Teguh mengajak Namira masuk ke dalam warung bakso tersebut. Menyuruh gadis berhijab itu duduk di kursi yang ada di sudut ruangan. Karena hanya meja di sana yang sedang kosong. Yang lainnya penuh dengan para pembeli. "Kamu tunggu di sini ya, Ra. Aku pesan bakso dulu. Oh iya, kamu sudah makan belum?" Namira menggeleng pelan. "Aku pesenin bakso sekalian ya, kita makan dulu di sini. Kebetulan aku sangat lapar." tangan Teguh mengusap usap perutnya yang lapar. "Iya Mas." bibir Namira tersenyum saat mengatakan itu. Membuat Teguh seperti ikut terhanyut ke dalam senyuman Namira. Gadis berhijab itu benar-benar menghantui Teguh beberapa hari ini. Setelah memesan bakso, Teguh kini duduk di depan Namira. Mereka saling berhadapan, hanya ada meja yang menjadi sekat di antara mereka berdua. Po

