27. Dingin atau Tak Acuh?

1661 Kata

“Padahal Ibu masih ingin mengobrol,” ucap Dian saat Izza pamit. “Kalau bisa, Kakak mau kamu tinggal di sini, Za.” “Izza kan sudah menikah. Mana mungkin tinggal dengan kita lagi.” “Ini tidak seru,” ujar Nisa dengan mulut mengerucut. “Seharusnya kita bertemu sebelum kamu menikah.” Baik Izza maupun Dian melihat Nisa dengan cepat. Izza juga akan senang seandainya hal itu yang terjadi. Setidaknya, dia tidak akan merasa bersalah atau gelisah karena berada di antara hubungan Sean dan Nisa yang belum usai. Dian berdeham setelah kedua anaknya terdiam cukup lama. Dia tersenyum, lalu memukul pelan pundak Nisa. Izza ikut menyunggingkan senyum begitu Nisa mengaduh, padahal pukulan Dian tidak meninggalkan rasa sakit. “Kakak benar. Akan lebih baik kalau kita bertemu lebih cepat, jadi aku bisa mengh

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN