Bab 9 Tragedi di Kamar Hotel “Pa, bolehkah saya cium tangan ibu sambung saya?” tanya Bari dengan begitu formal pada Angkasa. “Boleh saja, tapi jangan gunakan perasaanmu,” sela Bulan tegas membuat semua mata memandangnya. Wajah Angkasa mendadak membeku begitu pun Rumi. Suasana meja makan yang seharusnya hangat, mendadak hening dan juga mencekam. Bari mengambil tangan Rumi, lalu mencium punggung tangan wanita itu dengan begitu hikmat. Rumi gemetar. Tak bisa ia membohongi hatinya, bahwa hanya Bari yang mampu membuat seluruh saraf di tubuhnya pun melemah seketika. Bagaikan baru saja tersengat listrik yang bertegangan tinggi. Bari mencium punggung tangan Rumi bukan dengan hidung, tetapi dengan bibirnya. Angkasa tidak bisa berbuat banyak, selain memijat pelipisnya yang mendadak sangat sakit

