Perasaan Tertipu

1367 Kata
"Apa? Apa pernikahan Kakak akan segera terjadi?" Daniel tidak bereaksi untuk sejenak, menatap tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Bukan hanya Daniel, bahkan wajah Naina pun agak sedikit linglung. Keduanya saling memandang curiga lalu mereka memandang Tuan Azdhan secara bersamaan. Tuan Azdhan terdiam dan terlihat dingin, seolah orang yang barusan berbicara bukanlah dirinya, membuat orang berpikir pasti ada yang salah. Daniel yang begitu penasaran, bertanya lagi untuk memastikan. "Kakak, apakah aku tidak salah dengar? kamu baru saja mengatakan akan segera menikah?" Azdhan menjadi salah tingkah dibuatnya, Dia yang saat ini mencoba sibuk dengan pekerjaannya pun kembali bicara. "Kamu salah dengar!" Daniel menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak tidak tidak, aku mendengarnya dengan benar! Bagaimana aku bisa salah dengar? Sekretaris Naina, kamu juga mendengarnya, kan? Dia baru saja mengatakan akan segera menikah! Ada apa? Aku baru pergi beberapa hari, tiba-tiba saat aku pulang dia mengatakan akan menikah, apakah selama aku pergi aku tertinggal sebuah berita besar?" Daniel tidak bisa tenang untuk sementara waktu. Berita itu sungguh mengejutkan. Sebagai saudara dekat dengan Azdhan, dia merasa tidak mungkin tertinggal berita besar. Ia pun sedang tidak mengantuk, jadi seberapa keras Azdhan menyangkal, ia tetap percaya dengan pendengarannya yang tidak mungkin salah. "Siapa? Wanita seperti apa yang kamu temukan? Putri yang mana? Seperti apa penampilannya? Apakah dia terlihat baik? Apakah wajahnya seperti bidadari? model? pebisnis? atau anak dari kerajaan mana?" pertanyaan Daniel bertubi-tubi. Pada saat ini, Daniel tiba-tiba berubah seperti seorang orang tua yang khawatir tentang pernikahan anak-anaknya, ia mulai menyelidiki, banyak bertanya, lebih tepatnya mengintrogasi. Tuan Azdhan yang paling disegani itu duduk bersandar di sandaran kursi, dan melihat-lihat dokumen dengan anggun, seolah-olah dia tidak mendengar ocehan saudaranya. Daniel begitu bersemangat, keingintahuannya menyeruak ke dalam hati, pikiran, dia bahkan rela mengalah demi sang kakak membenarkan yang sudah ia ucapkan barusan. "Saudaraku, saudara yang baik hati, aku akan pergi bekerja dan makan malam di sore hari, aku akan menggantikanmu di pertemuan nanti malam, biar aku yang melakukan itu semua. Tapi, katakanlah siapa wanita itu, oke?" bujuk rayu Daniel membuat Azdhan merasa terganggu. "Keluar!" titah Azdhan dengan tegas sambil menundukkan wajahnya. "Aku tidak akan keluar, kamu belum memberitahukan aku siapa wanita itu! Kamu tidak bisa terus diam, Saudaraku." Daniel tak henti-hentinya memaksa. "jika kamu tidak mau mengatakannya, aku akan berbaring di lantai dan merengek." Tuan Azdhan akhirnya memberikan ancaman, "Apakah kamu masih ingin pergi ke Afrika selama tiga bulan?" Daniel tersedak dan ketakutan. Pergi ke Afrika? seperti orang yang diasingkan dari keluarga. Sang kakak tetap pada pendiriannya. Tidak bisa mengungkap rasa penasaran, akan membuat Daniel sulit tidur, tidak enak makan. *** Karena bosan Mia tidak pergi bekerja, Mia mengajak Rafka jalan-jalan ke taman, lalu pulang bersama setelah membeli beberapa bahan kue juga makan malam. Mia berencana akan membuat kue lezat juga jamuan makan malam yang spesial untuk tauan muda kecil sebelum ia benar-benar akan ditinggalkan olehnya. Mia berpikir kalau malam ini adalah malam terakhir mereka, sehingga ia pun ingin memberikan yang terbaik. Rafka adalah anak kecil yang baik. Dia tidak melakukan hal yang berlebihan, penurut dan menggemaskan. Tuan Azdhan pasti tidak akan terus tidur di sofa tersebut dan Rafka tentu saja tidak akan terus tinggal bersamanya di rumah susun nan kumuh itu. Ada rasa sedikit menyesal atas kepergian tuan muda Rafka. Tetapi, Mia pun mengerti bahwa ini hanyalah sebuah pertemuan singkat yang luar biasa dan ketika mereka kembali ke rumah besar di mana mereka berasal, mereka tidak akan pernah kembali berhubungan, semua hanya akan menjadi sebuah kenangan. Kemudian Tuan Azdhan datang seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya. Mia sama sekali tidak terkejut. Dia membuka pintu, lalu Azdhan pun masuk. "Anda baru pulang bekerja?" tanya Mia. Azdhan menjawab dengan menganggukan kepalanya, tanpa berkata. "Makan malam sudah siap. Jika Tuan Azdhan tidak menyukainya, Anda bisa membawa tuan muda kecil setelah ia selesai makan," ucap Mia sambil menunduk. Wajah Azdhan penuh makna yang dalam, lalu dia pun berkata, "Tentu saja aku tidak menyukainya. Aku juga membawa pakaian putraku ke sini." Mia tertegun untuk sejenak, tetapi dia tidak menyadari apa yang barusan Azdhan katakan, lalu Azdhan pun kembali bicara. "Rafka sepertinya tidak ingin pergi dari sini. Dia tidak akan bersedia jauh-jauh dari Anda. Jadi, maksud dan tujuan saya datang ke sini hanya untuk mendiskusikan sesuatu dengan Nona Mia, dapatkah Anda membiarkan Rafka terus tinggal bersama Anda?" Mia tercengang. Menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar. "Ini ... tidak mungkin," ucapnya tergugup. Meskipun dia sangat menyukai anak kecil itu, Mia tidak mungkin membawa Rafka untuk tinggal bersamanya sepanjang hari. Azdhan mengerti apa yang ada di dalam pikiran Mia saat ini. Lalu ia pun kembali bicara coba menjelaskan apa alasannya dengan wajah serius. "Saya mengerti hal ini pasti akan sangat merepotkan Anda. Tapi, saya benar-benar membutuhkan pertolongan anda, Nona Mia. Sejujurnya Rafka sedikit autis. Kalau sedang seperti saat ini memang tidak terlihat. Tetapi ketika dia mendapat masalah, dia sering mengunci diri di kamar, melempar barang, atau bahkan melukai dirinya sendiri. Saya telah berkonsultasi dengan psikiater dan saya telah merawatnya dengan baik, tetapi saya masih tidak dapat menyembuhkan penyakitnya," ungkap Tuan Azdhan panjang lebar. "Sebelum-sebelumnya, putra saya tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Tetapi kali ini, hanya andalah yang begitu berkesan bagi putra saya. Dia begitu menyukai Anda, Nona. Dia hanya ingin tinggal dengan Anda." Mia dalam keadaan bingung. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak menyangka kalau Rafka memiliki penyakit demikian. Selama dua hari mereka tinggal bersama, tidak pernah sekali pun ia merasakan hal yang aneh. Merasa ada yang janggal, Mia mulai berpikir kalau Tuan Azdhan sudah membohonginya. Tetapi, setelah ia mengingat hadiah sebesar seratus juta yang akan ia dapatkan di akhir bulan, Mia merasa sekarang lah waktu yang tepat membalas kebaikan mereka. Setelah memikirkan hal itu, Mia tidak lagi menolak. "Saya sudah menghabiskan waktu kurang lebih selama dua hari dengan putra Anda. Mungkin bisa saja tuan muda kecil tinggal bersama saya. Tapi, saya bekerja. Saya tidak mungkin sepanjang hari dengan putra Anda, Tuan," jelas Mia yang tidak mungkin berhenti bekerja hanya untuk menanti, menemani Rafka di rumah. "Saya setuju." Azdhan menjawab dengan cepat. Merasa tujuannya sudah tercapai, Azdhan pun merasa puas, lalu mengubah topik dengan pembicaraan lain dan berkata. "Apakah makan malam sudah siap? saya sangat lapar," ucap Azdhan seraya mengusap perutnya. Mia terkejut. Spontan dia menjawab. "Ah? Oh. Iya sudah siap. Saya akan segera menyajikannya di atas meja." Ia berjalan cepat menuju dapur, seketika langkahnya terhenti tatkala mengingat ada sesuatu hal yang tidak beres. "Mengapa aku ini terasa seperti seorang istri menyambut suaminya pulang bekerja?" batin Mia. "Omong kosong." Dia tertegun dengan pikirannya sendiri, seperti orang yang kurang waras saja bisa sampai berpikir sejauh itu. Setelah makan malam selesai, Mia mulai berdoa agar Tuan Azdhan bisa pergi dengan cepat. Namun, sepetinya Tuhan sedang ingin bermain dengannya. Setelah hati mengucapkan sebuah harapan, tiba-tiba saja ada suara guntur yang menggelegar dan setelah beberapa saat hujan deras pun mengguyur tanpa ada niat untuk berhenti sama sekali. Begitu hujan yang seolah Tuhan sengaja turunkan untuk dirinya, melihat ke luar jendela dengan wajah murung, matanya terlihat layu. Berbeda dengan mata Azdhan yang bersinar begitu hujan turun di kota tersebut. Ia mendekat ke arah jendela, lalu berkata. "Nona Mia. Jika tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya izin berpamitan. Untuk urusan Rafka, saya serahkan kepada Anda dengan kepercayaan penuh." “Apa? Anda akan pergi sekarang? Hujan belum berhenti.” Mia melebarkan matanya seolah terkejut, padahal batin berkata, "Cepatlah pergi!" Azdhan mencoba biasa saja seolah tidak perduli dengan keadaan hujan di luar yang begitu lebat, lalu ia berkata seolah sedang ingin melakukan sesuatu yang berbahaya. "Prakiraan cuaca mengatakan bahwa hujan akan terus turun malam ini dan tidak akan berhenti untuk sementara waktu. Bahkan, saya sempat melihat bahwa akan terjadi badai cukup besar." Segera ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, kembali ia bicara. "Belum terlambat, jadi saya tidak akan merepotkan Anda. Saya izin pulang." Ketika Mia mendengar kata-kata itu, dia langsung terperanjat. Betapa berbahayanya mengemudi dalam cuaca seperti ini. Bagaimana kalau hal buruk terjadi kepadanya? ini sangat berhaya. "Itu... kalau Anda bersedia, lanjutkan saja tidur di sofa untuk malam ini." Dia berkata dengan canggung. Senyum melintas di mata Azdhan dan dia berkata, "Kalau begitu aku akan merepotkanmu lagi malam ini." Dia bahkan menjawab dengan sangat antusias. Diam-diam senyumnya melebar sempurna. Melihat ekspresi wajah Azdhan, Mia mulai berpikir, "Sepertinya aku sudah tertipu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN