Bab 20 Kapsul untuk Rumi “Sayang, aku kira kamu tidak akan datang!” seru Bari yang baru saja sampai. Lelaki itu menarik kursi tepat di samping Rumi. Hanya Tuhan yang tahu betapa ia sangat merindukan wanitanya dan sudah berkali-kali menyesali permintaan konyolnya waktu itu. Rumi hanya menanggapi perkataan Bari dengan senyuman tipis dan kaku. Baru kali ini ia benar-benar tidak nyaman berduaan saja dengan Bari. Seolah ini adalah dosa besar yang ia lakukan di belakang suaminya. “Kamu sudah pesan makanan belum?” tanya Bari berbasa-basi sambil membolak-balik buku menu yang ada di depannya. “Sudah, tapi cuma buatku,” jawab Rumi pendek, “Aku tidak begitu tahu keadaan perutmu saat ini, jadi aku hanya memesan makanan untukku,” terangnya lagi sambil membetulkan posisi duduknya. “Aku sudah makan

