Chapter 6

1405 Kata
Bab 6 Tidur Satu Ranjang “Bibik bisa ceritakan kepada saya, ada apa ini sebenarnya?” tanya Angkasa pada Bik Susi yang tengah duduk melantai sambil memilin ujung bajunya karena gugup. Rumi duduk di seberang Angkasa dengan wajah menunduk malu. suatu kecerobohannya karena tidak mengunci pintu, hingga Angkasa tanpa sengaja melihat tubuhnya yang hanya memakai bra saja. “Begini, Tuan. Tadi siang ada Non Tiara, katanya Kakak dari Non Rumi. Kata Mbak Tiara mulai hari ini Mbak Rumi tinggal di sini karena sudah sah menjadi istri Tuan. Maaf, Tuan. Saya pun diperlihatkan foto ijab qabul di rumah sakit kemarin, saya jadi mempersilakan Non Rumi untuk menempati kamar Tuan. Mana saya berani membiarkan majikan saya tidur di kamar tamu,” terang Bik Susi coba menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi. Angkasa pun hanya bisa menghela napas berat sambil memijat pelipisnya. Tidak mungkin juga dia meminta Rumi untuk pindah ke kamar tamu malam ini. Apalagi di depan Bik Susi. Angkasa tidak ingin Bik Susi tahu, bahwa pernikahan ini adalah sebuah pernikahan yang aneh baginya. “Pa, apa saya pulang saja? saya bisa naik taksi online,” tanya Rumi dengan wajah masih menunduk, tetapi tubuhnya sudah berdiri dari duduk dan bersiap kembali ke kamar. “Tidak, bukan seperti itu. Nggak papah kamu tidur di kamar,” sahut Angkasa dengan perasaan tidak enak hati. “Tuan, mohon maaf. Kamar tamu sedang bocor. Apa boleh besok saya panggil tukang?” sontak Angkasa menoleh pada Bik Susi dengan wajah pias. Baru saja ia akan menggunakan kamar tamu malam ini, tetapi malah tengah bocor. Hujan pun sudah turun dengan derasnya, sehingga ia tidak punya pilihan lain selain untuk tidur bersama Rumi. Matanya tidak terlalu jelas melihat jalanan saat hujan deras apalagi waktu malam seperti ini. Jika ingin kembali ke rumah sakit, tenaganya pun sepertinya sudah tidak sanggup. Beberapa hari bergadang, membuat Angkasa amat kelelahan. “Ya sudah, Bik. Besok panggil saja tukang. Ayo, Rumi kita istirahat.” Angkasa bangun dari duduknya, lalu berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam kamar. Disusul Rumi yang berjalan bagaikan siput. Bik Susi hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengulum senyum. “Jika Tuhan sudah berkehendak, yang tidak mungkin menjadi mungkin. Yang lamar anaknya, malah nikahnya sama bapaknya,” gumam Bik Susi berjalan ke dapur. Sebelum mematikan lampu-lampu di dapur, Bik Susi sekali lagi menoleh ke atas. Rumi masih berada di anak tangga dengan wajah merah antara malu dan juga takut. “Majikan saya nggak ada yang galak, Nyonya. Nggak papah, masuk aja. Hujan ini, pas banget untuk pengantin baru,” sindir Bik Susi membuat wajah Rumi semakin bak kepiting rebus. Rumi mempercepat langkah, lalu berhenti sejenak di depan pintu. Tok! Tok! “Masuk saja, Rumi,” ujar Angkasa dari dalam kamar. Dengan tangan gemetar, Rumi menekan knop pintu, mendorong pintu kamar agar terbuka. Wanita itu bernapas dengan lega, saat melihat lampu kamar sudah mati dan hanya menyisakan lampu tidur saja. Suaminya juga sudah berbaring menghadap ke arah tembok dan memunggungi dirinya. Rumi masuk, lalu menutup pintu. Ia kembali berjalan bagaikan siput untuk naik ke atas tempat tidur besar nan empuk milik Angkasa. Setelah ia merasa kepalanya berada di atas bantal dengan nyaman, Rumi pun menutup mata. Sejujurnya ia pun teramat lelah sepekan ini karena persiapan pernikahannya. Oh, tidak! Tiga hari lagi pestanya dan ia hampir saja melupakan hal itu. “Mengenai pesta pernikahan yang tinggal tiga hari lagi, kita tetap akan melangsungkannya. Masalah ke depannya nanti seperti apa, yang penting kita jalani saja dulu. Tidak apa-apa, kan?” kata Angkasa dengan suara parau karena menahan kantuk. “Baik, Pa,” jawab Rumi singkat. Wanita itu tidak tahu harus berkata apa lagi pada lelaki yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya ini, tetapi tiba-tiba harus menjadi suami dan tengah satu tempat tidur dengannya. “Selama kita berdua menikah, saya akan tetap menjalankan tugas dan kewajiban saya sebagai suami. Saya harap kamu pun sama. Kamu paham, kan?” “Maksudnya, Pa?” tanya Rumi dengan wajah mendadak tegang. “Akan sangat berdosa, jika saya mengabaikan nafkah lahir dan batin kamu. Mungkin untuk di awal saya akan memberi waktu pada kita untuk beradaptasi, tetapi selanjutnya saya harap kamu siap jika saya meminta hak saya. Saya pria dewasa dan sudah lama menduda. Kamu paham, kan?” Bab 7 Pesta Pernikahan Bari masih belum sadarkan diri. Lelaki itu masih memejamkan mata dengan sangat rapat setelah lewat dua hari masa kritisnya. Angkasa dan Rumi bergantian menjaga Bari, sesekali juga Tiara ikut menemani Rumi di rumah sakit. Acara pernikahan yang akan digelar besok di sebuah ballroom hotel, tentu menyita banyak waktu Angkasa dan juga Rumi, sehingga untuk hari ini mereka tidak bisa menunggui Bari di rumah sakit. Semua ikut sibuk, termasuk anggota keluarga Angkasa yang terdiri banyak pasukan. Ada yang menjadi pagar ayu, pagar bagus, pengiring pengantin dan lain sebagainya. Rumah Angkasa sudah ramai orang yang masing-masing memiliki tugas, termasuk dirinya yang kini tengah mencoba beskap yang akan ia pakai besok, ditemani Brittania, bungsunya yang cuti kuliah dari Yogya untuk melihat pernikahan kakaknya. Ya, Angkasa tidak menceritakan perihal kejadian yang menimpanya dan Rumi, sebelum putrinya itu sampai di rumah. “Aku sebenarnya tidak sepenuhnya percaya dengan hal aneh ini, Pa. Cuma … semua sudah terjadi. Sungguh lucu, seperti kisah di novel-novel saja. Masa calon mertua menikahi calon istri anaknya. Hm …” Nia menghela napas berat. Mahasiswi semester empat itu duduk di pinggir ranjang sambil memeluk bantal. “Ya, ini yang dinamakan takdir,” sahut Angkasa dengan helaan napas yang sama beratnya. “Apa Papa mengundang Tante Lana? Aku lebih setuju Papa dengan Tante Lana. Lebih dewasa dan juga mapan, sedangkan Rumi cewek sedikit manja, cocok dengan Mas Bari yang juga sedikit lebay,” ujar Nia dengan wajah masam. “Sayang, Papa tidak berharap kejadian seperti ini terjadi, tetapi jika Tuhan sudah berkehendak, maka tidak ada satu manusia pun yang bisa mengelak,” terang Angkasa sambil membelai lembut rambut putrinya. “Baiklah, mau bagaimana lagi? Nia hanya bisa berdoa, jika nanti Mas Bari sadar dari tidurnya, kalian tak memiliki masalah dengan Rumi. Pa, cinta itu datang karena terbiasa. Hati-hati Papa bisa jatuh cinta pada Rumi di saat Bari sadar dan meminta Rumi dikembalikan padanya. Itu akan menjadi lebih rumit.” “Ya ampun. Aku sudah memiliki anak perawan yang sangat dewasa ternyata,” seru Angkasa sambil tertawa pendek. Rumi pun sama, ia tengah mencoba kebaya pengantin pilihan Bari bersama tim rias dan juga Tiara. Matanya tak berhenti mengularkan air bening karena takdir yang tidak sejalan dengan niat dan keinginannya. “Sudah, kamu jangan nangis terus. Menyesali takdir itu tidak boleh. Jalani saja, siapa tahu Tuhan nanti memberikan solusi yang tanpa bisa kita sangka-sangka,” bisik Tiara dengan penuh hangat pada adiknya. “Mbak jadi mau ke Bali?” tanya Rumi dengan wajah sedihnya. “Jadi, dong. Kamu sudah menikah dan Mbak sedikit lega. Mbak akan mencari jodoh orang bule saja di sana, hehehe …” Tiara dan Rumi tertawa. “Jauh sekali Bos Mbak buka toko roti. Aku jadi harus berpisah dengan Mbak,” ujar Rumi dengan wajah memberengut. Tiara kembali tertawa. “Jangan lupakan siapa suamimu saat ini. Hanya dengan kedipan mata, ia bisa mengiringmu kembali untuk melihat Mbak. Nah, kalau Mbak paling bisa balik ke Jakarta setahun sekali atau dua kali saja. Rumah Bapak mau Mbak renov, siapa tahu ada rejekinya dari kerja di Bali.” “Rumi pasti nanti sangat merindukan, Mbak,” kata Rumi lagi sambil memeluk tubuh Tiara dengan erat. Keduanya menangis haru karena harus menjalani takdir hidup masing-masing. Pesta berlangsung dengan meriah. Tamu yang hadir tentu kaget dengan kejutan mempelai pengantin pria yang telah digantikan dengan ayah calon pengantin. Suasana menjadi riuh dan mereka saling bertanya-tanya. Namun, Angkasa tidak mau ambil pusing, ia tetap saja menyunggingkan senyum ramah dan ucapan terima kasih pada tamu yang bersedia hadir dalam acaranya. Sesekali Angkasa melirik ke arah Rumi yang tampil sangat cantik dengan balutan kebaya modern berwarna kuning gading, dengan aksen gold menempel di sepanjang baju kebaya itu. Ekor kebaya yang memiliki panjang kurang lebih dua meter, sangat cantik untuk dipandang dan terkesan begitu mewah. Sesi foto berlangsung. Rumi dengan gerakan amat canggung berpose menatap suaminya, begitu pun Angkasa yang menatap istrinya. Kedua telapak tangan Rumi berada di d**a suaminya, sesuai dengan arahan fotografer. Jangan tanya bagaimana detak jantungnya saat ini, yang jelas Rumi sedikit sesak, karena Angkasa terus saja mengunci tatapan mata mereka berdua. Keduanya tersentak, saat lampu blits kamera menyala. Kini pose diganti dengan pose lain yang tidak kalah manis dan romantis. Walau hampir keseluruhan tamu merasa kaget dan bingung, tetapi mereka tersenyum senang dengan pesta pernikahan megah Angkasa dan juga Rumi. “Kalau kamu capek, bilang saja ya? Biar istirahat di dalam sana,” bisik Angkasa pada Rumi. “Eh? Nggak papah kok, Pa,” jawab Rumi dengan wajah malu-malu. “Selamat atas pernikahan kamu, Bang. Rumi selamat ya? Selamat telah membuatku dan keluargaku malu. Selamat telah berhasil mengambil lelaki yang aku cintai. Maaf, aku hanya bisa memberikan kado ini.” Lana yang tiba-tiba datang memberi ucapan selamat dengan air mata bercucuran, membuka tutup cup kopi yang ia beli di jalan dan … Byur! “Aargh!” pekik Rumi kaget ketika wajahnya diguyur air kopi hangat oleh Lana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN