“Boleh masuk?” Izza mengintip dari balik pintu kamar Nisa. Sang Kakak tersenyum melihat tingkahnya. Dia baru saja selesai membersihkan diri. Ada sedikit keterkejutan di wajah segarnya, meski bibirnya menyunggingkan senyum. Tentu saja Izza pura-pura tidak memperhatikan. Entah mengapa dia memilih untuk tidak menanyakan tentang reaksi Nisa. Perasaannya mengatakan kalau itu hanya akan membuat dia bersedih hati. “Masuk saja.” Kaki Nisa melangkah mendekati Izza. Dia menarik tangan adiknya agar masuk ke kamar, lalu mendudukkan Izza di sebuah kursi. Sementara dia duduk di atas tempat tidur sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Kamar Nisa bernuansa putih bersih. Bahkan gordennya juga berwarna senada. Hanya ada tempat tidur, lemari kecil, dan meja rias kecil di ruangan itu. Tidak ada hiasan

