Elzio

1127 Kata
s**t! Tidak mungkin aku keluar dengan pakaian compang camping begini. Dengan segera aku membenarkan seluruh pakaianku lalu aku berlari mengejar Mas Imron sambil tanganku terus memencet kontak untuk memesan taksi online Ya benar saja, mobil yang di kendarai Mas Imron sudah melaju meninggalkan pelataran motel Untung saja taksi online pesananku segera tiba. Tanpa pikir panjang aku segera masuk dan menyuruh pak sopir untuk mengikuti mobil Mas Imron. Kemana kah dia ? Kalau melihat arah mobilnya melaju, ini tak mengarah ke rumah Lalu kemana Dengan cepat mobil Mas Imron melaju dan kemudia ia berbelok ke arah rumah sakit Rumah sakit ? Siapakah yang sedang di rawat disini Benar saja setelah memakirkan mobilnya ia segera berlari melewati koridor koridor rumah sakit. Aku pun berusaha mengejar langkahnya Hingga akhirnya, langkahnya terhenti di ruangan dahlia nomer 3A Ia nampak tergupuh gupuh sambil memencet ponselnya dan tak lama seorang perempuan keluar dari ruangan tersebut Devi ? Ku tutup mulutku yang mengangah. Mengapa perempuan itu ada disini ? Siapakah yang sakit Kepalaku berisikan banyak pertanyaan yang sama sekali belum menemukan jawaban Mereka nampak mengobrol dengan serius dan aku tak mendengar sedikitpun obrolan mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke ruangan tersebut Dengan mengendap endap aku mengintip dari balik pintu yang setengah tertutup. Tampak seorang anak lelaki yang usianya tak jauh dari Aldy sedang terbaring dengan selang infus di tangan kirinya, serta selang oksigen di hidungnya. Siapakah dia ? Mengapa Mas Imron bisa sepanik itu. Apa benar di dalam tubuh anak itu ada darah Mas Imron yang mengalir disana . Sehingga membuat Mas Imron sepanik ini Mas Imron duduk di samping Anak lelaki tersebut dan dengan penuh kasih ia memegang erat tangannya sesekali menciuminya. Tampak seperti seorang ayah yang sangat mencemaskan kondisi putranya. Ku putuskan untuk menyudahi segalanya, ada hati yang remuk redam melihat Mas Imron memperlakukan anak itu dengan penuh kasih. Dengan gontai aku meninggalkan ruangan itu. Beberapa pertanyaan menari nari di fikiranku. Siapakah dia ? Apa hubungannya dengan Mas Imron Jika memang benar itu adalah darah daging Mas Imron, berarti Mas Imron sudah cukup lama mengenal Devi. Seribu tanda tanya yang menyita fikiranku ini. Ingin segera aku meluapkannya Bugh " Sorry " ucap Kami bebarengan " Nita " " Loh Mas hendra " ucapku setelah mengetahui pria yang ada di hadapanku " Nita . Maaf aku buru buru pamit permisi dulu ya " ucapnya kemudian berlalu Ku abaikan Mas Hendra dan aku pun segera meninggalkan rumah sakit ini ** Petir menggelegar dengan sangat ganasnya Ku lirik jam di dinding menunjukan pukul 03.00 pagi . Dan Mas Imron belum juga pulang. Meskipun aku tahu ia sedang dimana dan sedang apa. Tak berselang lama, handle pintu terbuka dan Mas Imron pulang dengan keadaan wajah yang penuh bekas tonjokan Ia pun nampak sangat lelah " Mas " ku hampiri dia, dan ku coba untuk memegang luka di wajahnya Tetapi dengan secepat kilat ia menepisnya " Maaf Anita. Aku Istirahat dulu " ucapnya kemudian masuk ke dalam kamarnya Ternyata setelah kejadian itu tak juga membuatmu menjadikan aku rumah. Seseorang pertama yang kau cari ketika kau ingin bercerita. Seseorang pertama yang kau tuju ketika kau ingin berkeluh kesah Mungkin aku memang pemilik ragamu, tetapi tidak dengan hatimu. ** " Pagi Anita " sapanya kemudian duduk di sebelahku " Kamu sudah lebih baik " tanyaku dan dia mengangguk " Gimana kabar anak kecil yang di rawat di rumah sakit itu ? " Tanyaku dan seketika ia berhenti menyeruput kopi yang aku buatkan " Kamu " " Ya aku mengetahui kemana kamu pergi dan ninggalin aku begitu saja " ucapku memotong pembicaraanya " Siapa anak itu Mas ? Apakah benar anakmu dengan perempuan itu " ucapku dengan gamblang " Bukan " jawabnya singkat " Lalu " tanyaku " Dia anak Devi dengan pacarnya " ucapnya singkat " Pacarnya siapa ? Kamu . Lalu mengapa kamu yang panik, lalu mengapa kamu orang yang pertama kali Devi hubungin kalau memang tidak ada hubungan apa apa antara kamu dan anak itu " " Elzio sudah lama menganggapku papanya " " Kebohongan apa lagi ini " ucapku sembari menggebrak meja " Bodoh jika aku percaya begitu saja padamu mas " ucapku kemudian berlalu meninggalkannya " Nita " ucapnya mencengkram tanganku namun berhasil ku tepis Dengan motor maticku. Ku melaju menyusuri jalanan Ibu kota Jadi nama anak itu Elzio Sangat mustahil jika tak ada hubungan apa apa antara Elzio dengan Mas Imron. Mas Imron terlihat sangat menyayangi Elzio. Jika memang benar Mas Imron adalah ayah kandung Elzio, apakah aku harus menyerahkan begitu saja Mas Imron kepada wanita itu Lalu bagaimana dengan Aldy, haruskah Aldy juga berkorban dengan merelakan ayahnya menjadi ayah Elzio Ini sungguh tidak adil untuk Aldy. Tetapi tetap saja aku tak bisa memaksakan kehendakku, untuk menahan Mas Imron tetap bersamaku. Mas Imron berhak memilih ingin bersanding dengan siapa. Ku parkirkan motorku di parkiran khusus guru. Dan dengan pasti ku langkahkan kakiku menuju meja kerja " Pagi Bu Anita " sapa Pak Arman tukang kebun di tempatku mengajar " Pagi Pak " ucapku membalas sapaanya " Bu Anita kusut amat mukanya " ucapnya " Ah iya Pak saya kurang istirahat " jawabku " Mau saya buatkan kopi Bu " tawarnya lagi " Ah tidak Pak, terima kasih " aku pun menolak dengan halus tawarannya Mata memang tidak bisa bohong. Mata memang tidak bisa menyembunyikan masalah , sekeras apapun aku berusaha untuk mengukir senyum di bibirku Tetap saja kesedihan itu terpancar dari sorot wajahku. Hari ini aku putuskan untuk pulang kerumah Ibu. Ibu pun bertanya tanya ada apa lagi denganku dan Mas Imron Ku ceritakan semua kejadian dengan detail tanpa ku tutupi sedikitpun. Ibu memelukku dengan erat, seperti sedang mentransfer ku kekuatan. Tetapi nyatanya air mataku jatuh juga, sedikitpun aku tak bisa berpura pura baik baik saja di depan Ibu. Aku tak bisa menutupi hatiku yang rapuh Aku tak bisa menutupi luka yang ada di hatiku Tok tok tok Ketukan pintu membuatku terkejut Ku lirik jam di dinding menunjukan pukul 20.00 wib " Bu itu pasti Mas Imron, Bu aku gak ingin bertemu dengannya Bu " ucapku pada Ibu " Nita, apakah dengan kamu lari semua masalahmu akan hilang . Hadapi dan selesaikan Nak " ucap Ibu padaku " Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku Bu " ucapku memelas " Lalu apa maumu ? " Tanya Ibu kemudian " Jangan izinkan Mas Imron menemuiku Bu , tolong Bu " Dan ibu pun menyetujui keinginanku Dari balik tembok ku dengar percakapan ibu dan Mas Imron " Bu Anita ada disini ? " Tanya Mas Imron " Untuk apa kamu mencari Anita ? " Ucap Ibu " Bu Anita ist.. " " Imron tolong jika memang kamu tak ingin melanjutkan hidup dengan Anita , kembalikan Anita pada Ibu dengan baik baik. Jangan kau sakiti Anita " Deg Dapat kekuatan darimana Ibu sehingga bisa mengatakan itu semua
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN