58 Ucapan kebencian tadi sore itu masih terngiang-ngiang di telinga. Sepanjang acara makan malam bersama keluarganya Elvani pun aku lebih banyak diam dan hanya menimpali sekali-sekali. Arman yang sepertinya tahu kalau aku tengah gundah, sekali lagi menyelamatkan keadaan dengan mengambil alih pembicaraan dengan kedua orang tua perempuan itu yang sekaligus mertua Kak Arfan. "Jangan dipikirin, Fai. Bisa jadi itu orang iseng," ujar Arman, kala kami dalam perjalanan pulang. "Aku tahu itu, Man. Tapi ... tetap aja ngeri," sahutku. "Ini udah kita prediksi 'kan? Mas Fahri juga udah wanti-wanti soal ini." "Iya, karena dia udah beberapa kali dapat ancaman kayak gini. Terutama waktu perluasan pabrik utama di Bandung." "Gitu deh, pihak yang merasa dirugikan itu pasti melakukan tindakan penge

