67 Suasana ruang kerja Papi tampak hening. Pria tua yang masih tetap tampan itu tampak tengah berpikir. Dahinya berkerut-kerut, mungkin karena memikirkan permintaan Eric yang aneh. Sementara aku dan Arman yang duduk berdampingan di sofa hitam sudut kiri beberapa kali saling melirik sebelum kembali memfokuskan pandangan pada meja kerja di mana Papi tengah mengetuk-ngetukkan jemari. "Kamu yakin mau ikut mereka, Eric?" tanya Papi setelah sekian lama bersemedi. "Iya, Om. Kata Aa', mereka kekurangan orang karena anggota tim ada yang terluka parah. Sementara anggota perempuan tidak diizinkan keluarganya untuk ikut dalam misi terakhir. Jadi, aku pengen bantu Aa' dan Arman untuk menyelesaikan tugas, sekalian jadi penjaga Aa' biar nggak terluka lagi," terang Eric yang membuatku nyaris terkekeh

