Bab 8
Tiket Bulan Madu dari Bulan
Sakitnya tak seberapa, tetapi malunya sungguh luar biasa. Itulah yang dialami Rumi saat ini. Perbuatan Lana yang menyiramkan air ke wajahnya membuat Rumi sukses menjadi tontonan banyak orang dan seketika itu juga menjadi buah bibir. Untung saja make up yang dikenakannya sangat baik dan tak mudah luntur, tetapi tetap saja wajahnya dan baju pernikahannya menjadi basah.
“Maafkan Lana, Rumi. Saya tidak tahu kalau dia sampai nekat membuat keributan seperti itu,” ujar Angkasa dengan perasaan bersalah sekaligus iba, karena semua yang terjadi bukanlah salah Rumi atau dirinya.
Ini semua takdir dan kita tidak bisa menolaknya. Angkasa duduk tepat di samping Rumi yang tengah di betulkan kembali rias wajahnya. Baju resepsinya telah diganti dengan yang lebih bagus dan membuat Rumi semakin cantik dan memesona.
“Tidak apa-apa, Pa. Jika saya jadi Tante Lana, mungkin hal lebih nekat dari ini berani saya lakukan. Saya mengerti perasaan Tante Lana sebegai seorang wanita,” jawab Rumi.
Ceklek!
Pintu kamar pun terbuka. Seorang wanita sudah cukup sepuh, tapi masih sangat kuat masuk ke dalam kamar sambil tersenyum kepada anak dan menantunya. Dialah Bulan, ibu dari Angkasa yang sudah berusia tujuh puluh delapan tahun.
“Kamu tidak apa-apa, Rumi?” tanya Bulan pada menantunya.
“Tidak apa-apa, Oma, eh … Mak,” jawab Rumi canggung. Bulan biasa ia panggil Oma, tapi kini terpaksa ia ganti panggilan jadi Emak, sesuai dengan panggilan suaminya untuk wanita itu.
“Kalian jangan khawatir, Emak udah minta security memastikan Lana sudah pergi dari gedung ini. Pesta bisa dilanjutkan sampai selesai, karena tamu sudah menunggu. Ah, iya … Emak sudah pesankan tiket untuk ke Lombok untuk tujuh hari. Harusnya tiket itu atas nama Rumi dan Bari. Emak pesankan tiketnya untuk tiga hari, tapi berhubung menikahnya sama kamu, Emak panjangin jadi tujuh hari. Anak Emak udah lama menduda, kali aja mau begadang tujuh hari tujuh malam, hehehe …” Wanita tua itu berjalan keluar dari ruang rias sambil tertawa cekikikan, sedangkan Angkasa dan Rumi tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Bukan hanya memerah, wajah Angkasa nyaris mendidih saat ini akibat kelakuan emaknya yang selalu saja berpikiran m***m, padahal sudah sangat sepuh. Rumi juga tak kalah meronanya dengan Angkasa. Ia membayangkan bagaimana bulan madu selama tujuh hari di Lombok dan itu membuat bulu tangannya berdiri.
Dua orang perias yang sedang merapikan hiasan kepala Rumi pun ikut tertawa tanpa berani bersuara. Mereka saling berpandangan dan merasa gemas dengan pengantin yang wajahnya sangat merona.
“Sudah selesai, Mbak, Pak. Ayo, saya antarkan kembali ke panggung,” uajr salah seorang dari perias.
“Biar saja saja,” sela Angkasa yang sudah berdiri dan mengulurkan tangan untuk Rumi.
Keduanya kembali berjalan menuju pelaminan dan meneruskan bersalaman dengan semua tamu yang tersisa di dalam gedung. Sampai dua jam berlalu dan satu per satu tamu mulai meninggalkan gedung. Rumi melempar bokongnya di kursi pengantin karena kakinya sangat lelah. Wanita itu menepuk-nepuk pelan kedua kakinya agar rasa pegal itu sedikit berkurang.
“Eh, Pa … jangan!”
Rumi begitu kaget sekaligus tak nyaman saat tangan kekar Angkasa berada di kaki kanannya untuk membantu memijat kaki yang pegal. Tidak ada desiran apa pun, karena dirinya tidak memiliki perasaan dengan suaminya. Semua malah terlihat sangat aneh dan ia benar-benar tidak nyaman dengan perlakuan Angkasa yang menurutnya berlebihan.
“Saya baik-baik saja,” kata Rumi sambil menepis tangan Angkasa, lalu menggeser kedua kakinya agar sedikit menjauh dari suaminya.
Setelah acara resepsi selesai, semua keluarga pun menikmati makan malam dengan begitu hangat. Mereka saling mengobrol ringan sambil sesekali tertawa. Keluarga besar Bari memang terkenal hangat dan sangat banyak. Rumi belum menghapal semuanya walau ia sudah lama berpacaran dengan Bari.
Setelah insiden Rumi menolak dipijat kakinya oleh Angkasa, wanita itu semakin menjaga jarak dan nampak canggung. Berbeda dengan Angkasa yang terus mencoba untuk mendekatkan diri pada istrinya.
Hal itu tentu tak luput dari pengamatan Bulan. Walaupun anaknya menikah dengan calon istri cucunya, tetapi ia yakin Tuhan selalu memberi yang terbaik untuk hidup anaknya yang memang tidak pernah berlaku jahat sejak dulu. Ketika kamu selalu berbuat baik, maka kamu pun akan dipertemukan dengan orang yang baik pula.
“Rumi, semua keluarga Bari sudah pada tahu persoalan kalian, jadi kamu tidak perlu sungkan atau canggung pada kami semua terutama pada Angkasa. Ibadah yang paling banyak pahalanya itu adalah saat bersama suami. Kamu tersenyum saja sudah mendapat pahala. Walau mungkin rasanya aneh calon mertua kini malah jadi suamimu, tetapi tidak ada salahnya berdamai dengan takdir. Masalah Bari, biar semua saudara di sini membantu merawatnya. Semoga Bari cepat sadar dan harapan Emak begitu dia sadar, dia bisa mengerti akan permintaan konyolnya itu dan harus benar-benar ikhlas merestui ayah dan pacarnya yang kini telah menikah.”
“Halo, apa kalian semua membicarakan aku?” Semua orang yang ada di meja makan pun menoleh ke sumber suara yang sudah tidak asing lagi.
“Bari … k-kamu sudah s-sadar, Nak.”