Hari ini Mas Imron sengaja mengambil cuti untuk mengantarkan Aldy ke sekolah barunya. Tetapi tidak dengan aku, karena sedang ada ujian aku memutuskan untuk tidak ikut dengan Mas Imron.
" Bye Mama " ucap Aldy melambaikan tangannya
" Hati hati " ucapku dan mobil yang di kendarai Mas Imron pun melaju
Aku kembali menuju meja kerjaku, sebab sebentar lagi ujian akan segera di mulai.
**
Setelah ujian selesai, aku memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Ada rasa bersalah pada Aldy karena tidak ikut mengantarkan ke sekolah barunya.
Tetapi itulah Aldy, ia selalu memaafkan dan antusias bercerita tentang hari harinya.
Aku tersenyum mendengarkan cerita Aldy. Seseli aku mengangguk untuk menanggapinya.
Semoga saja sampai Aldy besar nanti, ia tetap menjadikan aku Rumah - tempat ia merasa aman dan nyaman berkeluh kesah.
" Kita beli peralatan sekolah yuk " ajakku pada Aldy
" Asik .. ayo Ma " serunya
" Uti ikut yuk, sama jalan jalan uti " tawarku pada Ibu.
" Gak usah. Kamu aja sama Aldy, Ibu mau di rumah saja " tolaknya dengan halus.
Aku pun segera memesan taksi online, sambil menunggu taksi online datang. Aku segera bersiap dan sedikit memoles wajahku.
Kami pun berpamitan pada Ibu dan segera menuju pusat perbelanjaan.
Aldy adalah putraku yang sangat antusias dalam menjalani apapun. Ia sangat bersemangat menjalani aktivitas baru.
Aku bersyukur sekali memiliki Aldy di dalam hidupku.
Aldy sangat menyukai karakter Spider-Man sehingga Ia pun memilih tas bergambar Spider-Man.
Setelah ke itu kami menuju ke salah satu brand yang menjual sepatu anak sekolah.
Pramuniaga disana segera menghampiri kami dan mencarikan kebutuhan kami. Lama memilih, akhirnya Aldy menemukan sepatu yang ia sukai.
Selanjutnya kami menuju toko buku.
Aku membelikan beberapa alat tulis untuknya. Dan dia izin untuk mencari buku favoritnya.
" Hati hati. Jangan lama lama ya "
Ucapku memberi pesan kepada Aldy.
Duh tempat pensil ini bagus, semoga Aldy suka.
Aku dengan cepat mengambil tempat pensil bergambar Spongebob tersebut. Tetapi ada tangan lain yang rupanya akan mengambil tempat pensil itu, dan tangan kami saling bertemu.
Ku tengok siapakah pemilik tangan itu, dan aku cukup terkejut melihatnya.
" Mas hendra " sapaku
" Anita " jawabnya.
Dan mungkin Ia juga sama terkejutnya denganku.
" Silahkan " Ia menyerahkan kotak pensil itu kepadaku.
" Untuk Mas saja, aku bisa cari yang lain " ucapku menyanggah.
" Oh tidak . Ini untukmu " ucapnya memaksa dan langsung menaruhnya pada keranjang belanjaanku.
" Oh thanks " ucapku dan dia tersenyum menanggapinya.
" Sendirian Mas ? " Tanyaku.
" Oh iya , kalau kamu ? " Tanyanya balik.
" Sama Aldy sih. Tapi dia lagi cari komik favoritnya " jawabku
" Oh ya ya " ucapnya manggut-manggut
" Kayaknya belanjaan kita sama ya Mas " ucapku sambil melirik barang belanjaannya.
" Oh ya . Musim anak masuk sekolah ini " ucapnya pun terkekeh.
Dapat ku lihat Mas Hendra ini, tipe Bapak yang sangat bertanggung jawab.
Beberapa kali aku memergokinya sedang membelikan kebutuhan anaknya sendiri.
Sesuatu yang tidak mungkin di lakukan oleh Mas Imron.
Tetapi aku pun tak ingin membandingkan, bagiku sosok Mas Imron pun sudah cukup bertanggung jawab dan sayang kepada Aldy.
Aldy tiba tiba muncul dari belakangku dan membawa serta beberapa komik lalu memasukan ke dalam keranjang bawaanku.
" Sudah selesai belanjanya ? Oh ya kenalin ini Om Hendra " ucapku pada Aldy
" Hai Om. Aku Aldy " ucapnya kemudian menyalami Hendra.
" Ganteng banget " ucap Mas Hendra.
" Terimakasih Om " jawab Aldy.
" Oh ya Aldy pasti lapar kan ? Om traktir nih makan di Kfc. Aldy suka kan ? "
" Oh tidak tidak. Tidak usah repot repot " ucapku dengan sungkan sungkan
" Tidak merepotkan Anita. Tenang saja " sanggah Mas Hendra.
Setelah kami membayar belanjaan kami masing masing. Mas Hendra pun mengajak kami untuk makan di restoran masak saji itu.
Aldy tentu saja suka, anak kecil mana yang tak menyukainya.
Setelah Mas Hendra datang dengan bakih yang berisikan pesananya kami pun mulai makan dengan obrolan santai.
Setelah segala urusan sudah selesai aku pun berpamitan untuk pulang.
" Kalian naik apa ? " Tanya Mas Hendra
" Taksi online Mas " jawabku
" Sudah, saya antar saja " ucapnya lagi
" Tidak Mas. Bukannya kita gak sejalan, Mas Hendra putarnya jauh " ucapku menolak dengan halus permintaanya.
" Gak papalah. Sekalian jalan jalan . Sudah tunggu di lobby pintu utama . Saya ambil mobil ini " ucapnya lagi
" Gak usah Mas " tolakku
" Santai aja " ucapnya kemudiam berlalu.
" Om itu baik ya Ma " ucap Aldy setelah kepergian Mas Imron.
" Aldy juga jadi orang yang baik ya, meskipun nanti ada orang jahat yang sama Aldy. Tetapi Aldy harus tetap membalas dengan kebaikan " pesanku pada Aldy dan dia pun mengangguk.
**
" Ayo Mampir dulu " tawarku pada Mas Hendra
" Sudah berapa lama ya saya gak berkunjung kemari, rasanya sudah banyak yang berubah " ucapnya sambil terus melihat ke sekitar rumah Ibu
" Mangkanya ayok mampir " ajakku dan ia pun mengiyakan.
Ibu sudah menyambut kami di depan pintu. Ia ternganga melihat kehadiran Mas Hendra disini.
Mas Hendra langsung menyalami Ibu.
" Bu. Masih ingatkah dengan saya " tanya Mas Hendra
" Hendra ? " Tanya Ibu
" Ibu sehat ? " Tanya Mas Hendra
" Alhamdulillah sehat. Ayo masuk masuk " ucap Ibu mempersilahkan.
Aldy segera berlari menuju kamar dengan semua barang barang belanjaannya.
Aku membuatkan teh dan sedikit cemilan untuk Mas Hendra.
Tak lama aku pun kembali bergabung dengan Ibu dan Mas Hendra.
Dengan lugas, Mas Hendra menceritakan beberapa kali pertemuan kami. Dan Ibu nampak asik menanggapinya.
Dahulu Mas Hendra sering sekali bermain kemari dan ibu pun sudah menganggap Mas Hendra seperti anak sendiri.
Namun kemudian Mas Hendra tiba tiba menghilang, dan kini takdir kembali mempertemukan kami.
Ibu rupanya sangat merindukan Mas Hendra. Mas Hendra memang sosok lelaki yang sangat sopan bahkan dia tak segan segan membantu Ibu menyelesaikan pekerjaannya.
Dahulu Ibu, menerima catering ntah roti atau nasi. Bahkan ada beberapa kue buatan Ibu yang di titipkan ke warung warung.
Mas Hendra tidak sungkan untuk membantu Ibu mengantarkan beberapa pesanannya kepada pelanggan.
Itulah sebabnya Ibu dan Mas Hendra dahulu cukup dekat.
Beberapa kali Ibu menanyakan tentang hubungan kami. Tapi memang sejak dahulu aku tak ada hubungan apa apa dengan Mas Hendra. Hubungan kami lebih nyaman berada di posisi sebagai kakak adik.
Meskipun kelihatannya seperti mustahil jika salah satu di antara kami tak memiliki perasaan khusus.
Berulang kali aku menyanggah semua perasaanku, karena takut jika kedepannya akan merusak hubunganku dengan Mas Hendra yang selama ini sudah terjalin.
Mungkin begitu pula yang di fikirkan oleh Mas Hendra.
" Assalamualaikum " Ucap Mas Imron dengan tegas dan menatap tajam ke arah Mas Hendra.