Chapter 5

648 Kata
Bab 5 Pulang ke Rumah Angkasa Angkasa pulang dengan wajah merah karena disiram air hangat oleh Lana. Ia sama sekali tidak marah, karena hal lebih buruk dari ini ia siap menerimanya. Semua adalah kesalahannya yang tak bisa bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil. Angkasa tidak sanggup mendengar suara teriakan sekaligus tangisan Lana karena kekecewaan dan kemarahan wanita itu pada dirinya. Semua telah terjadi, mulai kemarin ia sudah resmi menjadi suami dari Rumi dan ia akan meneruskan tanggung jawab itu sampai Bari benar-benar sembuh. Gadis yang sudah engkau anggap sebagai anak, bagaimana bisa diperlakukan sebagai istri. Sangat aneh dan pastinya tak nyaman. Berkali-kali Angkasa menghela napas kasar dan terus berusaha fokus pada kemudinya. Hari ini ia harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang hampir seminggu terbengkalai. Di rumah sakit sudah ada Rumi yang menunggui Bari, sehingga ia bisa meninggalkan sebentar untuk bekerja. Sementara itu, di rumah sakit, Rumi masih setia menggenggam jemari Bari, berharap lelaki itu membuka mata, kemudian tersenyum padanya. Sudah semalaman setelah melewati masa kritisnya, Bari belum membuka mata. Sempat sadar sebentar, lalu terlelap kembali. Rumi memperhatikan cincin yang ia pakai di jari manisnya. Cincin itu seharusnya dipakaikan oleh Bari, tapi malah calon mertua yang kini menjadi suaminya yang telah memakaikannya. Ia tersenyum miris dengan hati yang pedih. Kenapa harus ia segera menunaikan permintaan Bari yang hampir kehilangan kesempatan hidupnya? Seandainya Rumi bisa bersabar beberapa menit lagi, pasti pernikahan asal-asalan ini tak akan terjadi. Ya, Rumi menganggap pernikahnnya dan Angkasa adalah sebuah pernikahan asal-asalan yang harusnya bisa gugur. “Rumi, kenapa kamu masih di sini? Pulanglah sebentar untuk beristirahat. Jangan sampai kamu juga ikutan sakit dan malah dirawat lagi,” tegur Tiara pada adiknya. Rumi menoleh sekilas, lalu menggeleng lemah. Tiara meletakkan rantang yang ia bawakan dari rumah untuk bekal makan siangnya dan Rumi di rumah sakit. “Kenapa? Mau menunggui Bari terus? Nanti juga sadar. Doakan saja, yang penting sekarang Bari sudah melewati masa kritisnya,” ujar Tiara lagi dengan hangat. “Ah, iya … semua pakaianmu sudah Mbak antar ke rumah Pak Angkasa. Baru kali itu Mbak masuk ke rumah arsitek terkenal. Bagus dan sangat mewah. Kamu beruntung sekali Rumi.” “Mana bisa aku bahagia, Mbak. Aku dinikahi calon mertuaku sendiri. Apa menurut Mbak, aku harus bisa bersikap seolah-olah Papa Angkasa adalah Bari, lelaki yang aku cintai? Oh, tentu tidak bisa, Mbak.” Tiara berjalan mendekat pada adiknya, merangkul pundak Rumi dengan hangat, menempelkan kepalanya di kepala adiknya. “Ini adalah salah satu keunikan takdir yang ditetapkan oleh Tuhan. Kita tak pernah tahu, pada siapa Tuhan memilihkan jodoh untuk kita. Semua itu karena yang menurutmu terbaik, belum tentu sama dengan penilaian Tuhan. Saran Mbak, jalani saja dulu semua ini dengan sebaik-baiknya. Bukankah kamu menghormati Pak Angkasa? Maka perlakukanlah dia layaknya kamu hormat pada orang tua kita, kecuali suatu hari Tuhan membolak-balikkan hatimu, untuk tiba-tiba saja bisa mencintai Pak Angsaka. “Baiklah, Mbak. Saya akan pulang ke rumah Papa Angkasa, tetapi tidak sekarang. Saya masih ingin menemani Bari, siapa tahu kekasih hati saya ini ini sadar dan bisa kembali tersenyum pada saya.” Tiara pun mengalah, ia membiarkan adiknya menikmati waktu berdua dengan Bari. Keduanya bahkan menghabiskan makan siang dengan begitu lahap sambil berbincang membicarakan hal-hal ringan tentang apa saja. Tiara memang sengaja izin cuti tiga hari dari toko roti tempatnya bekerja untuk menemani Rumi. Angkasa kini sudah berada di jalan menuju rumahnya. Tubuhnya sangat lengket dan terasa begitu gerah. Sehabis mandi dan beristirahat sebentar, baru ia memutuskan untuk ke rumah sakit kembali. Angkasa menekan klakson mobil dua kali, lalu tak lama kemudian Pak Yanto membukakan pintu pagar rumah rumahnya. Angkasa membuka jendela mobil, sambil mengangkat tangan sebagai tanda menyapa Pak Yanto. Seperti biasa, ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan sedikit tergesa. Ada Bik Susi yang menyapanya ramah, begitu kakinya menaiki anak tangga pertama. “Selamat malam, Tuan,” sapa Bik Susi ramah. “Malam, Bik.” Angkasa tersenyum tipis, sebelum melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar. Cklek! “Eh! K-kamu!” “Argh!” Bugh! Lelaki itu membanting pintu kambali. Wajahnya pucat pasi bagaikan baru saja melihat hantu. Di dalam kamarnya, sudah ada Rumi yang membuka handuknya, seperti baru saja selesai mandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN