Kemana Mas Imron ?

1922 Kata
Mas Hendra terdiam dan secara tiba tiba Ia berpamitan untuk pulang. Mereka saling menatap tajam sebelum akhirnya Mas Hendra benar benar menjauh dari pandangan kami. Mas Imron terlihat benar benar tak suka dengan Mas Hendra. Ntah karena apa Mas Imron begitu membenci Mas Hendra. Mas Imron segera mengajakku dan Aldy untuk pulang. Dan kami pun berpamitan pada Ibu. ** Akhir pekan yang di nanti pun segera tiba. Aldy sangat semangat menyambutnya. Ia bahkan bercerita bahwa semalam tidak bisa tidur karena tidak sabar akan datangnya hari ini. Aku, Mas Imron dan Ibu pun terkekeh mendengar cerita Aldy. Sepanjang perjalanan menuju puncak, Aldy begitu takjub melihat hamparan sawah yang menguning terkena pantulan sinar matahari Burung burung seirama seakan menyambut kami. Hingga akhirnya tibalah kami di sebuah salah satu penginapan . Penginapan disini cukup unik, seluruh dindingnya terbuat dari kaca transparan dan di balik sana terdapat berbagai macam binatang. Satu persatu Aldy menyebut nama binatang tersebut. Sambil menunggu Mas Imron untuk check in. Tak berselang lama, kami di giring untuk menempati kamar kami. Tentu saja Mas Imron memesan 2 kamar. Segera kami menaruh barang barang kami di dalam kamar. Kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta satwa yang sudah di sediakan oleh pihak hotel. Aldy begitu menikmati liburannya kali ini. Dan kereta kami pun berakhir di sebuah restaurant. Segera kami memesan menu yang kita inginkan. Kebahagiaan terpancar dari wajah kami, terutama Ibu. Beberapa kali Ibu ku dapati sedang mengusap belir bening yang mengembun di pelupuk matanya. Ku tahu, Ibu pasti bersyukur karena akhirnya aku mendapatkan perlakuan yang layak dari suamiku. Ibu adalah saksi betapa kerasnya aku mempertahankan rumah tanggaku. Tak terasa waktu menunjukan pukul 15.00. kami memutuskan untuk ke kamar hotel untuk beristirahat. Aldy memilih sekamar dengan Ibu. Dan aku berada sekamar dengan Mas Imron. Aku segera membersihkan diri, tetapi Mas Imron mengikuti langkahku. Dan kami pun membersihkan diri bersama. Kami terbangun ketika hari sudah cukup gelap, ku lihat jam di ponsel menunjukan pukul 19.00 wib Bergegas aku merapikan diri dan membangunkan Mas Imron Ku ambil ponselku dan ku lakukan panggilan ke nomer ponsel Ibu " Hallo Anita " sapa Ibu di seberang sana. Suara Ibu terdengar tak terlalu jelas, sebab ada kebisingan disana. " Ibu dimana ? " Tanyaku " Apa Anita ? " Ucap Ibu yang tak mendengar ucapanku . Secara tiba tiba Ibu mematikan sambungan telfonku. Sedang dimana Ibu. Batinku Drrrt drrrt Tak lama masuklah pesan dari Ibu " Ibu lagi nemenin aldy nonton sirkus. Dan Ibu sudah makan . Tadi Ibu mengetok kamar kamu tapi gak ada jawaban" Begitulah kira kira pesan Ibu. Sangking enaknya tidur jadi gak dengar ada suara Ibu mengetuk pintu. Mas Imron keluar dari kamar mandi dan wangi sabunnya menguar di ruangan yang tak seberapa luas ini Dengan hanya berbalut handuk Mas Imron memelukku. " Mau lagi ? " Ucapnya dengan setengah berbisik. " Ih Mas . Aku lapar " ucapku " Kita turun ya " ucapnya kemudian memakai pakaiannya dengan rapi Setelah di rasa siap. Kami pun menuju restauran untuk mengisi perut. Di tengah tengah aktivitas makan kami. Tiba tiba dering ponsel Mas Imron berbunyi Mas Imron izin padaku untuk mengangkat telfonnya. Tak berselang lama , ia pun kembali namun bukan untuk melanjutkan aktivitas makan kami melainkan Ia izin untuk bertemu dengan temannya yang kebetulan berada disini juga. " Aku ikut " rengekku " Gak usah. Disini saja, aku tak kan lama" ucapnya mencium keningku dan kemudian melangkah pergi. Feelingku mengatakan jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Mas Imron. Aku pun memutuskan untuk mengikuti jejak kaki Mas Imron. Mas Imron menuju hotel, tetapi bukan kamar kami yang ia tuju . Tetapi kamar lain. Setelah mengetuk pintu, tak berselang lama sang penghuni kamar pun membukakan pintu. Devi ? Ia berada disini juga ? Ia secara spontan memeluk Mas Imron , dan Mas Imron dengan lembut membelai rambut Devi. Hingga akhirnya mereka pun masuk ke dalam kamar dan menutup rapat pintu kamar. Air mataku jatuh mengalir begitu saja. Aku begitu terkejut melihat pemandangan di depan mataku. Mas Imron telah membohongi aku, nyatanya ia memang bermain belakang dengan Devi. Membayangkan sepasang lelaki dan perempuan berada di dalam kamar berdua, apa yang mereka lakukan. Seketika aku jijik dengan Mas Imron. Aku putuskan untuk berlari ke kamarku. Dengan air mata yang semakin deras mengalir. Namun Bugh Aku terhuyung, untung saja pria itu dengan cepat menangkap tubuhku. " Mas Hendra " ucapku Aku segera membenarkan posisi tubuhku. " Kamu kenapa ? " Tanyanya. Tetapi aku segera berlari begitu saja meninggalkan dia. " Anita " Mas Hendra memanggil namaku. Tetapi ku hiraukan. Dunia sempit sekali, secara kebetulan aku bertemu dengan dua orang itu, disini. Ku tutup rapat pintu kamarku dan aku meraung dengan keras meluapkan segala isi hatiku Ku siram seluruh tubuhku dengan air. Ada sakit yang teramat menyiksa hatiku. Mas Imron kenapa dengan tega mengkhianati ku. Setelah apa yang dia ucapkan padaku . Janji janjinya seperti angin lalu Ya seharusnya aku tak gampang percaya dan terbuai dengan semua omong manisnya. Dia tetaplah dia. Seseorang yang tak bisa sepenuh hati mencintaiku Ada ruang kosong yang memang sengaja ia ciptakan untuk di huni oleh Devi. ** Jarum jam menunjukan pukul 20.00 sudah 4 jam ia disana bersama Devi. Waktu yang ia bilang sebentar itu . Bahkan ia sama sekali tak berniat mengabari aku. Semesta mengizinkan aku untuk tahu lebih awal, dengan siapa Mas Imron menghabiskan waktunya. Ceklek! Handle pintu tiba tiba terbuka dan Mas Imron pun muncul di baliknya Dengan seuntas senyum , ia menghampiriku Dengan cepat aku menanyakan. " Darimana kamu ? " Tanyaku dengan ketus Mas Imron tampak gelagapan menjawab pertanyaanku. Tentu saja Mas teman siapa yang bakal menjadi kambing hitammu. Sedangkan kamu tak bertemu dengan siapa siapa melainkan, Devi. " Klien . Tiba tiba berada disini " jawabnya gugup " Untung saja aku memutuskan kemari. Jika aku ikuti perkataanmu yang katanya sebentar mungkin aku sudah berubah jadi jamur di restaurant " Di acak acaknya rambutku, dan ia bersiap mendaratkan ciumannya padaku Namun secepat kilat aku menghindarinya " Bau ya " ucapnya seraya mencium tubuhnya. " Baiklah, aku mandi dulu " ucapnya dan bergegas masuk ke kamar mandi. Di taruhnya gawainya di ranjang. Setelah ku pastikan ia benar benar masuk ke kamar mandi Ku beranikan diri untuk membuka ponselnya, sesuatu yang dahulu tak pernah aku lakukan. Aku yakin ada informasi yang aku dapatnya disana. Aku ingin tahu sejauh apa hubungan mereka berdua. Ku buka menu w******p . Ada nomer tak di kenal di history chat bagian atas dan profil nomer tersebut Devi dengan lelaki. Segera ku klik untuk memastikan siapa lelaki yang berada di samping Devi. Dan benar ternyata Mas Imron. Mereka nampak seperti sepasang kekasih. Begitu mesra. Meskipun Mas Imron terlihat kaku, ya memang seperti itu pembawaan diri Mas Imron. Kalau di lihat dari background foto tersebut, tampaknya ini foto di ambil disini. Apa memang Mas Imron sengaja mengajakku dan Devi untuk berlibur disini ? Keterlaluan sekali Mas Imron. Ku klik pesan tersebut dan berisikan banyak foto mesra mereka berdua. Ku putuskan untuk menutup saja history chat tersebut. Rasanya tidak kuat aku menyaksikan beragam pose mesra mereka Ku taruh kembali gawai Mas Imron di tempat semula. Aku harus berusaha membendung air mata yang dengan lancang mencoba keluar. Ku berjalan menuju balkon menghirup udara segar. Ku hembuskan nafas dengan berat. Sesekali mencoba menahan bulir bening yang sudah mengembun di pelupuk mataku. Mas Imron kini sudah berada tepat di sampingku, ia memandangku dengan tatapan yang tajam. " Kamu menangis Anita " Tanyanya. " Enggak Mas " ucapku menghapus belir bening di pelupuk mataku " Aku tahu kamu berbohong " ucapnya sambil terus menyoroti mataku " Aku capek. Aku mau istirahat " ucapku kemudian membaringkan diri dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Mas Imron mencoba mendekatiku tapi dengan cepat ku tepis " Aku capek Mas " ucapku dan dia bergeser menjauh dariku. ** Aku terbangun dan ku dapati Aldy sudah berada di sampingku. Sejak kapan Aldy berada disini. Ku belai lembut rambutnya dan ku cium keningnya. Ia hanya menggeliat tanpa terbangun Ku peluk dia. Dan aku kembali tertidur dengan memeluk Aldy. Saat ku terbangun ternyata jam sudah menunjukan pukul 07.00 pagi Mas Imron sudah tidak ada di samping Aldy. Kemana dia pergi ? Apakah dia pergi ke kamar Devi ? Pikiran buruk terus menari-nari di dalam otakku. Bagaimana bisa ku tepis, sedangkan kenyataan itu ada tepat di depan mata. Aku melihatnya jelas dengan mata kepalaku sendiri. " Mama " Aldy menarik bajuku, saat aku hendak beranjak ke toilet. " Selamat pagi anak Mama, sudah bangun sayang ? " Ucapku membelainya " Papa kemana ? " Ucapnya menoleh ke arah papanya. " Mungkin lagi cari udara segar " Jawabku dengan senyum yang mengembang. " Mama ke toilet sebentar ya " pamitku pada Aldy Tok tok tok Langkahku ke toilet terhenti karena aku harus membukakan pintu dan melihat siapa gerangan yang mengetuk pintu kamarku. " Ibu. Masuk Bu " ucapku pada Ibu " Uti kesepian nih di tinggal Aldy tidur sama Mama " ucap Uti pada Aldy " Anita ke toilet dulu Bu " ucapku pada Ibu ** Kami memutuskan sarapan bertiga, setelah beberapa panggilan ku ke gawai Mas Imron dan mendapat respon. Ya .. tentu saja Ia tidak mau di ganggu, dia kan sedang bersama Devi. Setelah selesai sarapan. Kami pun memutuskan untuk berenang. Tetapi Aldy memilih berenang dengan Ibu . Sedangkan aku daripada diam saja , aku pun memutuskan untuk ke minimarket. Ku ambil beberapa barang yang memang aku perlu. Aku berkeliling sejenak melihat pusat oleh oleh yang berada disini . Tanganku dengan cekatan melihat berbagai macam pernak pernik yang di jual. Lumayan juga. Batinku Setelah ku bayar, aku menuju kamar untuk menaruh belanjaanku. Kemudian kembali ke kolam renang untuk menemui Ibu dan Aldy. Tetapi ku lihat Aldy begitu asik bermain air dengan Ibu. Ku urungkan niatku untuk menyusul mereka. Dan terlintas di benakku untuk kembali menghubungi Mas Imron Matahari sedang terik teriknya. Tetapi Mas Imron masih saja tak nampak batang hidungnya. Kemana dia ? Pikiran buruk tiba tiba muncul. Bagaimana jika kenapa napa dengan Mas Imron, sedangkan nomer ponselnya pun sekarang tak aktif. Aku harus mencari kemana ? Apakah aku harus menuju ke kamar tempat dimana Devi menginap ? Dengan ragu, aku berniat menuju ke kamar Devi. Ku tahu ini konyol. Bagaimana jika nanti yang ku dapatkan adalah sakit hati ? Apakah aku sudah siap ? Tetapi bukankah sakit hati merupakan hal yang sudah biasa ku rasakan. Setelah beberapa langkah, ku hentikan langkahku, kembali menimang nimang langkah apa yang harus aku ambil. Apakah membiarkan Mas Imron begitu saja atau berusaha mencari tahu ? Drrt drrrt Ponselku tiba tiba berbunyi. Awalnya aku berharap ini kabar dari Mas Imron tetapi ternyata bukan. Mas Hendra ? Ia kenapa ? Dia nginap disini juga ? Sejak kapan ? Mengapa bisa kebetulan begini ? Aku pun segera berlari menuju kamar Mas Hendra. Ku ketuk pintu kamar Mas Hendra. Tetapi tak mendapat jawaban Akhirnya ku putuskan untuk masuk saja tanpa permisi " Mas .. Mas " teriakku, namun tak mendapat jawaban dari siapapun " Mas . Kamu dimana ? " Teriakku lagi. Dan lagi lagi tak ada sedikitpun suara yang menyahuti Kamar ini seperti tak bertuan. Masih sangat rapi. Ku pencet nomer yang tadi mengirimkan pesan padaku. Aku berniat menghubunginya kembali. Seseorang tiba-tiba muncul dari balik kamar mandi. Ia bertelanjang d**a dan hanya menggunakan handuk " Aaaah " pekikku Yang kemudian terhuyung dan jatuh di ranjang yang tepat berada di belakangku. Ku tutup kedua mataku dengan telapak tanganku. Brakkkkkk Pintu kamar seketika terbuka. Dengan tangan yang mengepal dan wajah yang memerah Mas Imron menatapku dengan tajam. Sesaat kemudian ia menatap seseorang yang berada tepat di depanku, yaitu Mas Hendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN