Dengan perlahan aku mengikuti langkah kaki Mas Hendra.
Aku pun berniat untuk masuk ke ruangan tersebut
Tetapi tiba tiba
" Anita " sapa wanita yang berdiri tepat di depanku.
" Sekar " ucapku .
Dan tiba tiba dia memelukku.
" Duh kangen banget " ucapnya lagi
" Uh sama " balasku
Sekar adalah sahabatku semasa kuliah . Namun semenjak hari kelulusan itu , aku tak mengetahui ia kini berada dimana
" Ngobrol yuk di kantin " ajaknya dan aku pun menurutinya.
Ku urungkan niatku untuk bergabung bersama mereka di ruangan Elzio.
Sekar memesankan dua minuman
Yang satu untukku, dan satu untuknya
" Lo apa kabar ? " Tanyanya kemudian
" Baik. Lo sendiri ? Lo dimana sekarang ? Tanyaku
" Baik . Gue di makassar Nit. Cuma sekarang bokap gue lagi sakit jadi gue pulang "
" Bokap lo ? "
" Iya, bokap gue. Lo pasti kaget gimana akhirnya gue bisa peduli sama bokap gue setelah dia membuang gue sama nyokap "
Ya memang ku tahu Papa sekar menikah lagi dan menelantarkan Mama dan sekar
" Dia kena karma . Duitnya habis di ambil sama selingkuhannya itu. Selingkuhannya kabur Dia syok dan akhirnya sakit sekarang dia kena stroke . Gue anak satu satunya mau gak mau , gue harus rawat.
Gue hanya menjalankan amanah mendiang nyokap, seburuk apapun bokap dia tetap ayah gue" ucapnya kemudian
" Nyokap lo ? "
" Ya nyokap gue meninggal tiga tahun yang lalu "
" Gue turut berduka cita ya "
" It's okay. By the way lo tinggal dimana ? "
" Di salah satu perumahan di kota ini "
" Oh ya . Wah kapan kapan boleh dong gue mampir kerumah lo "
" Wah boleh banget . Pintu rumah gue terbuka lebar untuk menyambut lo "
" Anak lo berapa ? "
" Masih satu nih. Lo ?
" Dua dong gue. Lo buruan nambah "
" Santai aja gue sih"
Dan kami pun ngobrol bersama untuk menanyakan kabar kita masing masing.
Ditengah bicaranya , tiba tiba Sekar diam seperti melihat sesuatu
" He he " ku coba melambaikan tanganku di depan matanya , namun ia sama sekali gak berkedip
" Nit lihat deh di ujung situ. Itu bukannya Hendra ? " Ucapnya sambil menunjuk pria yang berada di sudut ruangan kantin ini
Ya benar pria berkaos putih tersebut memang Hendra.
" Iya, memang gue udah sering ketemu dia disini " ucapku datar
" Hah serius lo ? Lalu gimana kabar hatimu " ucapnya dengan wajah yang terkejut
" Biasa aja kali, gue udah punya keluarga dan dia pun udah bahagia sama keluarganya juga " ucapku seraya menyeruput minuman yang ada di hadapanku.
Dan ternyata Mas Hendra pun melihat aku dan Sekar berada disini. Dengan langkah pasti dan senyum yang mengembang, Ia pun menghampiri kami
" Anita " ucapnya menyapaku dan aku tersenyum menanggapi sapaannya
Ia kemudian menoleh ke arah Sekar yang berada di depanku. Ia seperti mengingat sesuatu
" Sekar " jawab Sekar sebelum Mas Hendra sempat menebaknya
" Sory Sekar gue lupa lupa ingat " jawabnya dengan tangan yang disilangkan di depan dada
" Yang lu ingat cuma Anita. Udah sini duduk " ucap Sekar dan Mas hendra pun segera menerima tawaran sekar.
" Lo sekarang disini, seinget gue lo pindah ke Makassar bukan sih " tanya Mas Hendra pada Sekar
" Iya memang, kebetulan bokap gue sakit dan dirawat disini . Jadi gue pulang kesini " ucap Sekar menjelaskan.
" Lo disini. Memang siapa yang dirawat disini ?" Tanya Sekar kemudian
Drrrt Drrrt
Tiba tiba ponselku berbunyi, dan aku pun meminta izin kepada Sekar dan Hendra untuk menerima panggilan
" Ya Mas "
" Kamu dimana ? " Tanya Mas Imron
" Di kantin Mas " jawabku
" Ya sudah, aku kesana" ucapnya kemudian mengakhiri sambungan telfonnya
Aku pun kembali bergabung bersama Hendra dan Sekar. Dan kami pun saling bercerita tentang Masa Masa kita dahulu ketika menempuh pendidikan.
Mas Imron tiba tiba berdiri di hadapanku , dan menatap sinis ke arah Mas Hendra. Begitu pun Mas Hendra yang membalas sinis tatapan Mas Imron.
Mas Imron mengajakku untuk pulang, dan aku pun berpamitan pada Mas Hendra dan Sekar.
" Aku gak suka kamu dekat dekat dengan lelaki itu " ucap Mas Hendra memecah keheningan.
" Apa sih Mas. Aku dan Mas Hendra hanya sebatas teman. Lagian aku juga udah punya kamu " jawabku
" Ya tetap saja, aku gak suka lihat kamu dekat dekat sama pria yang gak baik " ucapnya kemudian
" Maksud kamu ? "
Apa yang dimaksud pria tidak baik oleh Mas Hendra. Seketika aku menoleh ke arah Mas Imron untuk meminta penjelasan.
Tetapi Mas Imron hanya diam, dan sepertinya tak ingin melanjutkan percakapan kami.
Mobil yang kami tumpangi tiba di kediaman Ibu.
Dan Aldy tampak sudah menyambutku, aku segera memeluk Aldy dan menghujaninya dengan ciuman. Mas imron pun melakukan hal yang sama denganku.
Setelah berpamitan pada Ibu, kami bertiga pun bergegas untuk pulang kerumah.
Sorot mata Aldy memancarkan kebahagiaan. Mungkin saja Ia merindukan kamarnya
Meskipun Aldy tak tahu apa yang terjadi antara aku dan Mas Imron. Tetapi aku yakin feeling dia begitu kuat.
Kami memutuskan untuk tidur bersama, Aldy memintaku untuk menyanyikan lagu anak anak kesukaannya. Dan tak lama Ia pun tertidur.
" Oh ya Mas .. tadi aku sempat lihat Mas Hendra masuk ke ruangan Elzio. Apakah kamu bertemu dengannya ? Kamu kenal sama Mas Hendra ? " Tanyaku pada Mas Imron
Tetapi bukannya jawaban yang aku peroleh, melainkan suara ngoroknya.
Ku tengok dia , dan ternyata benar ia sudah larut dalam mimpi indahnya.
Aku pun segera memejamkan mata, menyusul mereka bertemu di dalam mimpi.
**
" Pagi " ucap Mas Imron yang tiba tiba muncul mengagetkannku yang tengah memasak di dapur
" Hai pagi " jawabku.
Ku tengok jam di dinding menunjukan pukul 05.00 pagi , tumben jam segini sudah main main ke dapur. Batinku
Wajahnya nampak sumringah sekali, semenjak pengakuan Mas Imron waktu itu hubungan kami semakin membaik.
Dan aku pun menangkap banyak perubahan yang ada di diri Mas Imron.
Tak henti hentinya aku mengucap syukur, karena telah mengabulkan semua doa doaku.
" Aku bantuin sini "
Ucapnya kemudian. Mungkin ia merasa kasihan padaku yang harus menggoreng ikan dan memotong sayuran sekaligus.
" Emang bisa " tanyaku meragukan kemampuannya
" Boleh di lihat " ia pun segera mengambil Alih pisau yang berada di genggaman tanganku.
" Boleh juga nih " ucapku setelah melihat kepawaian Mas Imron memotong sayur
Dan dia hanya tersenyum bangga.
Makanan pun telah tersaji di atas meja. Lebih awal daripada biasanya, ya tentu ini semua tak lepas dari bantuan Mas Imron.
" Terima kasih " ucapku padanya
Cup
Dia mendaratkan ciumannya pada keningku, kemudian memelukku erat.
Dia kemudian menariku pada sofa yang tak jauh dari dapur.
Ia menjatuhkan seluruh tubuhnya pada sofa dan aku berada tepat di atasnya.
Ia mulai menelungkupkan seluruh wajahnya pada dadaku.
" Mamaaaaaa .. Mamaaaaa " teriakan Aldy.
Aku segera membenarkan posisi tubuhku dan mendekati sumber suara.
" Aldy, sudah bangun ? " Tanyaku
" Mama darimana ? " Tanyanya. Yang nampak heran karena aku tak berada di dapur
" Dari bersihkan ruang keluarga nak. " Jawabku
" Mandi yuk. Setelah ini kita kerumah Uti. Oh ya kata Uti besok Aldy mau daftar sekolah ya "
Dan Aldy mengangguk mengiyakan
" Pinter anak Mama, udah gede" ucapku seraya mengacak acak rambutnya .
Dengan langkah gontai ia pun menuju kamar mandi.
" Akhir pekan ini kita jalan jalan yuk. Ajak Uti sekalian " Ajak Mas Imron dan di sambut dengan sorak gembira dari Aldy.
" Kemana ? " Aku dan Aldy menanyakan pada Mas Imron secara bebarengan.
" Waaah pada penasaran dan gak sabar ya. Rahasia dong , kalian pasti suka. Terutama Aldy " jawab Mas Imron kemudian.
" Kenapa di rahasiakan sih Pa ? " Ucap Aldy protes
" Kejutan dong " jawab Mas Imron kemudian
**
Setelah mengantar Aldy ke rumah Ibu. Mas Imron mengantarkanku ke sekolah tempat aku mengajar.
" Eh Mas, emang kita mau kemana sih ? " Tanyaku yang tak kalah antusiasnya dengan Aldy.
" Kalau ku kasih tahu, gak kejutan dong " sanggah Mas Imron
" Sama aku main rahasian juga Mas " protesku
Dan dia hanya melirikku sekilas sambil tersenyum, kemudian kembali fokus pada jalanan.