Pemilihan Talenta

1335 Kata
Duran mengajak Arslan untuk melihat seluruh kegiatan di guild Tranquilina. Guild Tranquilina merupakan guild yang cukup besar, memiliki dua lantai, dan lapangan yang luas.   Arslan berhenti sejenak, kebetulan kamarnya tempat berada di lantai dua. Arslan melihat beberapa anggota guild sedang melakukan latihan.   “Jadi ini guild Tranquilina yang terkenal itu,”  kata Arslan dalam hatinya.   Di saat Arslan sedang mengamati latihan anggota guild, Duran melihat ke arahnya.   “Oi… Apa yang kau lakukan. Ayo! Kita harus bertemu dengan seseorang,” tegur Duran kepada Arslan dari kejauhan.   “Ohh… Maaf!” Arslan langsung berlari mendekati Duran yang sudah memanggilnya tadi.       Mereka turun dari lantai dua, dan berjalan di lorong guild. Lalu menuju lapangan yang sempat Arslan lihat dari atas. Di sana ada beberapa orang yang sedang berbicara, di antaranya adalah Komandan Hugo.   “Arslan! Kau tunggu di sini.” Duran berhenti dan menyuruh Arslan untuk menunggunya, sementara dia berjalan menuju orang yang sedang berbicara di lapangan.   Arslan mengamati seluruh tempat, yang ada di lapangan. Berbagai macam latihan yang dia lihat, mulai dari latihan menggunakan pedang, panah, dan magic.   “Apakah aku bisa melakukan latihan seperti itu nantinya?” Yang dilihat oleh Arslan latihan orang-orang guild sangatlah sulit dan melelahkan. Dia jadi sedikit khawatir dengan dirinya, apa yang akan terjadi jika dia melakukan latihan seperti itu setiap hari.   “Arslan!” Duran memanggil Arslan.   Arslan menengok ke arah suara Duran.   “Kemarilah,” teriak Duran.   Arslan pun berjalan mendekati Duran.   “Arslan kenalkan ini adalah Komandan Hugo.” Duran berkata sambil mengarahkan tangannya ke arah Hugo.   Arslan menatap ke arah Hugo, Hugo memiliki tubuh yang besar dan berwajah sangar.   “Salam kenal nama ku Arslan.” Arslan menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormatnya.  “Orang ini tubuhnya besar sekali.”   “Hoo… Jadi ini anak yang selamat dari desa Veja,” kata Hugo sambil menatap Arslan dengan tatapan tajam.   “Benar Komandan. Mungkin dia bisa menjadi anggota guild di Tranquilina,” ucap Duran dengan tegas kepada Hugo. “… Kalau yang dikatakan Duran benar. Apakah kau memang bersedia menjadi anggota guild di sini?” Hugo melontarkan pertanyaan kepada Arslan, untuk mengetahui keinginan yang sesungguhnya dari Arslan.   Arslan hanya terdiam.   “Huh… Kami tidak akan memaksa mu. Karena selain menjadi anggota guild, kau juga bisa menjadi petualang.”   “Petualang?” Arslan bingung dengan ucapan Hugo.   “Kenapa kau tidak tahu?”   “Bukan, begitu. Aku tahu apa itu petualang,”   Hugo agak sedikit salah paham tentang Arslan dia mengira, Arslan tidak mengetahui tentang petualang.   “Begitu rupanya, seperti yang kau dengar tadi. Untuk menjadi anggota guild, kau harus melakukan latihan yang sedang kau lihat seperti sekarang di lapangan ini dan setiap anggota guild hanya boleh mengikuti perintah dari kerajaan atau dari guild Master. Sedangkan menjadi petualang, artinya kau bisa bebas ke mana pun melangkah. Tetapi hanya sedikit yang berhasil menjadi seorang petualang yang benar-benar berbakat dan memiliki skill tinggi,” jelas Hugo tentang perbedaan anggota guild dan petualang.   Arslan hanya terdiam mendengar penjelasan Hugo. “Untuk menjadi anggota guild sepertinya terdengar membosankan, kalau begitu aku akan menjadi seorang petualang saja, tapi aku tidak bisa mengatakannya pada mereka.”   Hugo kembali berkata, “Tetapi kau tidak usah khawatir, karena kau sudah berada di sini. Kami para anggota guild akan mengajari mu untuk menggunakan s*****a dan mengetahui ketrampilan mu. Sebagai cara mu untuk bertahan hidup untuk masa depan mu sendiri.”   “Benar sekali Arslan, kau tidak usah khawatir kami di sini tidak akan memaksa mu. Untuk menjadi anggota guild. Saat kau sudah melakukan pelatihan di sini, semua keputusan ada di tangan mu,” ungkap Duran kepada Arslan.   Arslan menjadi sedikit lega setelah mendengar ucapan mereka berdua, karena dia tidak harus menjadi anggota guild.   “Berarti aku bisa berpetualang ke alam bebas.”   “Duran!” Hugo memanggil Duran dengan nada suara berat khas orang dewasa.   “Iya, ada apa Komandan?” kata Duran.   “Sekarang kau, bawa Dia ke tempat pemilihan talenta!”   “Baik akan segera kulakukan.”   Lalu Hugo pergi untuk memeriksa latihan anggota guild lagi.   “Ayo, sekarang kau ikuti aku,” kata Duran kepada Arslan   Arlan mengangguk. Duran dan Arslan pergi ke sebuah ruangan pelatihan khusus untuk memilih talenta. Di sana sudah ada meja yang di atasnya ada pedang, panah, dan tongkat sihir.   “Arslan, coba pakailah setiap s*****a ini, dan kau serang boneka kayu yang ada di sana.” Duran meminta Arslan untuk memilih salah satu s*****a supaya dia tahu, Arslan cocok menggunakan s*****a apa.     Jika Arslan memilih menggunakan pedang maka dia bisa menjadi Blade Master, pengguna pedang bisa menjadi seorang Slayer yang hebat dan dapat mengalahkan berbagai monster seorang diri. Untuk pemanah biasa dipanggil dengan sebutan g*n Master, selain pemanah ada juga senapan khusus yang dibuat untuk mengalahkan monster. Keahlian yang harus dimiliki seorang g*n Master adalah ketenangan untuk menembak target tepat di titik kelemahan. Sementara pengguna tongkat sihir mereka bisa di sebut sebagai Magic Master, kekuatan mereka tergantung dari seberapa banyak stamina. Biasanya para Magic Master akan menjadi support dalam sebuah party, baik untuk menyembuhkan anggota yang terluka ataupun untuk menghempaskan kekuatan yang luar biasa ketika teman satu timnya mengulur waktu.     Arslan mulai dengan memakai pedang, lalu dia berlari dan menyerang boneka kayu. Beberapa tebasan Arslan lakukan terhadap boneka kayu yang ada di depannya.   “Hmm… Kemampuannya boleh juga dalam menggunakan pedang.” Duran berkata ketika melihat Arslan yang memiliki gerakan cukup bagus ketika menggunakan pedang.   “Arslan!” Kemudian Duran berteriak, “Sekarang coba gunakanlah panah!”   “Baik.” Arslan mengambil panah dan busur, lalu dia membidik boneka kayu dari jarak 7 meter.   “Coba kau tembakan anak panah itu, ke kepala boneka kayu.”   Arslan menarik busurnya dengan kuat, dengan membidik boneka kayu selama 40 detik. Kemudian dia melepaskan anak panahnya.   Tetapi anak panahnya tidak mengenai target, melainkan hanya melewati boneka kayu.   “Hmm… kemampuannya sangat buruk ketika menggunakan panah.”   “Hah… cih sepertinya aku tidak akan cocok menggunakan panah.” Arslan merasa kesal dengan dirinya karena tidak berhasil mengenai target.   “Sekarang yang terakhir coba kau gunakan tongkat sihir.”   Arslan mengangguk, lalu dia mengambil tongkat sihir. Sekarang jarak dia dari boneka kayu hanya 3 meter.   “Coba sekarang kau berkonsentrasi, bayangkan kau mengalirkan energi ke dalam tongkat yang ada di tangan mu.” Duran memberitahu Arslan cara mengeluarkan kekuatan magic dengan cara berkonsentrasi.   Arslan mengikuti arahan Duran, dia mulai berkonsentrasi dengan memejamkan matanya. Seperti yang dikatakan Duran, Arslan merasakan energi dari dalam tubuhnya mengalir. Kemudian dia mengangkat tongkat sihir yang dipegangnya, lalu dia ayunkan ke arah boneka kayu.   Sebuah kekuatan magic berdaya sedang keluar dari tongkat dan berhasil mengenai boneka kayu. “Ohh… Dia lumayan juga bisa mengeluarkan energi magic tingkat sedang,” kata Duran dari kejauhan sambil memperhatikan Arslan.       Dengan demikian Arslan selesai melakukan tes untuk melihat talentanya. Duran dan Arslan kemudian duduk untuk beristirahat.   “Arslan, aku sudah melihat semua kemampuan mu dalam menggunakan tiga jenis s*****a. Dan menurut ku, kau lebih bagus menggunakan pedang,” ungkap Duran setelah melihat seluruh kemampuan Arslan dalam menggunakan s*****a.   “Iya, aku juga merasa begitu. Aku pribadi lebih tertarik dengan pedang.” Arslan sejak dari awal memang tertarik untuk menjadi Blade Master. Saat dia menggunakan pedang, kemampuannya sangat cocok dan dia juga menikmatinya.   “Begitu rupanya! Berati nanti kau akan melakukan pelatihan dalam menggunakan pedang.”   “Iya,” kata Arslan sambil tersenyum. “Sekarang aku bisa menentukan keahlian ku.”   “Sekarang ayo kita pergi ke tempat pelatihan lain.” Duran berkata sambil berdiri dari tempat duduk.   “Tempat pelatihan lain?” Arslan merasa bingung dengan ucapan Duran.   “Iya, nanti kau akan sendiri.” Duran berkata dengan senyuman ke arah Arslan.   Lalu mereka berdua pergi keluar ruangan itu dan menuju ke tempat latihan baru.   “Kita sudah sampai.” Mereka berdua sampai di sebuah pintu dengan logo di atasnya bergambar pedang.   “Tempat apa ini?” tanya Arslan sambil memandangi logo pedang yang ada di atas pintu.   “Ini adalah tempat latihan bagi mereka yang ingin menjadi Blade Master,” jawab Duran, lalu dia membuka pintu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN