meskipun aku tidak memilihmu untuk ada di dalam hidupku

1990 Kata
Tetapi bukan Mas Imron jika tidak keras kepala, Dia menerobos masuk ke rumah Ibu sambil terus berteriak namaku. Aku mantapkan hati untuk bertemu dengan Mas Imron, Ibu benar masalah tak akan selesai jika terus di hindari. Dengan langkah yang pasti perlahan aku muncul dari balik tirai dapur rumah Ibu Mas Imron tersenyum menyambutku “ Apa maumu ? “ tanyaku tanpa basa basi Di genggamnya dengan erat tanganku. Ia pun nenuntunku untuk duduk di ruang tamu dan sepertinya Mas Imron memberikan kode agar aku dan dia dapat berbicara berdua, Ibu yang mengerti kode dari Mas Imron pun segera berlalu meninggalkan kami berdua. Masih dengan genggaman tangannya dan sorot matanya yang tajam ia mencoba menjelaskan padaku. Meski aku sendiri pun tak tahu harus percaya atau tidak dengan semua yang ia katakan. “ Tolong percaya sama Aku. sebangsat-bangsatnya aku, aku tidak mungkin mempermainkan ikrar sebuah pernikahan “ ucapnya “ pernikahan ? bukankah pernikahan ini bukanlah kehendakmu ? “ “ Anita bukankah setiap manusia bisa berubah ? kamu percaya dengan istilah cinta datang karena terbiasa ? “ “ Kamu selalu ada untukku, menemani hari hariku. menyiapkan segala kebutuhanku. Kamu membuktikan padaku apa itu cinta tanpa syarat. Dan kau tahu Anita, aku terbiasa hidup denganmu. Aku terbiasa setiap pagi di sambut dengan senyummu yang candu, dan rasanya aku tidak bisa jika harus meneruskan hidupku tanpamu di sisiku” Ucapnya dengan tulus “ setinggi apapun kriteria kita dalam memilih pasangan hidup, akan hilang begitu saja ketika kita tiba tiba jatuh cinta pada seseorang. Dan benar aku jatuh cinta padamu. Terima kasih karena kamu begitu kuat mencintaiku “ lanjutnya “ aku tak tahu jika saja bukan kamu orangnya, mungkin sampai saat ini aku tak akan percaya apa itu cinta tanpa syarat. “ Mataku tiba tiba mengembun , ada sesuatu yang berlinang disana tanpa bisa aku menahannya. Segala apa yang aku perjuangkan kini mampu ku genggam. Aku malu karena sempat mengutuk ketidak adilan dalam takdirku, bukankah tidak ada yang sia sia dari doa yang menggema dalam ruang pasti suatu saat semesta akan memberi jalannya. Dan ku rasa inilah saatnya. Meski aku tak tahu apakah hanya aku satu satunya yang ada di dalam hatinya. Melunak Terimakasih karena telah memberi ruang padaku Dan kini aku mengerti mengapa waktu memintaku untuk menunggu. Di usapnya belir bening yang mengalir di kedua mataku Dengan penuh kehangatan ia memeluku Di belainya rambutku dengan penuh kasih Setelah sekian banyak duri yang ku lalui, dan kini tibalah saatnya aku meraih kemenanganku. Kemenanganku atas hatimu Semoga selamanya aku tetap menjadi rumahmu. Alasan terbesarmu untuk lekas pulang selepas bekerja dan kemudian memelukku. ** Kopi hangat tersaji di atas meja. Sebagai pelengkap malam yang begitu syahdu Sesekali kami ketahuan saling curi pandang lalu kemudian kami saling merekahkan senyuman, layaknya anak remaja yang tengah jatuh cinta. " Mas boleh aku tanya sesuatu " ucapku memecah keheningan " Tentang Elzio ? " Rupanya Mas Imron sudah menebak akan kemana arah pembicaraanku Dan aku mengangguk, mengiyakannya " Devi adalah seseorang di masa laluku. Aku bertemu dengannya di singapura saat kita sama sama mengeyam pendidikan disana. Kami berpacaran Tetapi sayangnya orang tua Devi tidak merestui hubungan kami " Ia terdiam sesaat kemudian menarik nafas dalam dalam. Ia menatapku dengan tajam . Mungkin saja memastikan bahwa aku baik baik saja mendengar segala pengakuannya " Tetapi kami tetap menjalin hubungan diam diam sampai pendidikan kami selesai. Saya memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan berkarier disini. Dan Devi masih betah di singapura karena keluarganya memang berada disana. Semenjak itu kami lost contact. Devi sendiri yang memutuskan hubungan denganku , dengan alasan dia di jodohkan dengan seorang lelaki. Semenjak itu aku memutuskan untuk menutup dalam dalam kisahku dengan Devi. Sampai akhirnya kamu hadir di hidupku dan kita menikah. Jujur , pernikahan kita adalah salah satu hal yang sangat aku benci di sepanjang hidupku. Hingga akhirnya aku melakukan kekhilafan yang mungkin semakin membuatmu menderita. Tetapi asal kamu tahu aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada buah hatiku. Sampai akhirnya aku sampai pada titik dimana aku juga jatuh cinta padamu. Setelah sekian lama lost contact, Devi hadir lagi di dalam hidupku Ia hadir dalam kondisi hamil. Itu ketika kamu baru saja melahirkan Aldy. Aku bertemu dengannya di Rs , tempat dimana kamu berjuang memberi kehidupan bayi mungil . Saat itu, Devi dalam kondisi mental yang down. Dia hamil dan tunangannya membatalkan pernikahan dengannya . Saat itu kami kembali dekat tentunya tanpa sepengatuhan darimu, orang tuanya meminta bantuan padaku untuk memulihkan kejiwaan Devi. Jika kamu tanya , apakah aku ada rasa ? Jawabannya ada , tetapi lebih ke iba. Selebihnya aku bisa membatasi diri. Sampai akhirnya anak itu lahir, dan dia terbiasa memanggilku papa. Sama seperti Aldy " Aku tertegun mendengar semua penuturan dari Mas Imron. Mengapa banyak hal dari suamiku, yang aku tak tahu. " Dan kesalahanku adalah, membiasakan diri untuk selalu ada untuknya . Aku lupa jika cinta bisa datang karena terbiasa. Devi sembuh dari luka jiwanya dan kembali menaruh harap padaku. Ia begitu ambisius sehingga ia menentang banyak hal yang seharusnya tak boleh ia langgar. Termasuk menerima takdirku bahwa aku sudah beristri. Berulang kali aku jelaskan jika aku tidak bisa kembali padanya. Ya meskipun aku tidak memilihmu untuk ada di dalam hidupku, tetapi aku bukanlah pria b******k yang dengan mudah mempermainkan ikrar cinta. Jika kamu bertanya, lalu untuk apa aku selalu ada untuk Devi ? Apakah aku tidak takut cinta itu tumbuh seiring berjalannya waktu ? Tentu saja jawabannya tidak, karena aku mempunyai cinta yang begitu kuat. Yang akan selalu ada untukku meski kadang aku tak menyadarinya. Maka , mulai hari ini tolong jangan pernah tinggalkan aku dalam apapun kondisinya. Karena kamu adalah kekuatanku Mari jalani bersama. Mari kita buktikan pada Devi ataupun pada semua jika cinta kita yang kuat, cinta kita yang akan menang. Berjanjilah padaku Anita " ucapnya dengan tegas. Dan aku mengiyakan semua permintaanya. Ku peluk erat dirinya Ku tumpahkan segala rasaku di dalam pelukannya. Aku merasa menjadi wanita beruntung yang akhirnya di pilih oleh lelaki sekuat Mas Imron. Aku merasa menjadi wanita beruntung karena telah unggul memenangkan hati Mas Imron " Anita, besok aku akan membawamu bertemu Devi dan putranya " " Untuk ? " Aku pun memicingkan mata dengan ajakan Mas Imron " Agar kamu mengenal Elzio. Dan supaya Devi pun tahu bahwa aku punya kamu . Aku milikmu dan Devi tidak bisa seenaknya memaksaku untuk selalu berada di sampingnya " ucapnya kemudian Ia menitihku ke dalam kamar dan kami pun berbaring bersama Menghabiskan malam yang begitu panjang ** Aku menjalani aktivitasku seperti biasa sebagai pengajar. Langkahku terasa ringan. Satu beban di hidupku hilang sudah. Kini dengan pasti aku mengerti bahwa Mas Imron benar benar mencintai aku Drrrt drrrt Tiba tiba ponselku berbunyi Saat ku lihat ternyata Mas Imron menelfonku. Dengan segera aku menerima panggilan darinya " Hallo " jawabku " Nanti aku jemput ya " jawabnya di seberang sana " Iya .. iyaaa say.. say .. ang " mengucapkan sayang secara langsung pada Mas Imron bukanlah hal yang biasa ku lakukan. Tetapi mulai hari ini aku harus terbiasa memanggilnya sayang " Apa Nita ? " Ucapnya lagi " Sayang " jawabku dengan gugup " Sayang juga " ucapnya kemudian menutup sambungan telfon Duh .. jika tidak di tempat yang banyak orang Rasanya aku ingin lonjak lonjak sangking girangnya. Si es batu sudah mencair , batinku sambil terkekeh Tidak pernah ku bayangkan akan seindah ini rasanya jatuh cinta. Mencintai kemudian dicintai ku kira adalah hal yang rumit. Tetapi semua di patahkan hanya dengan dua kata - saling menerima. Menerima segala kekurangan pasangan, dan bersyukur dengan segala kelebihan pasangan. Semoga saja takdirku tetap selalu bersamamu, Mas. Jarum jam menunjukan pukul 14.00 Lonceng pun sudah berbunyi dan para siswa satu persatu telah meninggalkan sekolah Setelah menyelesaikan segala berkasku , aku pun bersiap menunggu jemputan dari Mas Imron Tak berselang lama deruh mobil Mas Imron terdengar jelas di telingaku. Segera aku bangkit dan menuju mobil Mas Imron Ku buka pintu mobil dan dengan senyum yang merekah Mas imron memyambutku. Tak menunggu waktu lama, dia segera menginjak pedal gas dan menuju ke Rs tempat Elzio di rawat. Dan tak lupa kami mampir untuk membawakan Elzio buah tangan. Aku mengikuti langkah Mas Imron melewati koridor koridor menuju ruangan Elzio terbaring . Tanpa terlepas sedikitpun dengan mantap ia menggandeng tanganku. " Imron " sapa lelaki setengah baya yang secara tiba tiba muncul di hadapan kami Dapat ku tebak jika lelaki itu adalah ayah Devi. " Pa. Disini juga ? " Sapa Mas Imron " Ya " jawabnya singkat sambil melirik ke arahku " Oh ya kenalin, ini Anita. Istri saya " ucapnya memperkenalkan diriku pada Papa Devi " Hai om, aku Anita " sapaku sembari mengulurkan tangan. Tetapi dengan sombongnya, lelaki itu tak menerima uluran tanganku " Ya sudah . Saya tinggal " jawabnya kemudian berlalu Mas Imron tetap menggandeng tanganku dan tibalah di ruangan yang di tuju. Ku lihat Devi berada disana , tengah menunggui Elzio . Melihat kedatangan Mas Imron denganku . Raut wajah Devi yang semula tersenyum tiba tiba terlihat sangat tak suka . Ku taruh buah tangan di atas meja yang tepat berada disisi Elzio Ku pandangi wajah teduh Elzio yang rupanya tengah tertidur pulas. Wajahnya sangat tampan . Tak heran, sebab Ia mempunyai Ibu yang sangat cantik pula. " Bagaimana perkembangan kondisi Zio " tanya Mas Imron memecah kecanggungan yang tercipta " Trombositnya mulai naik. Semoga segera normal " jawab Devi seadanya " Syukurlah " ucap Mas Imron . " Semoga anak kamu cepat sembuh ya " ucapku kemudian " Makasih Mbak " jawabnya dengan ketus. Tak berselang lama Elzio pun terbangun, ia nampak mengerjapkan matanya. Kemudian ia tersenyum mendapati Mas Imron berada disini . Dengan lembut Mas Imron membelai rambut Elzio . Mas Imron terlihat sangat mencintai Elzio Ada sedikit rasa cemburu yang menjalar di hatiku namun segera ku tepis. Biar bagaimanapun tetap aku dan Aldy lah yang berhak atas kasih dan sayangnya Mas Imron " Papi " ucap Elzio memanggil Mas Imron " Sudah enakan nak " tanya Mas Imron kemudian " Lumayan Pi. Tante itu siapa ? " Tanyanya mengarah padaku " Ini tante Anita " ucap Mas Imron " Hai Elzio ganteng. Cepat sembuh ya biar bisa main main lagi " ucapku " Terimakasih tante " ucapnya kemudian Dan kami pun terlibat obrolan yang seru. Elzio adalah tipe anak yang ramah sehingga ia cepat akrab dengan orang baru. " Oh ya toilet sebelah mana ya " tanyaku pada Mas Imron " Oh itu samping lift. Mau aku antar " jawab Mas Imron " Oh enggak. Aku bisa sendiri " jawabku Dengan tergesah aku menuju ke toilet, setelah menuntaskan hasratku Aku pun segera keluar. Ku rapikan sedikit bajuku agar tak terlihat kusut. Rupanya Devi pun berada disini, dengan tatapan kebencian, ia menatapku " Punya nyali juga ya Mbak kesini " ucapnya " Aku kesini, karena Mas Imron yang memintaku " jawabku " Mbak. Jangan berharap banyak bisa memenagkan hati Mas Imron " ancamnya padaku. " Harusnya kamu yang jangan berharap banyak pada Mas Imron. Kamu tahu? aku dan Mas Imron terikat pernikahan dan pernikahan kami tak bisa di permainkan " ucapku dengan tegas Dia tersenyum kecut, seakan menyepelekan ucapanku " Mbak memang terikat pernikahan dengan Mas Imron. Tetapi aku dan Mas Imron terikat masa lalu yang tak akan pernah usai " ucapnya dengan emosi kemudian berlalu Aku hanya geleng geleng kepala dengan kelakuan Devi. Tidak mungkin ada kisah yang belum usai sedangkan Mas Imron saja secara sadar mengakhirinya. Seperti yang di katakan Mas Imron, aku akan dengan kuat mencintainya sehingga tak ada seorang pun yang akan meragukan kekuatan cintaku dan Mas Imron. Segera aku keluar dari toilet dan menuju ruangan Elzio, dari jauh nampak seseorang yang aku pun mengenalinya Mas Hendra ? Ada apa dia disini. Aku ingin menyapanya namun tiba tiba suaraku terhenti sesaat ku lihat ia memasuki ruangan yang sama tempat dimana Elzio di rawat. Apakah Mas Hendra, Elzio dan Devi saling mengenal ? Apakah Mas Imron juga saling mengenal ? Tetapi kejadian di supermarket tempo lalu tak menunjukan sesuatu jika Mas Hendra dan Mas Imron saling mengenal
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN