalam kamar. Mia mengambil satu selimut, lalu kembali keluar seraya menyerahkan selimut tersebut sambil berkata, "Sofanya sangat kecil. Mungkin tidur Anda tidak akan nyaman."
"Tidak apa-apa. Terima kasih untuk malam ini."
Azdhan menerima selimut itu, tidak sengaja ia menyentuh punggung tangan Mia dengan jarinya.
Ketika kulit mereka saling bersentuhan, Mia sempat membeku beberapa saat. Ada sedikit rasa tidak nyaman di dalam hati, pipinya berubah merah malu, ia pun segera menarik tangannya.
Lalu, bagaimana dengan perasan yang Azdhan rasakan? sepertinya hal yang sama terjadi kepada Azdhan. Saat kulit mereka bersentuhan, mata Azdhan meredup, sedikit terpana atas kecantikan yang Mia miliki.
"Apa yang terjadi kepadaku?" gumam Azdhan. Ia merasakan hal aneh, tiba-tiba saja hatinya memeleh saat itu juga. Menakjubkan bukan?
Mia sama sekali tidak tahu apa yang sedang Tuan Azdhan pikirkan sekarang. Ia kembali ke dalam kamar, membiarkan Azdhan tidur di sofa sendirian.
Keberadaan Azdhan di rumahnya membuat Mia tidak nyaman. Setelah cukup lama berbaring, Mia memutuskan kembali keluar hanya untuk memeriksa pria itu sudah tidur atau belum.
Mia melihat Azdhan sudah berbaring di atas sofa dengan mata tertutup dan napasnya pun terlihat stabil. Dalam benak ia berkata, "Sepetinya Tuan Azdhan sudah tidur." Mia menghel napas lega, lalu mematikan lampu, ia pun kembali ke kamarnya.
Dia yang dianggap sudah tidur pun tiba-tiba membuka mata. Ruangan sudah dalam keadaan gelap, tetapi wanita cantik yang mengenakan piyama bergambar beruang itu terus bersarang di dalam pikiran seorang Azdhan. Untuk beberapa alasan Azdhan merasakan darah mengalir deras di tubuhnya, ada reaksi samar dari hati yang sulit untuk dikendalikan.
Pintu kamar Mia dalam keadaan tidak tertutup, membuat fokus Azdhan sulit dikendalikan saat melihat ke arahnya. Azdhan terpaksa harus bangkit dari tidurnya, lalu menutup pintu itu.
"Apa yang terjadi kepadaku?" batin Azdhan.
Ia tidak ingin mengakui perasan yang tengah ia rasakan. Sesunguhnya Azdhan sudah jatuh cinta kepada wanita yang baru dikenalnya kurang dari satu hari.
***
Keesokan harinya, ketika Mia bangun, ia melihat Azdhan sudah tidak ada di sofa. Hanya ada sebuah catatan kecil di atas meja yang bertuliskan. "Untuk hari ini jangan pergi bekerja. Tolong jaga Rafka, saya akan menjemputnya sendiri nanti malam. Untuk kerugian yang kamu alami hari ini karena bolos bekerja, saya akan kompensasikan."
Setelah membaca surat tersebut, sejenak Mia terdiam seraya berpikir, "Ayah macam apa seperti itu? tega sekali meninggalkan putranya dengan seorang wanita yang baru ia kenal. Apakah dia bisa bekerja dengan tenang? Bagaimana kalau aku ini jahat?" gerutu Mia.
Setelah cukup lama mengeluh, Mia mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu menghubungi manager untuk meminta cuti.
Awalnya Mia berpikir tidak akan ada harapan, karena saat ini perusahaan tempat dia bekerja sedang sibuk. Namun, diluar dugaan sang manager mengatakan, "Saya tahu kalau keluarga Athar memberikan sebuah perintah kepadamu. Beliau mengatakan kalau saat ini kamu sedang mendiskusikan proses perjamuan dengan detail bersama mereka. Sanggupkah kamu mempertahankannya sampai akhir? kalau kamu mampu, perusahaan akan memberikan bonus kepada kamu di akhir bulan sebesar seratus juta."
Mia terkejut. Ia tidak menyangka dengan apa yang dikatakan atasnnya. Seratus juta? Dengan uang itu, ia dapat memenuhi tagihan medis ibunya selama beberapa bulan ke depan.
"Aku benar-benar tidak menyangka, ternyata dekat dengan anak kecil ini membawa banyak peruntungan," batin Mia.
***
Pada saat ini. Azdhan berada di kantor sedang bersama dengan sekretaris–nya, Naina. Ia melaporkan rencana perjalan hari ini kepada atasannya dan semua berjumlah sepuluh.
"Ini adalah rapat pemegang saham. Pada pukul sebelas, pertemuan jarak jauh cabang asing. Pukul dua siang, anda punya janji dengan Tuan Gerald dari Bank Asia Pasifik. Diskusi pukul empat dengan presiden Direktur dari Universal Group mengundang Anda untuk bermain golf. Pukul tujuh di malam hari, ada acara ulang tahun dari kelurga Gio, Anda harus hadir."
Azdhan fokus membolak-balik informasi tanpa mengangkat matanya, "Saya akan memimpin tiga pertemuan di pagi hari, dan membiarkan Daniel menghadiri untuk saya di kegiatan sore dan malam hari."
Naina hanya bisa mengangguk. "Iya."
Seketika sebuah seruan datang dari arah pintu, menyahuti ucapan Azdhan. "Mengapa saya mendengar daftar panjang pekerjaan yang dibebankan kepada saya? Saya baru saja datang dari perjalan bisnis, Kakak. Apakah kamu sudah gila membebankan itu semua kepada saya?" seru Daniel masih berdiri di ambang pintu.
Orang yang datang adalah tuan muda kedua dari keluarga Athar, yang juga memiliki jabatan kuat di perusahaan MZ Corporation.
Meskipun dia sedikit pemarah, dia tidak ingin terlihat lemah dari saudaranya dalam hal berbisnis. Selain itu, dia juga sangat tampan dalam penampilan, menarik dan elegan, dia sering mewakili keluarga Athar dan tampil di depan umum di depan media, yang pada akhirnya ia mampu membuat banyak wanita tunduk.
Harus diakui kalau popularitasnya tidak kalah dengan Tuan Azdhan.
Pada saat ini, kaki depan Daniel baru saja menginjak ambang pintu, dan kaki belakangnya berhenti, sepertinya dia ingin melarikan diri.
Azdhan menoleh perlahan, matanya menatap tajam setajam pisau dan dia memerintahkan dengan nada tanpa kompromi. "Masuk!"
Daniel tampak bingung, juga sedih dan mondar-mandir dengan gusar.
Sekretaris Naina harus menutupi kekurangan dalam menyambutnya dengan tatapan simpati, "Tuan Muda Kedua."
Daniel melambaikan tangannya, Dia harus menjawab, dan menyerahkan dokumen di tangannya kepada sang Kakak.
Kehadiran Dia hanya untuk menyampaikan materi. Dia tidak mengharapkan bencana seperti itu, jadi dia tidak bisa membantu tetapi ingin menyelamatkannya, "Saudaraku, aku punya janji malam ini, jadi aku mungkin tidak bisa pergi ke tempatmu,"
Tuan yang dingin itu membuat Daniel terluka "Kamu adalah adik saya. Tidak bisakah kamu membuat janji untuk saya?"
Tidak," jawab Daniel tegas.
“Siapa yang mengajarkan kamu bilang begitu?"
Kali ini dia bergeming.
Azdhan mencibir, "Minum dan bersenang-senanglah di acara pertemuan nanti, jika kamu tidak melakukan perintah, lebih baik tidak perlu dilakukan. Jika kamu memiliki kemampuan, menikah lah dengan seorang wanita dan kembali. Saya pikir orang tuamu akan sangat bahagia."
Ketika mendengar kata-kata itu, dia sangat ketakutan sehingga dia mundur tiga langkah, "Saudaraku, jangan membicarakan topik yang menakutkan seperti itu, oke? Saya seorang pria lajang, jadi saya tidak ingin kehilangan hidup saya hanya untuk seorang wanita saja. Lihatlah lelaki tua itu! Saya dimakan sampai mati oleh ibu saya sepanjang hari, dan setiap kali saya menontonnya, saya merasa hidup ini sangat gelap."
"Kamu tidak terlalu muda. Beberapa hari yang lalu, ibuku mengambil setumpuk foto wanita terkenal. Terlihat bagus bagiku. Aku bisa mengaturnya untukmu." Azdhan meliriknya dengan dingin, dengan nada mengancam.
Daniel seakan menangis dan berkata dengan sedih sekaligus marah, "Berapa umurku? Aku baru 27 tahun, tahun ini. Aku hanya sedikit lebih muda darimu. Kamu saja belum menikah, jadi kenapa saya yang harus terburu-buru?"
Tuan Azdhan tiba-tiba terdiam sesaat, dan berkata, "Nanti. Aku akan menikah dalam waktu dekat ini."