Malam ini, Sean kembali menatap jendela yang sama. Jujur saja, dia tidak nyaman dengan suasana rumahnya. Dia bukan tipe orang yang hanya bisa diam dan mengikuti arus. Mulut dan tubuhnya selalu ingin bertindak, tetapi ada yang menahan. Belum lagi saat melihat cahaya lembut yang menyelimuti kedua mata Izza. Sean ingin sekali membawa wanita itu dalam pelukannya. Namun, entah mengapa dia merasa sulit untuk mewujudkan. Padahal Izza adalah pasangan yang dia pilih. Kehadiran Nisa benar-benar membawa pengaruh besar pada dirinya. Dia bahkan mulai suka berbohong pada Izza. Tentu saja masalah proyek dan lembur itu hanya akal-akalan Sean. Dia hanya tidak tahu bagaimana harus menghadapi Izza di rumah. Untungnya Axel hari ini tidak masuk, jadi dia tidak perlu membuat alasan mengapa pulang larut. Kaka

