“Mama kenapa, Mas?” Sean langsung mendapat pertanyaan begitu kembali dari halaman. Setelah membicarakan tentang Nisa, Mama pamit begitu saja. Izza sempat mengintip dari jendela saat Sean menyusul Mama. Ada hal yang membuat Mama tidak nyaman. Meski Mama berkata kalau ada hal mendesak yang dilupakan, Izza tahu bukan itu yang terjadi. Sepertinya Mama sudah bisa menduga ada yang tidak beres. Ketika Mama pamit, Sean tampak memucat. Karena itu, dia menyusul Sang Ibu. Sayang, sebelum Sean sempat bertanya lebih jauh, Mama sudah pergi. Kelihatannya Mama sengaja menghindari Sean. “Tidak ada. Maaf, ya. Mama terkadang memang suka lupa.” Hanya sebuah senyum yang Izza berikan sebagai tanggapan. “Mama tidak mengatakan apa-apa?” “Tidak.” “Padahal aku berharap Mama bisa menemaniku makan. Mas makan

